invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Bahas Isu Nasab Bersama Prof. Menachem Ali, Soroti Peran Filologi dalam Mengkaji Manuskrip Sejarah

WARTA BATAVIAJAKARTA – Penyanyi sekaligus tokoh masyarakat Rhoma Irama kembali menghadirkan diskusi bertema sejarah dan keilmuan melalui kanal Rhoma Irama Official dalam program Bisikan Rhoma. Pada tayangan yang dipublikasikan pada 28 Juni 2024, Rhoma mengundang pakar filologi Prof. Menachem Ali untuk membahas isu nasab yang menurutnya telah berkembang menjadi pembahasan nasional.

Dalam pembukaan diskusi, Rhoma Irama menjelaskan alasan dirinya terus mengangkat tema tersebut. Ia menyebut pembahasan dilakukan sebagai bagian dari upaya mencari penjelasan berdasarkan argumen, kajian ilmiah, serta dialog yang menurutnya perlu dilakukan secara terbuka dan bijaksana.

Rhoma juga mengutip Surah Al-‘Ashr sebagai landasan pentingnya saling menyampaikan kebenaran dan kesabaran dalam menyikapi berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Rhoma, terdapat beberapa isu yang dinilainya perlu mendapat perhatian, mulai dari pembahasan mengenai sejarah penyebaran Islam di Indonesia, berbagai klaim mengenai tokoh-tokoh sejarah, hingga pembicaraan mengenai nasab yang selama ini menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan.

Ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak dimaksudkan sebagai ruang untuk menyampaikan kebencian ataupun kepentingan tertentu, melainkan sebagai ruang dialog yang menurutnya harus dijalankan dengan pendekatan ilmiah serta tetap mengedepankan akhlak dalam berdiskusi.

Rhoma Irama Menjelaskan Tujuan Diskusi Isu Nasab

Rhoma Irama mengatakan bahwa selama beberapa waktu terakhir dirinya telah menghadirkan berbagai narasumber dari latar belakang yang berbeda.

Ia menyebut sebelumnya telah mengundang sejumlah tokoh yang memiliki pandangan masing-masing mengenai persoalan nasab sehingga masyarakat dapat mendengar berbagai sudut pandang.

Dalam kesempatan tersebut, Rhoma mengatakan bahwa kali ini ia sengaja mengundang seorang akademisi yang menekuni bidang filologi agar pembahasan dapat dilihat dari perspektif manuskrip dan kajian sejarah tertulis.

Menurut Rhoma, masyarakat memerlukan penjelasan yang disampaikan oleh orang yang memang memiliki kompetensi sesuai bidang ilmunya.

Rhoma Menilai Dialog Harus Berdasarkan Ilmu

Rhoma menegaskan bahwa dialog yang dibangun dalam podcast tersebut bukan didasarkan pada emosi ataupun kepentingan tertentu.

Ia mengatakan setiap narasumber yang diundang diharapkan mampu menjelaskan persoalan sesuai bidang keahlian masing-masing sehingga masyarakat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai isu yang sedang dibahas.

Rhoma menyampaikan bahwa hasil akhir dari diskusi tetap harus diterima secara terbuka oleh semua pihak.

Ia juga kembali mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, kemuliaan seseorang menurut Al-Qur’an bukan ditentukan oleh nasab, melainkan oleh ketakwaan dan ilmu.

Pernyataan tersebut beberapa kali diulang Rhoma selama perbincangan sebagai penekanan bahwa pembahasan mengenai nasab menurutnya tidak boleh menghilangkan nilai utama yang diajarkan agama.

Rhoma Irama kemudian meminta penjelasan mengenai hubungan filologi dengan pembahasan nasab

Apa Itu Filologi? Penjelasan Prof. Menachem Ali

Menanggapi pertanyaan Rhoma Irama, Prof. Menachem Ali terlebih dahulu menjelaskan pengertian filologi.

Menurutnya, filologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari manuskrip atau naskah kuno yang ditulis dengan tangan.

Ia menjelaskan bahwa setiap manuskrip lahir dalam konteks zamannya sehingga keberadaannya menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah.

Prof. Menachem mengatakan bahwa objek kajian filologi tidak terbatas pada karya sastra, tetapi juga mencakup manuskrip keagamaan, karya ulama, hingga berbagai dokumen sejarah.

