invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Bantah Tuduhan Podcast Berbayar, Soroti Polemik Ba’alawi dan Serukan Menjaga NKRI

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama membantah tuduhan bahwa podcast yang membahas polemik Ba’alawi dibuat karena dibayar pihak tertentu. Dalam penjelasannya, ia juga menyampaikan pandangan mengenai penelitian ilmiah, persatuan bangsa, dan pentingnya menjaga NKRI.

Rhoma Irama Menanggapi Tuduhan Mengenai Podcast yang Dibuatnya

Rhoma Irama memberikan tanggapan atas tuduhan yang menyebut bahwa podcast-podcast yang dibuatnya mengenai polemik Ba’alawi diproduksi atas arahan maupun pembiayaan dari pihak tertentu.

Penjelasan tersebut disampaikan melalui kanal YouTube Rhoma Ira Official pada 23 Mei 2026. Dalam tayangan tersebut, Rhoma Irama menyampaikan klarifikasi panjang mengenai alasan dirinya aktif membahas isu yang menurutnya berkaitan dengan sejarah, keilmuan, dan kehidupan berbangsa.

Pada awal penyampaiannya, Rhoma Irama mengatakan bahwa dirinya merasa perlu memberikan respons terhadap tuduhan yang dilontarkan oleh Muhammad Rizieq Shihab. Ia membantah adanya pihak yang mengatur maupun membayar isi podcast yang dipublikasikannya.

Menurut Rhoma Irama, seluruh materi yang disampaikan dalam podcast merupakan bentuk keterpanggilan pribadi dan bukan hasil penugasan dari pihak tertentu.

Ia menegaskan bahwa selama bertahun-tahun menjalani aktivitas dakwah maupun kegiatan sosial-politik, dirinya mengaku tidak pernah menerima pembayaran untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya.

Rhoma Irama Mengaitkan Pengalaman Masa Lalu

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama mengingat kembali pengalamannya ketika aktif mendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada masa lalu.

Ia mengatakan bahwa ketika bergabung dalam perjuangan politik saat itu, dirinya datang dengan niat membantu tanpa meminta imbalan finansial.

Rhoma Irama bahkan menyebut biaya operasional aktivitasnya ketika itu ditanggung secara mandiri.

Ia menyampaikan bahwa pola tersebut tetap berlangsung hingga sekarang, termasuk ketika membuat berbagai podcast yang membahas isu-isu aktual.

Menurut keterangannya, tidak ada pihak yang memerintah maupun membayar dirinya untuk memproduksi konten yang membahas polemik Ba’alawi.

Ia menyatakan seluruh aktivitas tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan pribadi sebagai bentuk panggilan hati.

Menyebut Sejumlah Tokoh yang Dinilai Bergerak atas Dasar Keyakinan

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama juga menyebut beberapa nama yang selama ini aktif membahas polemik nasab Ba’alawi.

Ia mengatakan bahwa menurut keyakinannya, tokoh-tokoh tersebut juga tidak bergerak karena adanya arahan ataupun pembiayaan dari pihak tertentu.

Beberapa nama yang disebut antara lain KH Imaduddin Utsman, Gus Abbas, Syiah Alawi, Dr. Sugeng Sugiharto, serta Prof. Menahim Ali.

Menurut Rhoma Irama, dukungan yang diberikan para tokoh tersebut terhadap kajian filologi maupun penelitian DNA dilakukan berdasarkan pandangan masing-masing.

Ia juga menyatakan bahwa pembahasan mengenai filologi Ba’alawi tidak hanya dilakukan oleh peneliti dari Yaman, melainkan juga oleh sejumlah akademisi lain yang berasal dari berbagai latar belakang.

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama menyampaikan keyakinannya bahwa seluruh aktivitas tersebut muncul sebagai bentuk hidayah dan bukan karena adanya kepentingan finansial.

Rhoma Irama Menanggapi Isu Pernyataan "Kabur ke Yaman"

Rhoma Irama Menanggapi Isu Pernyataan “Kabur ke Yaman”

Mengaitkan dengan Situasi Politik dan Kebangsaan

Selanjutnya, Rhoma Irama menyinggung pernyataan mengenai ajakan “kabur ke Yaman” yang sebelumnya ramai diperbincangkan.

