Ustadz Suparman Abdul Karim Ungkap 5 Manfaat Diskusi Nasab Ba’alwi, Singgung Sejarah NU hingga Politik

Ustadz Suparman Abdul Karim Jelaskan Alasan Diskusi Nasab Ba’alwi Dinilai Penting, Singgung Sejarah, Politik, dan Pendidikan
Warta Batavia – LAMPUNG – Ustadz Suparman Abdul Karim menyampaikan pandangannya mengenai manfaat diskusi seputar polemik nasab Ba’alwi dalam sebuah ceramah yang beredar di media sosial. Dalam pemaparannya, ia menilai pembahasan mengenai nasab tidak hanya berkaitan dengan silsilah keluarga, tetapi juga memiliki kaitan dengan sejarah, pendidikan, kehidupan beragama, hingga dinamika sosial di Indonesia.
Menurut Suparman, masih terdapat sebagian masyarakat yang mempertanyakan manfaat diskusi mengenai nasab. Ia menyebut terdapat dua kemungkinan penyebab munculnya pertanyaan tersebut, yakni karena belum memahami persoalan yang sedang diperdebatkan atau karena memiliki pandangan berbeda terhadap kajian tersebut.
Diskusi Nasab Disebut Berkaitan dengan Pelurusan Sejarah
Dalam ceramahnya, Suparman mengatakan bahwa salah satu alasan ia menganggap diskusi mengenai nasab penting adalah karena berkaitan dengan narasi sejarah.
Ia mencontohkan adanya klaim mengenai sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang menurutnya perlu dikaji secara kritis. Suparman menyampaikan kekhawatirannya apabila narasi tertentu diterima secara luas tanpa kajian akademik yang memadai, maka generasi mendatang dapat memahami sejarah secara berbeda.
Menurutnya, pelurusan sejarah menjadi salah satu tujuan dari diskusi yang berkembang mengenai persoalan nasab. Ia juga menyebut adanya buku yang sempat menjadi perhatian publik dan dikaitkan dengan pembahasan tersebut.
Menyinggung Klaim terhadap Sejarah Bangsa Indonesia
Selain membahas sejarah organisasi, Suparman juga menyinggung berbagai klaim yang menurutnya berkembang mengenai sejarah bangsa Indonesia.
Dalam ceramahnya, ia menyatakan bahwa terdapat narasi yang mengaitkan sejumlah tokoh nasional, proses Islamisasi Nusantara, hingga berbagai peristiwa sejarah dengan kelompok Ba’alwi. Menurutnya, berbagai klaim tersebut perlu dikaji melalui pendekatan sejarah dan penelitian sehingga masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menilai pembahasan mengenai sejarah tidak boleh berhenti pada satu sumber saja, melainkan memerlukan penelitian yang terbuka terhadap berbagai referensi.
Soroti Perdebatan Mengenai Wali Songo
Dalam kesempatan tersebut, Suparman juga membahas polemik mengenai asal-usul Wali Songo.
Ia menyatakan bahwa menurut pandangannya, Wali Songo bukan berasal dari Hadramaut maupun Yaman. Selain itu, ia juga menyebut adanya pembahasan mengenai hasil penelitian DNA yang menurutnya menunjukkan perbedaan dengan kelompok Ba’alwi.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari pandangan yang disampaikan dalam ceramahnya dan masih menjadi bagian dari diskursus yang diperdebatkan di ruang publik.
Bahas Polemik Makam dan Sejarah Islam Nusantara
Suparman turut menyinggung isu mengenai makam-makam yang menurutnya tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.
Ia menyebut bahwa persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas ziarah ataupun aspek ekonomi, tetapi menurutnya juga berhubungan dengan narasi sejarah Islam di Nusantara.
Dalam ceramahnya, ia mengajak masyarakat untuk mencari berbagai referensi mengenai isu tersebut melalui berbagai sumber informasi yang tersedia agar dapat memahami perdebatan yang berkembang.
Menilai Kajian Nasab Berdampak terhadap Dinamika Politik
Suparman juga mengaitkan berkembangnya kajian nasab dengan dinamika politik.
Ia berpendapat bahwa setelah muncul berbagai kajian mengenai nasab, kelompok yang menurutnya sebelumnya mampu memobilisasi massa atas dasar klaim tertentu menjadi tidak lagi memiliki pengaruh seperti sebelumnya.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut nama KH Imaduddin Utsman Al-Bantani sebagai salah satu tokoh yang menurutnya berperan dalam berkembangnya diskusi mengenai nasab.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pribadi narasumber mengenai dampak sosial dan politik dari kajian yang berkembang.
Mengangkat Pengalaman Sejumlah Pesantren di Lampung
Dalam bagian lain ceramahnya, Suparman mengaku menerima informasi dari sejumlah pesantren di Lampung mengenai praktik yang disebutnya sebagai “pendawiran”.
Ia menyatakan bahwa sebelum polemik nasab berkembang, sejumlah pesantren mengaku pernah didatangi orang-orang yang mengatasnamakan keturunan Nabi untuk meminta bantuan.
Menurut Suparman, setelah diskusi mengenai nasab semakin meluas, praktik tersebut disebutnya mengalami penurunan secara signifikan. Pernyataan ini disampaikan sebagai pengalaman yang ia ceritakan dalam ceramahnya dan bukan hasil laporan penelitian independen.
Menyampaikan Pandangan Keagamaan Mengenai Nasab
Selain membahas aspek sejarah dan sosial, Suparman juga menyampaikan pandangan keagamaan mengenai pentingnya menjaga kemurnian nasab Rasulullah SAW.
Ia mengutip sejumlah literatur ulama yang menurutnya menekankan pentingnya penelitian terhadap setiap klaim keturunan Nabi agar masyarakat memperoleh kejelasan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa siapa pun yang mengaku sebagai keturunan Nabi seharusnya memiliki bukti yang jelas sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Sebut Lima Manfaat Diskusi Nasab Menurut Pandangannya
Pada bagian akhir ceramah, Suparman merangkum sejumlah manfaat yang menurutnya muncul dari diskusi mengenai nasab.
Ia menyebut sedikitnya lima poin utama, yaitu berkurangnya praktik yang ia sebut sebagai pendawiran, berkurangnya penggunaan klaim nasab dalam mobilisasi politik, terbukanya ruang untuk mengkaji kembali sejarah NU, meningkatnya perhatian terhadap sejarah bangsa Indonesia, serta upaya mencegah munculnya praktik yang menurutnya dapat menimbulkan feodalisme dalam kehidupan beragama.
Seluruh poin tersebut disampaikan sebagai pandangan pribadi narasumber dalam ceramahnya.
Penutup
Menutup ceramahnya, Ustadz Suparman Abdul Karim mengajak masyarakat untuk terus mempelajari sejarah Islam, sejarah bangsa, serta berbagai persoalan mengenai nasab melalui kajian yang menurutnya didasarkan pada data dan penelitian.
Ia juga mengimbau agar diskusi dilakukan dengan tetap menjaga adab, kesabaran, dan menghindari tindakan kekerasan maupun persekusi. Dalam pandangannya, pembahasan mengenai nasab merupakan bagian dari upaya menjaga kemuliaan nasab Rasulullah SAW sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarah yang berkembang di Indonesia.