Ia menerangkan bahwa tugas filologi bukan memberikan tafsir keagamaan, melainkan meneliti manuskrip sebagai dokumen historis yang dapat dikaji melalui berbagai metode akademik.

Filologi dan Kajian Manuskrip Al-Qur’an

Dalam penjelasannya, Prof. Menachem Ali memberikan contoh bagaimana filologi digunakan untuk mengkaji manuskrip Al-Qur’an.

Ia mengatakan bahwa filologi dapat meneliti manuskrip-manuskrip tertua yang masih tersimpan hingga sekarang.

Sebagai contoh, ia menyebut manuskrip Al-Qur’an yang berada di Birmingham sebagai salah satu manuskrip awal yang sering dijadikan objek penelitian filologi.

Menurutnya, penelitian tersebut dilakukan terhadap manuskrip sebagai artefak sejarah, bukan terhadap aspek keimanan.

Selain Al-Qur’an, Prof. Menachem juga menjelaskan bahwa filologi digunakan untuk meneliti manuskrip ulama Nusantara yang ditulis menggunakan berbagai aksara seperti Pegon, Jawi, maupun aksara Arab berbahasa daerah.

Ia menyebut kajian filologi kini juga berkembang di berbagai perguruan tinggi keagamaan di Indonesia yang mulai mengembangkan penelitian terhadap manuskrip ulama Nusantara.

Rhoma Irama kemudian meminta penjelasan mengenai hubungan filologi dengan pembahasan nasab

Peran Filologi dalam Pembahasan Nasab

Rhoma Irama kemudian meminta penjelasan mengenai hubungan filologi dengan pembahasan nasab.

Prof. Menachem Ali mengatakan bahwa filologi bukan ilmu nasab.

Namun demikian, menurutnya filologi dapat mengkaji manuskrip yang memuat informasi mengenai silsilah apabila dokumen tersebut memang tersedia.

Ia menjelaskan bahwa fokus seorang filolog adalah dokumen yang tertulis, bukan penyusunan silsilah keluarga.

Karena itu, menurutnya, apabila suatu pembahasan berkaitan dengan manuskrip yang memuat informasi nasab, maka filologi dapat memberikan kontribusi dari sisi kajian dokumen sejarah.

Sebaliknya, apabila pembahasan berada di luar manuskrip, maka hal tersebut berada di luar ruang lingkup filologi.

Contoh Penggunaan Dokumen Eksternal dalam Kajian Sejarah

Dalam diskusi tersebut, Prof. Menachem Ali memberikan contoh mengenai penggunaan dokumen eksternal dalam penelitian sejarah.

Ia menyebut keberadaan Nabi Muhammad sebagai tokoh historis dapat dikaji melalui berbagai dokumen selain Al-Qur’an.

Sebagai contoh, ia mengutip keberadaan naskah berbahasa Yunani yang menurutnya menjadi salah satu sumber eksternal yang sering dibahas dalam penelitian sejarah.

Menurut Prof. Menachem, penggunaan dokumen pembanding seperti itu merupakan bagian dari metode penelitian historis yang digunakan untuk memahami keberadaan suatu tokoh dalam konteks sejarah.

Ia menjelaskan bahwa dalam penelitian manuskrip, filolog akan memperhatikan usia dokumen, konteks penulisan, serta hubungan antara dokumen dengan masa ketika tokoh yang dibahas hidup.

Diskusi Mengenai Dokumen Nasab

Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama meminta tanggapan Prof. Menachem Ali mengenai pembahasan dokumen yang berkaitan dengan salah satu tokoh yang menjadi bagian dari diskusi mengenai nasab.

Prof. Menachem menjawab dari sudut pandang filologi.

Ia menegaskan bahwa jawabannya terbatas pada keberadaan manuskrip yang menurutnya dapat diteliti melalui metode filologi.

Selanjutnya ia menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan dokumen yang menurutnya tersedia maupun yang menurut penilaiannya belum ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang ia jadikan rujukan.

Dalam penjelasannya, Prof. Menachem berulang kali mengingatkan bahwa ia berbicara sebagai filolog, bukan sebagai ahli nasab, sehingga ruang lingkup penjelasannya terbatas pada kajian manuskrip.

