KH Abdul Ghalib Madura Tanggapi Pernyataan Habib soal Allah Disebut Meminta Izin kepada Wali Qutub Sebelum Menurunkan Azab

Warta Batavia – KH Abdul Ghalib Madura memberikan tanggapan terhadap pernyataan seorang habib yang menyebut Allah menyampaikan terlebih dahulu kepada wali qutub sebelum menurunkan bala atau azab. Menurutnya, pandangan tersebut bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak sesuai dengan ajaran syariat Islam.
Pernyataan Habib tentang Wali Qutub dan Turunnya Azab
Dalam sebuah cuplikan video yang beredar, seorang habib menyampaikan bahwa setiap kali Allah hendak menurunkan bala atau azab kepada manusia, terlebih dahulu Allah menyampaikannya kepada wali qutub.
Ia mengatakan bahwa apabila wali qutub menyetujui, maka azab seperti tsunami, gempa bumi, maupun berbagai musibah lainnya akan terjadi. Dalam penjelasannya, wali qutub yang dimaksud disebut berasal dari kalangan habaib.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi pembahasan KH Abdul Ghalib Madura dalam sebuah kajian yang menjawab pertanyaan dari masyarakat.
KH Abdul Ghalib Menjelaskan Klaim tentang Wali Qutub
Mengawali penjelasannya, KH Abdul Ghalib terlebih dahulu mengutip sebuah redaksi yang menurutnya terdapat dalam kitab-kitab yang digunakan sebagian kalangan habaib.
Ia menyebut sejumlah nama keluarga seperti Segaf, Muhdar, Haddad, Abu Bakar bin Salim, Syihabuddin, Bin Yahya, Al-Attas, Ba’awil dan keluarga Ba’alawi lainnya yang disebut sebagai ahlul widad.
Menurut KH Abdul Ghalib, istilah ahlul widad dalam pengertian para ulama tasawuf merujuk kepada orang-orang yang benar-benar mencintai Allah SWT, memiliki hati yang bersih, melaksanakan seluruh perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta mencapai derajat keimanan yang tinggi.
Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam klaim yang dikutip tersebut, wali qutub disebut pasti berasal dari kalangan keluarga-keluarga tersebut.
Disebut Bertentangan dengan Akidah
KH Abdul Ghalib menyatakan bahwa apabila dari klaim tersebut kemudian muncul keyakinan bahwa Allah harus meminta persetujuan kepada wali qutub sebelum menurunkan azab, maka menurutnya hal itu bertentangan dengan akidah Islam.
Ia mengatakan bahwa anggapan tersebut menyamakan kehendak makhluk dengan kehendak Allah, sehingga menurutnya termasuk bentuk penyimpangan akidah.
Dalam penjelasannya, KH Abdul Ghalib menyebut bahwa Allah memiliki sifat iradah, yaitu kehendak yang bersifat mutlak dan tidak dipengaruhi oleh siapa pun.
Mengutip Dalil Al-Qur’an tentang Kehendak Allah
Untuk menjelaskan pandangannya, KH Abdul Ghalib mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa seluruh keputusan Allah berada dalam kehendak-Nya sendiri dan tidak berada di bawah campur tangan makhluk mana pun.
Ia juga menegaskan bahwa para nabi, rasul, wali maupun wali qutub tidak memiliki kewenangan mengubah atau mengintervensi keputusan Allah.
Sebagai contoh, KH Abdul Ghalib mengutip kisah Nabi Muhammad SAW yang menginginkan sebagian kerabatnya memperoleh hidayah. Namun menurutnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa hidayah sepenuhnya merupakan hak Allah.
Ia mengutip firman Allah yang menyatakan:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Menurut KH Abdul Ghalib, ayat tersebut menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah SAW tidak dapat menentukan kehendak Allah.
Menyebut Tidak Ada Makhluk yang Dapat Mengintervensi Allah
Dalam lanjutan penjelasannya, KH Abdul Ghalib juga mengutip ayat lain yang menyebut bahwa Allah menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.
Ia menegaskan bahwa seluruh makhluk adalah hamba Allah sehingga tidak memiliki hak menentukan atau mengatur keputusan-Nya.
Menurut KH Abdul Ghalib, keyakinan bahwa Allah memerlukan izin atau persetujuan makhluk sebelum mengambil keputusan merupakan keyakinan yang tidak boleh dipercaya.
Ia menyampaikan bahwa apabila keyakinan tersebut diyakini, maka menurut penjelasannya dapat berkonsekuensi pada persoalan akidah yang serius.
Menjelaskan Jalan Tasawuf Menurut Ulama Sufi
Selain membahas persoalan akidah, KH Abdul Ghalib juga menjelaskan pandangannya mengenai ajaran tasawuf.
Ia mengatakan bahwa tujuan utama para ulama sufi adalah menjalankan ajaran Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak.
Menurutnya, proses menjadi seorang wali dilakukan melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), membersihkan hati, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati syariat.
KH Abdul Ghalib menyampaikan bahwa seseorang tidak mungkin mencapai derajat kewalian apabila tidak berpegang teguh kepada syariat Islam.
Wali Disebut Tidak Bersikap Sombong kepada Allah
Dalam penutup penjelasannya, KH Abdul Ghalib mengatakan bahwa para wali Allah dikenal memiliki sifat tawadhu’ dan takut kepada Allah.
Ia menyebut bahwa berbagai kejadian luar biasa (khariqul ‘adah) yang dialami para wali, menurut pemahamannya, semata-mata terjadi karena pertolongan Allah, bukan atas kehendak wali itu sendiri.
Karena itu, KH Abdul Ghalib menyatakan bahwa anggapan adanya wali yang memberi izin atau persetujuan kepada Allah bukanlah ciri seorang wali menurut ajaran tasawuf yang dipahaminya.
Ia menutup penjelasannya dengan mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menerima ajaran yang berkaitan dengan persoalan akidah dan tetap berpegang kepada Al-Qur’an serta syariat Islam sebagaimana yang dijelaskannya dalam kajian tersebut.Sumber berita:


