invisible hit counter
Nasional

Muktamar NU ke-35: Drs. Raden Ismail dan KH Nur Ihyak Bahas Khitah NU & Polemik Makam di Tuban

WARTA BATAVIASURABAYA — Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi salah satu topik utama dalam perbincangan Drs. Raden Ismail, Ketua DPD PWI LS Surabaya, bersama KH Nur Ihyak Hadinegoro dalam sebuah podcast di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, 27 Agustus 2026.

Dalam perbincangan tersebut, Raden Ismail menyampaikan ucapan selamat atas penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 yang disebut berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mendapatkan rahmat serta petunjuk dari Allah SWT.

Selain membahas Muktamar NU, diskusi juga menyinggung pandangan terhadap kepemimpinan organisasi, pengalaman Raden Ismail di lingkungan NU, peran PWI LS dan Laskar Sabilillah, persoalan makam di kawasan Tuban yang dikaitkan dengan leluhurnya, serta polemik mengenai nasab Ba’alawi.

Pembicaraan kemudian berkembang pada isu Masjid Agung Sunan Ampel, hubungan antara NU dan organisasi nonstruktural, serta harapan agar NU kembali kepada khitah dan tidak terseret ke dalam politik praktis.

Raden Ismail Sampaikan Ucapan Selamat untuk Muktamar NU ke-35

Dalam pembukaan keterangannya, Raden Ismail memperkenalkan dirinya sebagai Ketua DPD PWI LS Surabaya. Ia secara khusus menyampaikan ucapan selamat atas pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.

Ia berharap panitia dapat melaksanakan seluruh agenda muktamar dengan sebaik-baiknya dan tidak menghadapi hambatan berarti.

“Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan rahmat, hidayah, dan inayahnya,” kata Raden Ismail dalam pernyataannya yang dikutip dari rekaman tersebut.

Menurut dia, kelancaran muktamar menjadi harapan bersama. Ia juga menyampaikan doa agar agenda organisasi NU tersebut berjalan tertib dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat.

Raden Ismail kemudian menceritakan keterlibatannya dengan NU sebelum menjadi Ketua DPD PWI LS Surabaya. Ia menyebut pernah aktif dalam lingkungan pelajar NU dan sejumlah kegiatan organisasi pada masa lalu.

Ia juga menyebut pernah berada di MWC NU Semampir, Surabaya, serta mengenal sejumlah tokoh NU.

Kritik Raden Ismail terhadap Kepemimpinan NU

Dalam diskusi tersebut, Raden Ismail menyampaikan pandangan kritis mengenai salah satu figur yang disebutnya berkaitan dengan kepemimpinan NU. Ia menyatakan bahwa menurut penilaiannya, figur tersebut dinilai belum cukup mumpuni untuk kembali menduduki posisi tertentu dalam kepengurusan NU.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika pembicaraan mengarah pada Muktamar NU ke-35 dan kemungkinan susunan kepemimpinan yang akan dihasilkan.

Raden Ismail juga menyinggung sebuah video pidato berbahasa Arab yang menurutnya memperlihatkan adanya beberapa kesalahan. Ia menyebut kesalahan tersebut ditegur oleh seorang siswi madrasah ibtidaiyah.

Namun, pernyataan mengenai kualitas kemampuan seseorang tersebut merupakan penilaian yang disampaikan langsung oleh Raden Ismail dalam podcast dan bukan hasil verifikasi independen dalam materi yang tersedia.

KH Nur Ihyak kemudian mengingatkan bahwa bagian tersebut masih merupakan pembukaan atau pemanasan sebelum memasuki pembahasan utama.

Pengalaman Raden Ismail di Lingkungan NU

Raden Ismail menjelaskan bahwa pandangannya terhadap dinamika NU tidak terlepas dari pengalaman panjangnya di lingkungan organisasi tersebut.

Dalam percakapan itu disebutkan bahwa ia pernah berada di lingkungan MWC NU Semampir, Surabaya. Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya memiliki hubungan sejarah dengan sejumlah tokoh dan lingkungan keagamaan di Jawa Timur.

KH Nur Ihyak kemudian memperkenalkan Raden Ismail sebagai sosok yang memiliki leluhur yang dimakamkan di sekitar kawasan Sunan Bonang, Tuban.

Pembahasan mengenai makam tersebut selanjutnya menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi karena Raden Ismail mengaku memiliki pengalaman pribadi terkait perubahan atau kemunculan sejumlah penanda makam di kawasan tersebut.

