invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Sampaikan Ceramah HUT RI: Kemerdekaan, Perjuangan Ulama, hingga Polemik Nasab Baalawi

WARTA BATAVIAJAKARTA — Penyanyi sekaligus pendakwah Rhoma Irama menyampaikan ceramah dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024. Ceramah tersebut disiarkan melalui kanal YouTube Rhoma Irama Official.

Dalam ceramahnya, Rhoma Irama membahas sejumlah hal, mulai dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran ulama dan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan, hingga cara memaknai kemerdekaan setelah Indonesia merdeka.

Selain itu, Rhoma juga mengaitkan momentum HUT RI dengan polemik mengenai nasab yang pada saat itu menjadi pembahasan di tengah masyarakat. Ia menyampaikan pandangannya mengenai Ahlul Bait, keturunan Nabi Muhammad SAW, hadis tentang dua pedoman umat Islam, serta sejumlah data yang menurutnya berkaitan dengan nasab, filologi, dan DNA.

Rhoma menyatakan bahwa pembahasan mengenai polemik nasab harus dikembalikan kepada Al Quran dan hadis. Ia juga menyampaikan sikapnya terhadap kelompok Baalawi yang menurutnya tidak mengurangi hubungan persaudaraan meskipun dirinya menyampaikan pandangan berbeda mengenai klaim keturunan Nabi Muhammad SAW.

Rhoma Irama Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Mengawali ceramahnya pada 17 Agustus 2024, Rhoma Irama mengingatkan kembali peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ia menyebut 17 Agustus 2024 merupakan 79 tahun setelah Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Menurut Rhoma, setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pada 18 Agustus 1945 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia ditetapkan.

Rhoma kemudian mengutip bagian Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa dan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Ia menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh secara cuma-cuma.

“Kemerdekaan Indonesia tidak percuma kita capai,” kata Rhoma dalam ceramah tersebut.

Menurut dia, kemerdekaan merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan para pahlawan serta anak-anak bangsa.

Dalam ceramahnya, Rhoma Irama kemudian menyebut sejumlah tokoh perjuangan dari berbagai daerah di Indonesia

Perjuangan Ulama dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Dalam ceramahnya, Rhoma Irama kemudian menyebut sejumlah tokoh perjuangan dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia menyebut Cut Nyak Dien, Teuku Cik Di Tiro, Panglima Polim, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pangeran Jayakarta, serta sejumlah tokoh perjuangan di Kalimantan dan Sulawesi.

Rhoma menyebut tokoh-tokoh tersebut sebagai ulama dan pejuang yang berjuang dengan mengorbankan darah dan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Ia juga menyinggung perjuangan setelah Proklamasi Kemerdekaan ketika Belanda dan Inggris kembali datang ke Indonesia.

Resolusi Jihad dan Pertempuran Surabaya

Rhoma kemudian mengaitkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan peristiwa di Surabaya.

Ia menyebut Hadhratus Syekh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. Menurut Rhoma, resolusi tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari konteks perjuangan umat Islam dan para santri dalam menghadapi pasukan Inggris dan Belanda di Surabaya.

Ia juga menyebut peristiwa 10 November sebagai bagian dari perjuangan tersebut.

Rhoma menyebut nama Bung Tomo yang dikenal dengan pidato-pidatonya dan seruan takbir dalam membangkitkan semangat perjuangan rakyat Surabaya.

Dalam ceramahnya, Rhoma juga menyebut pertempuran tersebut menyebabkan pasukan Inggris dan Belanda menghadapi perlawanan dari rakyat, termasuk umat Islam dan para santri.

Ia kemudian menyebut tewasnya Jenderal Inggris Mallaby dalam rangkaian peristiwa di Surabaya.

Bandung Lautan Api dan Perjuangan di Tasikmalaya

Selain Surabaya, Rhoma Irama juga menyebut perjuangan di Jawa Barat.

Ia menyinggung peristiwa Bandung Lautan Api serta pertempuran di Tasikmalaya.

Dalam ceramah tersebut, Rhoma menyebut Kapten Raden Burjah Anggawirya sebagai salah satu tokoh yang memimpin pertempuran di Tasikmalaya.

Ia menyampaikan bahwa dalam pertempuran tersebut terdapat tank Belanda yang berhasil dihancurkan.

Rhoma juga menunjukkan foto yang berkaitan dengan tank tersebut dalam materi ceramahnya.