Menurut Rhoma Irama, pernyataan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap berbagai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.

Ia kemudian mengemukakan pandangannya mengenai apa yang disebutnya sebagai indikasi adanya gerakan yang dinilai dapat memengaruhi persatuan nasional.

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama menyebut bahwa dirinya melihat adanya berbagai peristiwa dan orasi yang menurutnya mengarah pada upaya terstruktur, sistematis, dan masif.

Ia juga menyebut adanya anggapan mengenai tujuan menjadikan Indonesia sebagai milik “Aulia Tarim”.

Pandangan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasannya mengenai alasan dirinya mengikuti perkembangan polemik tersebut.

Menyampaikan Pesan Mengenai Dasar Negara

Rhoma Irama kemudian menyampaikan pesan kepada Muhammad Rizieq Shihab beserta pihak-pihak yang menurutnya memiliki keinginan mendirikan sistem khilafah di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa Indonesia telah memiliki dasar negara berupa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menurutnya merupakan konsensus nasional selama puluhan tahun.

Karena itu, Rhoma Irama mengajak agar konsensus tersebut tetap dipertahankan.

Ia menyatakan bahwa apabila terdapat pihak yang ingin mendirikan sistem pemerintahan lain, hal tersebut menurut pandangannya tidak seharusnya dilakukan di Indonesia.

Rhoma Irama juga menegaskan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tidak terjadi konflik di tengah masyarakat.

Mengutip Ayat Al-Qur’an Mengenai Tujuan Manusia Diciptakan

Dalam bagian berikutnya, Rhoma Irama mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an.

Ia menyebut ayat yang menjelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah.

Selain itu, Rhoma Irama juga mengutip ayat mengenai penciptaan manusia dalam berbagai bangsa dan suku agar saling mengenal serta menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya.

Melalui penyampaian tersebut, Rhoma Irama mengajak agar masyarakat lebih mengutamakan peningkatan ketakwaan dibandingkan mengejar kekuasaan atas bangsa lain.

Ia juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai yang menurutnya sesuai dengan ajaran agama.

Rhoma Irama Menilai Terjadi Perubahan di Kalangan Masyarakat

Pada bagian selanjutnya, Rhoma Irama menyampaikan penilaiannya mengenai perkembangan respons masyarakat terhadap polemik Ba’alawi.

Ia mengatakan bahwa menurut pengamatannya pengaruh Ba’alawi saat ini mengalami penurunan dibandingkan masa sebelumnya.

Rhoma Irama menyebut semakin banyak masyarakat yang menurutnya mulai memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Ia juga menilai bahwa sebagian kalangan pengusaha mulai memiliki pandangan berbeda dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, Rhoma Irama mengatakan terdapat sebagian muhibbin yang menurut pengamatannya tidak lagi memberikan penghormatan berlebihan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Ia juga menyebut semakin banyak ulama yang menurutnya memberikan dukungan kepada KH Imaduddin Utsman dalam pembahasan mengenai polemik tersebut.

Rhoma Irama Bantah Tuduhan Podcast Berbayar, Soroti Polemik Ba'alawi dan Serukan Menjaga NKRI

Rhoma Irama Menilai Polemik Ba’alawi Masih Berlangsung karena Dukungan Sejumlah Kalangan

Rhoma Irama mengatakan bahwa menurut pengamatannya, polemik mengenai Ba’alawi masih terus berlangsung karena masih terdapat sejumlah ulama yang memberikan dukungan terhadap narasi yang selama ini berkembang.

Dalam penjelasannya, ia menyampaikan pandangan bahwa sebagian ulama masih berpegang pada kitab-kitab nasab Ba’alawi dan belum membandingkannya dengan data dari disiplin ilmu lain.

Menurut Rhoma Irama, kajian mengenai nasab semestinya tidak hanya bertumpu pada satu sumber, tetapi juga mempertimbangkan data pembanding yang berasal dari penelitian filologi maupun kajian ilmiah lainnya.

Ia menyebut pendekatan tersebut telah dilakukan oleh KH Imaduddin Utsman bersama sejumlah tokoh lain yang menurutnya aktif mengkaji persoalan tersebut dari berbagai sudut pandang.