Ahmad Jauhari Berharap Muktamar NU Berjalan Aman

Selain Raden Ismail dan KH Nur Ihyak, diskusi tersebut juga menghadirkan Ketua atau Panglima Laskar Sabilillah wilayah Jawa Timur, KH Ahmad Jauhari.

Ahmad Jauhari menyampaikan rasa syukur atas pembukaan Muktamar NU ke-35. Ia menyebut kehadiran sejumlah pejabat negara dalam pembukaan muktamar sebagai sesuatu yang menurutnya menunjukkan perhatian terhadap agenda NU.

Ia berharap seluruh rangkaian muktamar berjalan aman, damai, dan lancar.

Ahmad Jauhari juga menyampaikan pandangannya mengenai kandidat kepemimpinan NU. Dalam keterangannya, ia berharap figur yang pernah berada dalam kepengurusan sebelumnya dapat mempertimbangkan kembali pencalonannya apabila terdapat keberatan dari masyarakat.

Ia menyebut pandangan tersebut sebagai harapannya berdasarkan komunikasi dengan masyarakat bawah yang diklaimnya cukup dekat dengannya.

PWI LS Disebut sebagai Organisasi Nonstruktural yang Berbasis NU

PWI LS Disebut sebagai Organisasi Nonstruktural yang Berbasis NU

Dalam diskusi, muncul pertanyaan mengenai hubungan PWI LS dengan NU.

Ahmad Jauhari menjelaskan bahwa menurut pandangannya, PWI LS merupakan organisasi yang beranggotakan orang-orang NU dan berada dalam lingkungan organisasi NU secara nonstruktural.

Ia mengaitkan PWI LS dengan Pembela Wali Songo Indonesia dan Laskar Sabilillah. Menurutnya, sejumlah anggota Laskar Sabilillah memiliki latar belakang Banser.

Ahmad Jauhari juga menceritakan pengalaman organisasinya sebelum berada di Laskar Sabilillah. Ia menyebut pernah menjadi ketua Barisan Nasional Pemuda Madura dan kemudian memutuskan untuk fokus pada kegiatan Laskar Sabilillah dan PWI LS.

Menurut dia, keberadaan organisasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi bangsa, negara, dan agama.

Ia juga mengatakan bahwa semangat perjuangan yang dibawa organisasi tersebut diharapkan tidak hanya ditujukan kepada warga Nahdliyin, tetapi juga kepada umat Islam secara luas.

Persoalan Kepemimpinan NU dan Harapan terhadap Muktamar

Pembahasan kemudian kembali pada dinamika kepemimpinan NU.

Ahmad Jauhari menyampaikan kritik terhadap konflik internal yang disebutnya terjadi dalam kepengurusan NU. Ia menyinggung adanya persoalan pemberhentian atau pergantian sejumlah pengurus.

Dalam transkrip, Ahmad Jauhari mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap pola saling memberhentikan yang menurutnya terjadi dalam organisasi.

Ia juga menyampaikan harapan agar figur yang sudah pernah memimpin dapat mempertimbangkan untuk tidak kembali mencalonkan diri apabila kondisi organisasi membutuhkan penyegaran.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian diskusi mengenai regenerasi dan arah kepemimpinan NU dalam Muktamar ke-35.

Raden Ismail Soroti Persoalan Makam di Tuban

Selain Muktamar NU, Raden Ismail dan KH Nur Ihyak membahas persoalan makam di Tuban.

Raden Ismail menyatakan memiliki leluhur bernama Kiai Raden Badruddin yang dimakamkan di kawasan tersebut. Ia mengaku secara rutin melakukan ziarah ke makam leluhurnya.

Dalam penuturannya, ia mengaku terkejut ketika melihat adanya makam yang menurutnya menggunakan identitas atau nama keluarga tertentu di dekat makam leluhurnya.

Raden Ismail menyebut bahwa dirinya sempat menduga penanda makam tersebut merupakan sesuatu yang baru atau sebelumnya tidak terdapat di lokasi tersebut.

Ia mengatakan persoalan tersebut telah ditangani oleh pihak berwenang sehingga dirinya memilih menunggu proses yang berlangsung.

Ia juga menyatakan bahwa dirinya telah melakukan ziarah ke kawasan makam tersebut setidaknya secara rutin dari tahun ke tahun.

Kisah Kiai Raden Badruddin

Dalam podcast tersebut, Raden Ismail menjelaskan identitas leluhurnya yang dimakamkan di Tuban.

Ia menyebut nama leluhurnya sebagai Kiai Raden Badruddin. Menurut penuturannya, tokoh tersebut pernah menjabat sebagai penghulu dan memiliki hubungan dengan pemerintahan pada masa lalu.