Ia kemudian menyebut Mayor Jenderal Haji Marzuki sebagai salah satu tokoh yang menurutnya berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Menurut Rhoma, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan perjalanan perjuangan anak bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Rhoma Irama mengajak masyarakat untuk mensyukuri kemerdekaan dan menghargai jasa para pejuang

Rhoma Ajak Generasi Sekarang Menghargai Jasa Pahlawan

Memasuki pembahasan mengenai generasi setelah kemerdekaan, Rhoma Irama mengajak masyarakat untuk mensyukuri kemerdekaan dan menghargai jasa para pejuang.

Ia menyampaikan doa agar para pejuang mendapatkan pahala yang besar, diterima amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya, serta ditempatkan sebagai orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT.

Menurut Rhoma, generasi sekarang memiliki tugas untuk mengisi kemerdekaan.

Ia mengaitkan tugas tersebut dengan cita-cita bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila.

Mengisi Kemerdekaan dengan Nilai Pancasila

Rhoma menyebut lima sila Pancasila sebagai bagian dari cita-cita yang harus diwujudkan dalam mengisi kemerdekaan.

Lima sila tersebut adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Menurut Rhoma, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari tugas generasi sekarang dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya.

Setelah membahas sejarah kemerdekaan, ceramah Rhoma kemudian beralih kepada polemik mengenai nasab yang menurutnya berkembang di masyarakat.

Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab

Rhoma Irama menyebut bahwa polemik mengenai nasab telah dibahas melalui berbagai sumber dan narasumber.

Dalam ceramahnya, ia menyebut beberapa nama, antara lain Guru Gembul, KH Imaduddin, Gus Romel, Dr. Sugeng Sugiharto, dan Profesor Menim Ali.

Rhoma mengatakan pembahasan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari sejarah nasab, ilmu DNA, hingga filologi.

Ia kemudian menyampaikan sejumlah kesimpulan yang dikaitkannya dengan pembahasan tersebut.

Menurut Rhoma, terdapat perdebatan mengenai keberadaan Ubaidillah sebagai tokoh yang disebut dalam jalur nasab tertentu. Ia juga menyampaikan klaim mengenai hasil pembahasan filologi dan DNA.

Rhoma Mengutip Klaim tentang Filologi dan DNA

Dalam ceramahnya, Rhoma menyebut Profesor Menim Ali dalam konteks pembahasan filologi.

Ia juga menyebut Dr. Sugeng Sugiharto dalam konteks pembahasan DNA.

Rhoma kemudian menyatakan bahwa berdasarkan data yang menurutnya berasal dari ilmu nasab, filologi, dan DNA, dirinya mengambil kesimpulan mengenai klaim keturunan Baalawi.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari materi ceramah Rhoma Irama pada 17 Agustus 2024 dan disampaikan dalam konteks polemik nasab yang sedang dibicarakan.

Rhoma Kembali kepada Al Quran dan Hadis

Setelah membahas polemik nasab, Rhoma Irama mengatakan bahwa persoalan tersebut harus dikembalikan kepada Al Quran dan hadis.

Ia mengutip ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa apabila terjadi perselisihan di antara umat, persoalan tersebut dikembalikan kepada Allah dan Rasul.

Rhoma kemudian menggunakan prinsip tersebut sebagai dasar untuk membahas siapa yang disebut Ahlul Bait, bagaimana kedudukan keluarga Nabi, serta bagaimana umat Islam seharusnya melihat persoalan keturunan.

Menurut Rhoma, pembahasan mengenai Ahlul Bait harus dilihat berdasarkan Al Quran dan hadis.

Rhoma Jelaskan Makna Ahlul Bait

Salah satu bagian utama ceramah Rhoma adalah pembahasan mengenai istilah Ahlul Bait.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, Ahlul Bait dapat dipahami sebagai keluarga atau penghuni rumah.

Rhoma kemudian merujuk pada Surat Al Ahzab ayat 28 sampai 33 dalam penjelasannya.

Menurut pemaparan Rhoma, konteks ayat tersebut berkaitan dengan istri-istri Nabi Muhammad SAW.

Ia menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut terdapat sejumlah ketentuan yang ditujukan kepada istri-istri Nabi.

Takwa sebagai Dasar Kemuliaan

Rhoma menekankan bagian ayat yang menurutnya menunjukkan bahwa dasar kemuliaan bukan semata-mata hubungan keluarga, melainkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.

Ia menyebut bahwa istri-istri Nabi memperoleh kedudukan khusus, tetapi tetap terdapat ketentuan mengenai perilaku, ketaatan, dan amal perbuatan.

