invisible hit counter
Nasional

AW Kertapati: Polemik Bukan Soal Nasab, tetapi Klaim Keturunan Rasulullah yang Disampaikan ke Publik

Warta BataviaAW Kertapati kembali menyampaikan pandangannya mengenai polemik klaim keturunan Rasulullah SAW yang menurutnya masih menjadi perbincangan di berbagai kalangan. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa fokus kritik yang disampaikan bersama sejumlah pihak bukan ditujukan kepada nasab seseorang, melainkan terhadap klaim yang dipublikasikan kepada masyarakat.

AW Kertapati mengatakan bahwa hingga saat ini masih terdapat kelompok yang menurutnya tetap mempertahankan klaim sebagai keturunan Rasulullah SAW. Ia menyebut persoalan tersebut terus menjadi perhatian sejumlah pegiat yang selama ini mengikuti diskursus mengenai isu nasab di Indonesia.

Menurut AW Kertapati, dirinya bersama sejumlah tokoh dan pemerhati tidak mempermasalahkan silsilah keluarga yang diyakini oleh kelompok tertentu apabila hal tersebut menjadi urusan internal mereka. Namun, ia menilai persoalan muncul ketika klaim tersebut disampaikan kepada masyarakat luas dan dijadikan identitas yang terus dipromosikan.

“Kita tidak mengurus nasab mereka. Yang menjadi persoalan adalah ketika klaim itu dibawa ke ruang publik sebagai keturunan Nabi,” demikian inti pernyataan yang disampaikan AW Kertapati dalam penjelasannya.

Menilai Fokus Diskusi Sering Bergeser

Dalam keterangannya, AW Kertapati juga menyoroti arah perdebatan yang menurutnya sering kali bergeser. Ia mengatakan bahwa ketika pihaknya mempertanyakan klaim yang disampaikan kepada publik, pembahasan justru diarahkan seolah-olah pihak yang mengkritik sedang mempersoalkan nasab seseorang.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat yang baru mengikuti isu ini menjadi salah memahami substansi pembahasan. Ia menilai narasi bahwa kritik tersebut merupakan bentuk pengurusan terhadap nasab pribadi telah berulang kali disampaikan sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah publik.

AW Kertapati menegaskan bahwa yang dipersoalkan bukanlah hubungan keturunan seseorang, melainkan dasar dari klaim yang menurutnya perlu dipertanggungjawabkan apabila disampaikan kepada masyarakat.

Soroti Pentingnya Diskusi Ilmiah

Selain membahas substansi polemik, AW Kertapati juga mengungkapkan pandangannya mengenai proses dialog. Ia berpendapat bahwa persoalan seperti ini seharusnya dapat dibahas melalui diskusi ilmiah maupun musyawarah.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa tradisi musyawarah merupakan bagian dari budaya masyarakat Nusantara yang menurutnya penting untuk dijaga dalam menyelesaikan perbedaan pendapat.

Ia juga mengaku menilai upaya berdialog mengenai persoalan tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangannya terhadap dinamika diskursus yang berkembang selama ini.

Menyinggung Aktivitas di Lapangan

AW Kertapati turut menyinggung informasi yang diperolehnya mengenai aktivitas sejumlah pihak yang menurutnya masih terus melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan masyarakat.

Ia menyebut pendekatan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan maupun sosial. Meski demikian, AW Kertapati menegaskan bahwa dirinya tidak memberikan komentar terhadap pelaksanaan ibadah ataupun kegiatan keagamaan yang dilakukan kelompok tersebut.

Menurutnya, fokus perhatian tetap berada pada persoalan klaim keturunan Rasulullah SAW yang dinilai masih terus disampaikan kepada masyarakat.

AW Kertapati mengatakan bahwa hingga saat ini masih terdapat kelompok yang menurutnya tetap mempertahankan klaim sebagai keturunan Rasulullah SAW

Sebut Sejumlah Tokoh yang Mengikuti Polemik

Dalam pemaparannya, AW Kertapati juga menyebut beberapa nama yang menurutnya selama ini turut mengikuti pembahasan mengenai isu klaim keturunan Rasulullah SAW. Ia mengatakan para tokoh tersebut memilih membahas persoalan berdasarkan data yang mereka miliki.

AW Kertapati berpendapat bahwa pembahasan mengenai isu tersebut sering kali berkembang menjadi polemik mengenai nasab, padahal menurutnya fokus utama seharusnya berada pada klaim yang disampaikan kepada publik.

Ia mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan antara membahas klaim publik dengan membahas silsilah pribadi seseorang.

Menyinggung Respons di Media Sosial

Dalam kesempatan yang sama, AW Kertapati menceritakan pengalamannya mengunggah sejumlah status dan konten di media sosial yang berkaitan dengan isu tersebut.

Ia menyebut unggahan tersebut mendapatkan ribuan komentar, ribuan tanda suka, puluhan kali dibagikan, serta ditonton oleh puluhan ribu pengguna media sosial.

Menurutnya, respons yang muncul dari warganet menunjukkan bahwa isu mengenai klaim keturunan Rasulullah SAW masih menjadi perhatian sebagian masyarakat.

AW Kertapati mengatakan dirinya sengaja membuat sejumlah unggahan untuk melihat respons yang diberikan oleh pihak-pihak yang selama ini berbeda pandangan dengannya.

Pandangan Mengenai Tradisi Musyawarah

Dalam penjelasannya, AW Kertapati juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya budaya musyawarah dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ia menilai masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

AW Kertapati mengaitkan pandangan tersebut dengan harapannya agar perbedaan pendapat mengenai isu klaim keturunan Rasulullah SAW dapat dibahas secara terbuka dan berdasarkan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Harapan kepada Masyarakat

Menjelang akhir keterangannya, AW Kertapati kembali menegaskan bahwa masyarakat diharapkan tidak mengalihkan pembahasan kepada persoalan nasab pribadi seseorang.

Ia mengatakan masyarakat perlu membedakan antara penghormatan terhadap individu dengan pembahasan mengenai klaim yang disampaikan di ruang publik.

Menurutnya, apabila suatu klaim dipublikasikan kepada masyarakat, maka klaim tersebut dapat menjadi bagian dari diskursus yang terbuka untuk dikaji maupun dipertanyakan.

AW Kertapati juga berharap semakin banyak masyarakat yang memahami perbedaan antara pembahasan mengenai nasab pribadi dengan pembahasan mengenai klaim yang menurutnya menjadi pokok persoalan dalam diskursus tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikannya sebagai penutup dari penjelasan mengenai pandangannya terhadap polemik yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi di berbagai platform media sosial dan komunitas masyarakat.

Referensi berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button