Rhoma Irama menilai apabila data-data eksternal dijadikan bahan pembanding dalam penelitian, maka menurut pandangannya sejumlah perdebatan mengenai persoalan tersebut dapat dikaji secara lebih luas.

Menyoroti Ceramah yang Dinilai Tidak Berdasarkan Argumentasi Ilmiah

Dalam podcast tersebut, Rhoma Irama juga menyinggung adanya seorang ustaz berskala nasional yang menurutnya masih memberikan pembelaan terhadap Ba’alawi.

Ia menyampaikan bahwa pembelaan tersebut, menurut penilaiannya, tidak disertai argumentasi ilmiah maupun data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rhoma Irama mengatakan bahwa masyarakat semestinya memperoleh penjelasan yang didukung oleh data, bukan hanya ungkapan-ungkapan yang bersifat persuasif.

Ia kemudian mencontohkan sejumlah pernyataan yang menurutnya sering disampaikan dalam ceramah, seperti analogi mengenai seseorang yang dianggap mengganggu Ba’alawi.

Selain itu, ia juga menyinggung narasi yang menurutnya memberikan kesan bahwa mempercayai Ba’alawi sebagai keturunan Nabi memiliki kedudukan yang sangat mendasar dalam ajaran agama.

Rhoma Irama menilai cara penyampaian seperti itu tidak memberikan pendidikan yang memadai kepada masyarakat karena tidak disertai argumentasi maupun data pendukung yang kuat.

Rhoma Irama Menyinggung Narasi Mengenai Pasir Tarim

Dalam lanjutan penjelasannya, Rhoma Irama mengangkat contoh lain yang menurutnya sering dijadikan bagian dari narasi keagamaan.

Ia menyinggung adanya cerita mengenai pasir di Kota Tarim yang disebut memiliki keberkahan karena diyakini menyimpan jejak para wali.

Menurut Rhoma Irama, dirinya pernah mendengar bahkan ditawari pasir Tarim yang disebut membawa keberkahan.

Ia kemudian membandingkan narasi tersebut dengan kondisi di Makkah dan Madinah yang juga menjadi tempat bersejarah bagi para nabi.

Menurut penjelasannya, apabila ukuran keberkahan didasarkan pada jejak para nabi, maka kota-kota suci tersebut juga memiliki nilai sejarah yang sangat besar.

Rhoma Irama menyampaikan pandangannya bahwa berbagai narasi semacam itu perlu dikaji secara lebih kritis agar masyarakat memperoleh pemahaman yang didasarkan pada argumentasi yang kuat.

Rhoma Irama Menekankan Pentingnya Ilmu dalam Memahami Persoalan Agama

Rhoma Irama Menekankan Pentingnya Ilmu dalam Memahami Persoalan Agama

Mengutip Ayat Al-Qur’an Mengenai Kedudukan Orang Berilmu

Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai kedudukan orang-orang yang beriman dan berilmu.

Ia menyampaikan bahwa Al-Qur’an menjelaskan Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan.

Menurut Rhoma Irama, ayat tersebut menjadi dasar bahwa ilmu memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan dirinya tidak menemukan ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa faktor keturunan memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan ilmu.

Karena itu, Rhoma Irama mengajak masyarakat agar lebih mengutamakan pencarian ilmu dan pembuktian berdasarkan data ketika membahas persoalan sejarah maupun nasab.

Menyampaikan Contoh dari Hadis Nabi

Rhoma Irama kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai Fatimah binti Muhammad.

Ia menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan prinsip keadilan yang berlaku bagi seluruh umat tanpa membedakan garis keturunan.

Menurut Rhoma Irama, contoh tersebut menjadi penjelasan bahwa seseorang tetap dinilai berdasarkan keimanan, ilmu, dan amal perbuatannya.

Ia menggunakan contoh tersebut sebagai bagian dari penjelasannya mengenai pentingnya mengedepankan nilai-nilai ajaran Islam ketika membahas persoalan nasab.

Rhoma Irama juga kembali menegaskan bahwa menurut pandangannya, ilmu dan ketakwaan merupakan aspek yang harus menjadi perhatian utama dalam kehidupan umat Islam.