Dalam ceramahnya, Rhoma kemudian menyampaikan pandangan bahwa istilah Ahlul Bait dalam konteks ayat tersebut berkaitan dengan keluarga atau rumah tangga Nabi.

Ia juga menyebut hadis yang berkaitan dengan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain sebagai bagian dari pembahasan mengenai Ahlul Bait.

Berdasarkan pemaparannya, Rhoma menekankan perbedaan antara keluarga rumah tangga Nabi dan pengertian keturunan Nabi.

Rhoma Bahas Surat Asy-Syura Ayat 23

Selain Surat Al Ahzab, Rhoma Irama membahas Surat Asy-Syura ayat 23.

Ia mengutip bagian ayat yang berbunyi mengenai “mawaddah fil qurba” dan memberikan penafsiran sesuai pemahamannya.

Menurut Rhoma, ayat tersebut tidak dapat secara langsung digunakan sebagai dasar untuk menyatakan kewajiban mencintai keluarga Nabi dalam pengertian tertentu.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan pemahamannya terhadap bahasa dan konteks turunnya ayat, ayat tersebut berkaitan dengan kasih sayang dalam hubungan kekerabatan.

Kisah Muhajirin dan Ansar

Untuk menjelaskan pemahamannya, Rhoma menyampaikan kisah mengenai kaum Muhajirin dan Ansar.

Ia menceritakan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, terdapat kelompok masyarakat yang sebelumnya saling bermusuhan kemudian menjadi bersaudara setelah menerima dakwah Islam.

Menurut Rhoma, masyarakat Madinah menyambut Nabi dan memberikan berbagai bentuk dukungan.

Ia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan ayat yang menurutnya berbicara mengenai kasih sayang dalam hubungan kekerabatan.

Rhoma menekankan bahwa menurut pemahamannya, ayat tersebut tidak secara khusus bermakna sebagai perintah untuk memberikan kecintaan khusus kepada keluarga Nabi dalam bentuk sebagaimana yang diperdebatkan dalam polemik nasab.

Hadis tentang Al Quran dan Sunah

Pembahasan kemudian berlanjut pada hadis yang dikenal dengan redaksi mengenai dua hal yang ditinggalkan Nabi kepada umat.

Rhoma membandingkan hadis yang menurutnya menyebut Al Quran dan keturunan Nabi dengan hadis yang menyebut Al Quran dan sunah Nabi.

Ia kemudian menyatakan bahwa hadis yang menurutnya lebih kuat adalah hadis yang menyebut Al Quran dan Sunah Nabi.

Menurut Rhoma, umat Islam harus berpegang kepada Al Quran dan sunah agar tidak tersesat.

Kritik terhadap Penafsiran Hadis

Rhoma juga menyampaikan kritik terhadap penafsiran yang menurutnya menjadikan keturunan Nabi sebagai pedoman kedua setelah Al Quran.

Ia mempertanyakan apabila keturunan Nabi dijadikan pedoman yang menjamin seseorang tidak tersesat, sementara setiap individu dari keturunan tersebut tetap dapat melakukan kesalahan.

Menurut Rhoma, pedoman yang dimaksud adalah Al Quran dan sunah Nabi, bukan garis keturunan.

Ia juga menolak pemahaman yang menurutnya dapat menyebabkan seseorang dianggap sesat hanya karena tidak mencintai kelompok tertentu.

Rhoma Tekankan Takwa, Bukan Nasab

Rhoma Tekankan Takwa, Bukan Nasab

Dalam bagian lain ceramahnya, Rhoma mengutip Surat Al Hujurat ayat 13.

Ia menekankan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal.

Rhoma kemudian mengutip bagian ayat yang menyatakan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Menurut Rhoma, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh bangsa atau garis keturunan.

Ia juga menyampaikan hadis yang menurutnya menjelaskan bahwa tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa non-Arab kecuali berdasarkan ketakwaan.

Contoh Bilal bin Rabah

Dalam ceramahnya, Rhoma menggunakan Bilal bin Rabah sebagai contoh.

Ia menyebut Bilal sebagai seorang yang berasal dari Habasyah dan pernah berstatus sebagai budak, tetapi memiliki kedudukan mulia dalam Islam karena ketakwaannya.

Sebaliknya, Rhoma menyebut bahwa seseorang yang berasal dari garis keturunan terhormat tetapi melakukan maksiat tidak otomatis mendapatkan kedudukan lebih tinggi.

Ia juga menyebut sejumlah contoh dari Al Quran mengenai anggota keluarga atau kerabat nabi yang tidak mendapatkan keselamatan hanya karena hubungan darah.

Di antaranya adalah kisah anak Nabi Nuh, Azar yang disebut sebagai bapak Nabi Ibrahim dalam ceramah tersebut, serta istri Nabi Luth.

Rhoma menggunakan contoh tersebut untuk menekankan bahwa hubungan keluarga tidak secara otomatis menentukan keselamatan seseorang.

Rhoma Sebut Nabi Tidak Mengutamakan Keturunan

Rhoma kemudian menyampaikan pandangannya mengenai kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Menurut dia, Nabi merupakan pemimpin yang adil dan tidak menerapkan nepotisme.

Ia juga mengutip kisah ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan kerinduan kepada saudara-saudaranya.

Dalam kisah tersebut, Nabi menjelaskan bahwa para sahabat merupakan orang-orang yang bertemu dengan beliau dan beriman, sedangkan generasi setelahnya yang tidak pernah bertemu Nabi tetapi tetap beriman disebut sebagai saudara-saudara Nabi.

Rhoma menafsirkan kisah tersebut sebagai penekanan bahwa Nabi tidak mengutamakan garis keturunannya.

Ia kemudian menyebut ungkapan Nabi mengenai Fatimah binti Muhammad sebagai contoh bahwa hubungan darah tidak menghapus prinsip hukum dan keadilan.

Rhoma Sampaikan Sikap terhadap Baalawi

Pada bagian akhir ceramah, Rhoma Irama menyampaikan sikapnya mengenai klaim nasab Baalawi.

Ia menyatakan keyakinannya berdasarkan dasar Al Quran, hadis, serta data yang menurutnya berasal dari ilmu nasab, filologi, dan DNA.

Dalam ceramah tersebut, Rhoma menyatakan:

“Saya haqqul yakin bahwa Baalawi bukan keturunan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian utama dari ceramahnya mengenai polemik nasab.

Namun, Rhoma juga menyatakan bahwa pandangan tersebut tidak membuat dirinya berhenti mencintai orang-orang Baalawi sebagai sesama Muslim.

Tetap Menganggap sebagai Sesama Muslim

Rhoma menegaskan bahwa meskipun dirinya menyampaikan pandangan bahwa Baalawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW, ia tetap menganggap mereka sebagai saudara sesama Muslim.

Ia merujuk pada ayat Al Quran yang menyatakan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara.

Rhoma juga menyatakan tidak akan mengurangi persahabatan dengan orang-orang yang berasal dari kelompok Baalawi.

Menurut dia, perbedaan pandangan mengenai nasab tidak seharusnya menghilangkan persaudaraan sesama umat Islam.

Rhoma Tidak Lagi Menggunakan Gelar Habib

Sebagai bagian dari sikap yang disampaikannya, Rhoma mengatakan akan mengubah cara memanggil sejumlah tokoh dari kelompok Baalawi.

Ia menyatakan bahwa untuk membedakan antara keturunan Nabi dan bukan keturunan Nabi, dirinya tidak lagi menggunakan panggilan “Habib” kepada sahabat-sahabatnya dari Baalawi.

Rhoma menyebut beberapa nama yang menurutnya akan dipanggil menggunakan gelar lain apabila mereka memiliki kapasitas keilmuan.

Ia mencontohkan nama Ustaz Rizieq Shihab dan Ustaz Taufiq Assegaf.

Menurut Rhoma, apabila seseorang memiliki ilmu, ia akan menggunakan panggilan “mukarram” atau “ustaz”, sedangkan untuk mereka yang tidak menggunakan gelar ustaz, ia akan menggunakan sapaan persaudaraan seperti “akhi” atau “akhina fillah”.

Rhoma Minta Maaf kepada Sejumlah Tokoh

Menutup ceramahnya, Rhoma Irama menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah tokoh dari kelompok Baalawi.

Ia menyebut Ustaz Muhammad Rizieq Shihab dan tokoh-tokoh lain.

Rhoma meminta maaf apabila pernyataannya selama polemik nasab pernah menyinggung atau melukai perasaan pihak tertentu.

Ia juga menyatakan membuka pintu maaf kepada kelompok Baalawi.

Pernyataan tersebut menjadi penutup ceramah Rhoma Irama dalam rangka HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024.

