invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama dan Ketua I PWI-LS Bahas Sejarah Wali Songo, Tubagus Mogi: Wali Songo Bukan Penyebar Islam Pertama, tetapi Paling Sukses Berdakwah di Nusantara

Rhoma Irama Hadirkan Tubagus Mogi untuk Membahas Sejarah Wali Songo

Rhoma Irama menghadirkan Ketua I Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), Tubagus Mogi Nurfadilah, sebagai narasumber dalam sebuah podcast yang secara khusus membahas sejarah Wali Songo.

Pada pembukaan acara, Rhoma Irama menyampaikan bahwa pembahasan kali ini difokuskan pada Wali Songo atau Wali Sembilan agar masyarakat memperoleh penjelasan lebih mendalam mengenai tokoh-tokoh yang dikenal luas dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Tubagus Mogi kemudian mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa menurut hasil kajian yang ia sampaikan, terdapat perbedaan antara anggapan umum masyarakat dengan hasil penelitian sejarah yang dipelajarinya.

Rhoma Irama dan Ketua I PWI LS Bahas Sejarah Wali Songo, Tubagus Mogi, Wali Songo Bukan Penyebar Islam Pertama, tetapi Paling Sukses Berdakwah di Nusantara

Menurut Tubagus Mogi, Wali Songo Bukan Penyebar Islam Pertama di Nusantara

Dalam penjelasannya, Tubagus Mogi mengatakan bahwa dirinya memandang penyebutan Wali Songo sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara kurang tepat.

Menurutnya, Islam telah hadir di wilayah Nusantara jauh sebelum masa Wali Songo, bahkan sejak sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 melalui wilayah Aceh, Barus, Perlak, dan Pasai.

Ia menyebut bahwa pada masa sahabat dan tabi’in telah terdapat jejak masuknya Islam ke wilayah tersebut, meskipun penyebarannya ketika itu belum berlangsung secara luas.

Menurut penjelasannya, peranan Wali Songo justru terletak pada keberhasilan mereka mengembangkan dakwah Islam secara lebih luas sehingga Islam berkembang secara ekspansif di Nusantara.

Aceh Disebut Menjadi Wilayah Awal Masuknya Islam

Menjawab pertanyaan Rhoma Irama mengenai asal-usul masuknya Islam ke Nusantara, Tubagus Mogi menjelaskan bahwa Aceh merupakan salah satu wilayah paling awal menerima Islam.

Ia menyebut Islam masuk melalui berbagai jalur, antara lain langsung dari Arab, Persia, serta kemudian melalui jaringan perdagangan Gujarat.

Menurutnya, pada masa itu pusat-pusat kekuasaan besar Nusantara berada di Sumatra dan Jawa, yakni Sriwijaya dan Majapahit.

Dalam penjelasannya, Islam lebih dahulu berkembang di bagian utara Sumatra sebelum akhirnya menyebar ke wilayah lain di Nusantara.

Kajian yang Disampaikan Tubagus Mogi Mengenai Asal-usul Wali Songo

Pada podcast tersebut, Tubagus Mogi menjelaskan hasil kajian yang menurutnya menunjukkan adanya dua jalur utama asal-usul Wali Songo.

Menurut keterangannya, sebagian tokoh Wali Songo berasal dari kawasan Magribi (Maroko), sedangkan sebagian lainnya berasal dari Samarkand, Uzbekistan.

Ia menyatakan bahwa berdasarkan kajian yang dipaparkannya, Wali Songo bukan berasal dari Yaman.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa kesimpulan tersebut diperoleh melalui kajian terhadap literatur yang disebutnya lebih tua, sumber primer, data internal, data eksternal, serta pengakuan (isbat) dari naqib di negeri asal yang disebut dalam kajiannya.

Pembahasan Mengenai Tradisi Tarekat

Tubagus Mogi juga mengaitkan pembahasan asal-usul Wali Songo dengan tradisi tarekat yang berkembang di Nusantara.

Menurut penjelasannya, apabila Wali Songo berasal dari jalur yang disebutnya sebagai Ba’alawi, maka tradisi tarekat yang berkembang diperkirakan akan mengikuti jalur tersebut.

Namun, ia menyatakan bahwa berdasarkan kajian yang dipaparkannya, tradisi tarekat yang berkembang justru mencakup Qadiriyah, Syadziliyah, Rifa’iyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Kubrawiyah.

Ia mengatakan bahwa hal tersebut menjadi salah satu bagian dari argumentasi yang disampaikannya mengenai asal-usul Wali Songo.

Rhoma Irama Menanyakan Dasar Klaim Sejarah

Dalam dialog tersebut, Rhoma Irama menanyakan dasar yang digunakan dalam penyusunan kesimpulan mengenai asal-usul Wali Songo.

Tubagus Mogi menjawab bahwa menurut keterangannya, kajian tersebut tidak hanya didasarkan pada klaim sepihak, melainkan juga pada manuskrip, penelitian sejarah, kajian silsilah, hasil pengujian DNA yang disebutkannya, serta pengakuan dari pihak yang disebut sebagai naqib di negeri asal.