Menyinggung Faktor Hubungan Personal

Dalam podcast tersebut, Rhoma Irama juga menyampaikan pandangannya mengenai alasan sebagian pihak memilih tidak memberikan tanggapan terhadap polemik yang sedang berkembang.

Ia menyebut kemungkinan adanya hubungan pertemanan, hubungan bisnis, maupun hubungan keluarga yang menurutnya dapat memengaruhi sikap sebagian orang.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasannya mengenai beragam faktor yang menurut pandangannya turut memengaruhi dinamika diskusi mengenai polemik Ba’alawi di tengah masyarakat.

Rhoma Irama Menyampaikan Pandangan Mengenai Klaim Sejarah

Rhoma Irama Menyampaikan Pandangan Mengenai Klaim Sejarah

Menyoroti Klaim terhadap Tokoh dan Sejarah Islam di Indonesia

Pada bagian selanjutnya, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya mengenai berbagai klaim sejarah yang menurutnya berkembang dalam polemik tersebut.

Ia menyebut adanya dugaan mengenai perubahan sejarah melalui berbagai cara, termasuk klaim terhadap sejumlah tokoh dan peristiwa sejarah.

Rhoma Irama juga menyinggung narasi yang mengaitkan Wali Songo dengan Ba’alawi.

Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa apabila klaim tersebut benar, maka menurut pandangannya identitas sejumlah tokoh Wali Songo akan menunjukkan penggunaan nama keluarga tertentu.

Ia kemudian memberikan beberapa contoh nama yang disebutnya sebagai ilustrasi atas argumentasi yang sedang disampaikannya.

Seluruh penjelasan tersebut merupakan bagian dari pandangan Rhoma Irama mengenai bagaimana sejarah seharusnya dipahami melalui proses kajian yang menurutnya memerlukan data pendukung dan penelitian yang komprehensif.

Rhoma Irama Menyoroti Penggunaan Nama Daerah dalam Penyelenggaraan Haul

Rhoma Irama Menyoroti Penggunaan Nama Daerah dalam Penyelenggaraan Haul

Menyampaikan Pandangan Mengenai Penamaan Kegiatan Haul

Pada bagian akhir podcast, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya mengenai penggunaan nama daerah dalam sejumlah kegiatan haul yang diselenggarakan untuk mengenang tokoh-tokoh tertentu.

Ia mencontohkan beberapa penyelenggaraan haul yang menurutnya lebih dikenal menggunakan nama suatu daerah dibandingkan nama tokoh yang diperingati.

Menurut Rhoma Irama, penggunaan nama daerah tersebut menjadi bagian dari hal yang ia soroti dalam pembahasan mengenai polemik Ba’alawi.

Ia memberikan contoh penyebutan “Haul Solo” yang menurut keterangannya dikaitkan dengan peringatan terhadap Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Rhoma Irama menjelaskan bahwa tokoh tersebut lahir dan wafat di Yaman, sementara pelaksanaan haul berlangsung di Indonesia.

Dalam pandangannya, penyebutan nama daerah sebagai identitas kegiatan haul menjadi hal yang perlu dicermati.

Ia berpendapat bahwa penyebutan nama tokoh secara langsung dinilai lebih tepat dibandingkan menggunakan nama wilayah tertentu.

Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangannya mengenai simbol, identitas, dan penggunaan nama daerah dalam kegiatan keagamaan.

Mencontohkan Penyelenggaraan Haul di Gresik

Rhoma Irama kemudian memberikan contoh lain mengenai penyelenggaraan haul yang menggunakan nama daerah Gresik.

Ia menyinggung pelaksanaan haul untuk Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf yang menurut penjelasannya dikenal dengan penyebutan “Haul Gresik”.

Dalam podcast tersebut, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya bahwa penggunaan nama daerah tersebut dapat menimbulkan persepsi tertentu mengenai identitas wilayah.

Ia juga mengaitkannya dengan keberadaan tokoh-tokoh penyebar Islam di Gresik, termasuk Sunan Gresik yang dikenal sebagai salah satu tokoh Wali Songo.

Menurut Rhoma Irama, penyebutan nama daerah dalam kegiatan haul merupakan salah satu aspek yang menurutnya layak menjadi bahan pembahasan dalam polemik yang sedang berkembang.