Ceramah Rhoma Irama pada momentum HUT RI tersebut menggabungkan dua pembahasan utama, yakni sejarah perjuangan kemerdekaan dan persoalan keagamaan yang berkaitan dengan polemik nasab

Makna Kemerdekaan dan Pesan Persatuan

Ceramah Rhoma Irama pada momentum HUT RI tersebut menggabungkan dua pembahasan utama, yakni sejarah perjuangan kemerdekaan dan persoalan keagamaan yang berkaitan dengan polemik nasab.

Pada bagian awal, Rhoma menekankan pengorbanan para pejuang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Ia menyebut berbagai tokoh dan peristiwa perjuangan dari sejumlah daerah, termasuk perjuangan ulama dan santri dalam menghadapi pasukan asing.

Setelah itu, Rhoma mengaitkan kemerdekaan dengan kewajiban generasi sekarang untuk mengisinya melalui nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila.

Pada bagian lain, Rhoma membahas polemik nasab dengan pendekatan yang menurutnya bersumber dari Al Quran, hadis, ilmu nasab, filologi, dan DNA.

Meski menyatakan keyakinan berbeda mengenai klaim nasab Baalawi, Rhoma tetap menyampaikan komitmen untuk menjaga hubungan persaudaraan sebagai sesama Muslim.

Pernyataan Rhoma tentang Persaudaraan

Sikap tersebut disampaikan Rhoma setelah ia menyatakan keyakinannya mengenai status nasab Baalawi.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan mengenai nasab tidak akan membuatnya berhenti mencintai maupun bersahabat dengan mereka.

Dengan demikian, bagian penutup ceramahnya berisi permintaan maaf sekaligus penegasan bahwa pintu persaudaraan tetap terbuka.

FAQ

Apa isi ceramah Rhoma Irama pada HUT RI 17 Agustus 2024?

Ceramah Rhoma Irama membahas sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, peran ulama dan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan, kewajiban generasi sekarang mengisi kemerdekaan, serta polemik mengenai Ahlul Bait dan nasab Baalawi.

Kapan ceramah Rhoma Irama tersebut disampaikan?

Ceramah tersebut disampaikan dalam rangka HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024 dan ditayangkan melalui kanal YouTube Rhoma Irama Official.

Apa yang disampaikan Rhoma tentang perjuangan kemerdekaan?

Rhoma menyebut sejumlah tokoh dan peristiwa perjuangan di berbagai daerah, termasuk perjuangan Cut Nyak Dien, Teuku Cik Di Tiro, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, perjuangan di Surabaya, Bandung Lautan Api, dan pertempuran di Tasikmalaya.

Apa yang dibahas Rhoma tentang Ahlul Bait?

Rhoma membahas pengertian Ahlul Bait dengan merujuk pada Al Quran dan hadis. Dalam ceramahnya, ia menekankan pembahasan mengenai keluarga rumah tangga Nabi Muhammad SAW dan membedakannya dari pengertian keturunan Nabi.

Apa pendapat Rhoma tentang nasab Baalawi?

Dalam ceramah tersebut, Rhoma menyatakan keyakinannya bahwa Baalawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW. Ia mengatakan kesimpulan tersebut didasarkan pada pemahamannya terhadap Al Quran dan hadis serta data yang menurutnya berasal dari ilmu nasab, filologi, dan DNA.

Apakah Rhoma memutuskan hubungan dengan kelompok Baalawi?

Tidak. Dalam ceramahnya, Rhoma justru menyatakan tetap mencintai dan bersahabat dengan mereka sebagai sesama Muslim meskipun berbeda pandangan mengenai nasab.

Mengapa Rhoma mengatakan tidak lagi menggunakan panggilan Habib?

Rhoma menyatakan bahwa ia ingin membedakan antara orang yang menurut keyakinannya merupakan keturunan Nabi dan orang yang bukan keturunan Nabi. Karena itu, ia mengatakan akan menggunakan panggilan seperti ustaz atau akhi kepada sejumlah sahabatnya dari kelompok Baalawi.

Apa pesan Rhoma kepada generasi setelah kemerdekaan?

Rhoma menyampaikan bahwa generasi sekarang memiliki kewajiban mengisi kemerdekaan dengan menjalankan cita-cita bangsa, termasuk nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Apa pesan penutup Rhoma dalam ceramah tersebut?

Di akhir ceramah, Rhoma meminta maaf kepada sejumlah tokoh Baalawi apabila pernyataannya pernah menyinggung perasaan mereka. Ia juga menyatakan tetap membuka pintu persaudaraan dan persahabatan.

Di mana ceramah Rhoma Irama tersebut dapat ditemukan?

Ceramah tersebut disampaikan melalui kanal Rhoma Irama Official dan berkaitan dengan peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button