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya dan sejumlah pihak mengaku pernah berprasangka baik terhadap versi yang menghubungkan Wali Songo dengan Yaman karena belum menemukan data pembanding.

Namun setelah dilakukan kajian lanjutan, menurut penjelasannya, mereka memperoleh kesimpulan yang berbeda.

Penjelasan Mengenai Penelitian DNA

Salah satu pembahasan yang cukup panjang dalam podcast adalah mengenai penelitian DNA.

Tubagus Mogi menjelaskan bahwa menurut keterangannya, pada tahun 2021 telah terdapat penelitian DNA yang kemudian dijadikan salah satu dasar dalam kajiannya.

Ia juga mengutip hasil Muktamar Nahdlatul Ulama ke-31 tahun 2004 yang menurut penjelasannya menyatakan bahwa hasil tes DNA dapat digunakan untuk membatalkan ilhak nasab, meskipun menurut keterangannya tidak serta-merta dapat menetapkan ilhak nasab.

Dalam podcast tersebut, ia mengatakan bahwa hasil penelitian DNA yang disebutkannya kemudian dipadukan dengan penelitian manuskrip, kajian sejarah, serta data silsilah yang dikaji oleh sejumlah peneliti.

Rhoma Irama dan Ketua I PWI LS Bahas Sejarah Wali Songo, Tubagus Mogi, Wali Songo Bukan Penyebar Islam Pertama

Penelusuran Manuskrip Sejak 2019

Tubagus Mogi menjelaskan bahwa penelusuran mengenai silsilah Wali Songo telah dimulai sejak tahun 2019 melalui organisasi yang disebutnya sebagai Naqabah Ansab Auliya Tis’ah (NAT).

Menurut keterangannya, pada tahap awal mereka telah menemukan berbagai versi manuskrip mengenai silsilah Wali Songo.

Ia menyebut bahwa data-data tersebut kemudian dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah dari Nusantara maupun luar negeri.

Dalam penjelasannya disebutkan bahwa proses tersebut dilakukan secara bertahap hingga memperoleh konfirmasi dari sejumlah pihak yang disebut sebagai naqib di negara asal masing-masing jalur silsilah yang diteliti.

Rujukan terhadap Berbagai Manuskrip

Dalam podcast tersebut juga disebutkan sejumlah rujukan yang menurut Tubagus Mogi digunakan dalam proses kajian.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Babad Cirebon.
  • Babad Tanah Jawi.
  • Data sejarah Banten.
  • Data Kepurbon.
  • Data Mertasinga.
  • Atlas Wali Songo karya almarhum KH Agus Sunyoto.
  • Kajian Martin van Bruinessen.

Menurut penjelasannya, berbagai sumber tersebut dibandingkan dengan data dari luar Nusantara untuk memperoleh kesesuaian informasi mengenai asal-usul tokoh-tokoh Wali Songo.

Seminar Tahun 2023 Ikut Dibahas

Tubagus Mogi juga menjelaskan bahwa pada tahun 2023 telah diselenggarakan seminar di UIN Syarif Hidayatullah yang membahas berbagai kajian mengenai sejarah, nasab, serta genetika.

Menurut keterangannya, seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk KH Imaduddin, Prof. Anhar Gonggong, dan Dr. Sugeng sesuai bidang kajian masing-masing.

Ia juga menyampaikan bahwa pihak yang disebutnya sebagai Rabithah Alawiyah telah diundang menghadiri seminar tersebut, namun menurut keterangannya tidak hadir dalam kegiatan itu.

Penutup Podcast

Pada bagian akhir podcast, Rhoma Irama dan Tubagus Mogi menyampaikan penutup acara.

Tubagus Mogi mengatakan bahwa menurut pandangannya, kajian mengenai nasab bertujuan untuk menjaga silaturahmi, melestarikan sejarah, serta meneruskan perjuangan para pendahulu.

Ia juga menyampaikan bahwa dakwah yang dicontohkan Wali Songo menurut keterangannya dilakukan melalui pendekatan budaya, asimilasi, dan akulturasi.

Acara kemudian ditutup dengan pemberian cendera mata kepada narasumber sebelum Rhoma Irama mengakhiri podcast dengan ucapan terima kasih kepada para penonton.

Kesimpulan

Podcast Rhoma Irama bersama Ketua I PWI-LS, Tubagus Mogi, berisi pemaparan mengenai sejarah masuknya Islam ke Nusantara, peran Wali Songo dalam perkembangan dakwah Islam, serta penjelasan mengenai hasil kajian sejarah, manuskrip, silsilah, dan penelitian DNA yang menurut narasumber menjadi dasar pandangannya mengenai asal-usul Wali Songo.

Sepanjang dialog, Rhoma Irama berperan sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan terkait proses penelitian dan dasar-dasar kajian yang dipaparkan, sementara seluruh penjelasan mengenai sejarah, nasab, manuskrip, dan penelitian disampaikan sebagai keterangan dari Tubagus Mogi dalam podcast tersebut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button