Ia menyampaikan pandangan tersebut sebagai bagian dari argumentasi yang disampaikannya sepanjang podcast.

Rhoma Irama Mengajak Masyarakat Melakukan Kajian Kembali, Mengimbau Muhibbin Meneliti Ulang Keyakinan yang Dianut

Rhoma Irama Mengajak Masyarakat Melakukan Kajian Kembali

Mengimbau Muhibbin Meneliti Ulang Keyakinan yang Dianut

Menjelang akhir tayangan, Rhoma Irama menyampaikan imbauan kepada masyarakat, khususnya mereka yang selama ini menjadi muhibbin, agar melakukan penelaahan kembali terhadap berbagai hal yang diyakini.

Ia mengajak masyarakat untuk menilai berbagai persoalan berdasarkan iman, akhlak, serta ilmu pengetahuan.

Menurut Rhoma Irama, setiap individu dapat melakukan kajian secara lebih mendalam terhadap berbagai informasi yang berkembang sehingga memperoleh pemahaman yang lebih utuh.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengoreksi berbagai bentuk keyakinan yang menurutnya perlu ditinjau kembali berdasarkan data dan kajian yang tersedia.

Dalam penutup penyampaiannya, Rhoma Irama mengakhiri podcast dengan seruan agar masyarakat menjaga Islam sekaligus menjaga Indonesia.

Ia kemudian menutup penjelasan tersebut dengan doa dan salam penutup.

Rangkuman Pernyataan Rhoma Irama

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam podcast di kanal Rhoma Ira Official pada 23 Mei 2026, terdapat sejumlah pokok pembahasan yang menjadi fokus utama.

Pertama, Rhoma Irama membantah tuduhan bahwa podcast yang membahas polemik Ba’alawi dibuat karena adanya arahan maupun pembiayaan dari pihak tertentu. Ia menyatakan seluruh konten dibuat atas dasar keyakinan pribadi dan bukan karena kepentingan finansial.

Kedua, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai dasar kehidupan berbangsa serta menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga persatuan nasional.

Ketiga, ia menyoroti perlunya pendekatan ilmiah dalam membahas persoalan sejarah maupun nasab dengan mempertimbangkan berbagai disiplin ilmu, termasuk filologi dan penelitian yang menurutnya relevan.

Keempat, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya mengenai berbagai klaim sejarah, penggunaan nama daerah dalam kegiatan haul, serta mengajak masyarakat untuk melakukan kajian kembali terhadap berbagai informasi yang berkembang.

FAQ

Apa yang menjadi pokok klarifikasi Rhoma Irama?

Rhoma Irama membantah tuduhan bahwa podcast yang membahas polemik Ba’alawi dibuat atas arahan maupun pembiayaan pihak tertentu. Ia menyatakan seluruh konten dibuat berdasarkan keyakinan pribadinya.

Kapan penjelasan tersebut disampaikan?

Penjelasan tersebut disampaikan melalui kanal YouTube Rhoma Ira Official pada 23 Mei 2026, sebagaimana tercantum dalam transkrip yang menjadi dasar artikel ini.

Apa saja isu yang dibahas Rhoma Irama?

Podcast tersebut membahas klarifikasi mengenai tuduhan podcast berbayar, polemik Ba’alawi, kajian filologi dan penelitian DNA, pandangan mengenai sejarah, penggunaan nama daerah dalam haul, serta ajakan menjaga persatuan bangsa.

Siapa saja tokoh yang disebut dalam penjelasan Rhoma Irama?

Dalam podcast tersebut Rhoma Irama menyebut sejumlah nama, antara lain Muhammad Rizieq Shihab, KH Imaduddin Utsman, Gus Abbas, Syiah Alawi, Dr. Sugeng Sugiharto, dan Prof. Menahim Ali sebagai bagian dari penjelasan yang disampaikannya.

Apa pesan penutup Rhoma Irama?

Pada akhir podcast, Rhoma Irama mengajak masyarakat untuk menjaga Islam, menjaga Indonesia, melakukan kajian terhadap berbagai informasi yang berkembang, kemudian menutup penyampaiannya dengan doa dan salam.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button