Dalam bagian ini, Prof. Menachem menyampaikan sejumlah penilaian mengenai keberadaan maupun ketiadaan dokumen terkait tokoh tertentu. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber dalam podcast dan disampaikan dalam konteks kajian filologi sebagaimana dijelaskan olehnya.

Filologi dan Verifikasi Manuskrip

Prof. Menachem Ali juga menjelaskan bagaimana filolog menilai keaslian manuskrip.

Menurutnya, seorang filolog mempelajari berbagai aspek dokumen seperti media penulisan, bentuk tulisan, bahan manuskrip, hingga konteks sejarahnya.

Ia mengatakan bahwa melalui pendekatan tersebut, filolog dapat melakukan analisis terhadap usia maupun karakter suatu manuskrip.

Dalam penjelasannya, ia memberikan ilustrasi mengenai perbedaan antara benda antik asli dan reproduksi sebagai analogi pentingnya verifikasi terhadap dokumen sejarah.

Menurutnya, masyarakat yang tidak memahami metode filologi dapat mengalami kesulitan membedakan dokumen asli dengan dokumen yang dibuat pada masa kemudian.

Perbedaan Filologi dan Arkeologi

Selain filologi, Prof. Menachem juga menjelaskan hubungan antara filologi dan arkeologi.

Menurutnya, kedua disiplin ilmu sama-sama berperan dalam penelitian sejarah, namun memiliki objek kajian yang berbeda.

Filologi berfokus pada manuskrip atau dokumen tertulis.

Sementara arkeologi banyak menggunakan prasasti, batu nisan, inskripsi, maupun benda-benda arkeologis sebagai sumber penelitian.

Ia mengatakan kedua bidang tersebut dapat saling melengkapi dalam membantu memahami sejarah suatu tokoh maupun suatu peristiwa.

Rhoma Irama menyampaikan bahwa diskusi mengenai isu nasab belum berhenti pada perbincangan bersama Prof. Menachem Ali

Rhoma Irama Berencana Menghadirkan Narasumber Lain

Menjelang akhir podcast, Rhoma Irama menyampaikan bahwa diskusi mengenai isu nasab belum berhenti pada perbincangan bersama Prof. Menachem Ali.

Ia mengatakan masih berencana mengundang tokoh-tokoh lain agar masyarakat memperoleh berbagai sudut pandang.

Rhoma menyebut salah satu rencananya adalah mengundang perwakilan dari Rabithah Alawiyah.

Selain itu, ia juga menyampaikan keinginannya menghadirkan ahli genetika untuk membahas persoalan yang sama dari perspektif ilmu genetika.

Menurut Rhoma, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memperoleh penjelasan yang lebih lengkap melalui berbagai disiplin ilmu.

Penutup: Rhoma Irama Ajak Menjaga Ukhuwah

Pada bagian penutup podcast, Rhoma Irama kembali mengingatkan bahwa kemuliaan manusia menurut ajaran Islam ditentukan oleh ketakwaan, bukan semata-mata oleh nasab.

Ia mengajak seluruh umat Islam untuk tetap menjaga persaudaraan meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai berbagai persoalan.

Rhoma berharap pembahasan yang dilakukan melalui podcast tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mencari penjelasan secara ilmiah sekaligus tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

Ia juga mengakhiri acara dengan harapan agar berbagai perbedaan pandangan dapat diselesaikan melalui dialog yang baik serta tetap mengedepankan semangat persaudaraan.

FAQ

Siapa narasumber dalam podcast Rhoma Irama tersebut?

Narasumber utama adalah Prof. Menachem Ali, seorang akademisi yang menjelaskan perspektif filologi mengenai manuskrip dan penelitian sejarah.

Apa fokus utama pembahasan podcast?

Podcast membahas isu nasab, sejarah, manuskrip, serta peran filologi dalam mengkaji dokumen-dokumen historis.

Apa yang dimaksud filologi menurut Prof. Menachem Ali?

Menurut Prof. Menachem Ali, filologi merupakan ilmu yang mempelajari manuskrip atau naskah kuno sebagai dokumen sejarah yang dapat diteliti secara akademik.

Mengapa Rhoma Irama menghadirkan pakar filologi?

Rhoma Irama mengatakan ingin menghadirkan narasumber sesuai bidang keahlian agar masyarakat memperoleh penjelasan berdasarkan pendekatan ilmiah dan dialog yang terbuka.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button