Raden Ismail menceritakan bahwa leluhurnya meninggal ketika berada di Tuban setelah menghadiri kegiatan bersama pejabat setempat. Menurut cerita yang disampaikannya, makam tersebut kemudian dirawat oleh keluarga.

Keterangan mengenai sejarah keluarga dan makam tersebut disampaikan berdasarkan ingatan serta cerita keluarga Raden Ismail dalam podcast. Materi yang tersedia tidak memuat dokumen sejarah independen untuk memverifikasi seluruh detail tersebut.

Perubahan Penanda Makam Menjadi Perhatian

Raden Ismail juga menceritakan perubahan sejumlah penanda makam di kawasan tersebut.

Menurut dia, pada masa lalu terdapat bentuk penanda makam yang berbeda dengan kondisi yang ia lihat kemudian. Ia menyebut adanya penanda makam dengan sejumlah nama keluarga yang menurutnya tidak ia temukan ketika berziarah pada masa sebelumnya.

Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan masa pandemi Covid-19. Menurut penuturannya, pembatasan aktivitas ziarah pada masa pandemi dapat menyebabkan kawasan makam memiliki kondisi berbeda setelah masyarakat kembali melakukan aktivitas di lokasi tersebut.

Raden Ismail meminta agar persoalan tersebut mendapat perhatian dan segera diselesaikan melalui mekanisme hukum atau pemeriksaan yang berwenang.

Ia mengatakan PWI LS di Tuban dan organisasi PWI LS lainnya di Jawa Timur perlu ikut memberikan perhatian terhadap persoalan masyarakat tersebut.

Rencana Gelar Perkara Disebut Akan Dilanjutkan

Dalam percakapan tersebut, KH Nur Ihyak menyebut adanya permintaan dari sejumlah pihak agar kepolisian melakukan gelar perkara terkait persoalan di Tuban.

Ia menyebut beberapa daerah yang disebut memiliki keterkaitan dengan pihak-pihak yang mengikuti perkembangan kasus tersebut, antara lain Kudus, Jepara, Semarang, dan Tuban.

Raden Ismail menyatakan bahwa dirinya berharap proses tersebut segera dilakukan.

Dalam diskusi juga disebut rencana pertemuan dengan sejumlah pihak pada September 2026 untuk membahas persoalan tersebut dan bukti-bukti yang telah diajukan.

Informasi mengenai rencana gelar perkara tersebut merupakan keterangan dalam podcast dan tidak disertai dokumen kepolisian dalam materi yang menjadi dasar artikel ini.

Polemik Nasab Ba’alawi

Pembahasan selanjutnya masuk ke isu nasab Ba’alawi.

Raden Ismail menyampaikan bahwa menurut pandangannya, polemik nasab perlu dibahas karena berkaitan dengan sejarah dan penghormatan terhadap nasab Nabi Muhammad SAW.

Ia menyebut KH Imaduddin Utsman sebagai salah satu pihak yang menurutnya berperan dalam meluruskan persoalan nasab Ba’alawi.

Raden Ismail menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud membenci habaib. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya ditujukan terhadap perilaku yang menurutnya bermasalah, bukan kepada seluruh individu yang menggunakan gelar habib.

Pernyataan tersebut menjadi penting dalam konteks pemberitaan karena materi podcast memuat sejumlah tudingan terhadap kelompok tertentu. Tudingan tersebut merupakan pernyataan narasumber dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti tanpa verifikasi tambahan.

Raden Ismail Ceritakan Hubungan Keluarga dengan Keturunan Alatas

Raden Ismail Ceritakan Hubungan Keluarga dengan Keturunan Alatas

Dalam diskusi, Raden Ismail juga menyampaikan bahwa dirinya memiliki hubungan keluarga dengan seseorang bermarga Alatas yang tinggal di Malaysia.

Ia menceritakan bahwa orang tersebut pernah menjadi anak angkat keluarganya. Menurut Raden Ismail, hubungan tersebut berlangsung baik dan keluarga tersebut tidak menjadikan identitas nasab sebagai dasar dalam hubungan sosial mereka.

Cerita tersebut digunakan Raden Ismail untuk menjelaskan bahwa kritik terhadap persoalan nasab, menurut versinya, tidak identik dengan kebencian terhadap seluruh orang yang memiliki garis keturunan atau marga tertentu.

Perdebatan tentang Praktik Ziarah dan Identitas Habaib

Dalam diskusi, muncul pula cerita mengenai seseorang yang disebut sebagai habib muda di kawasan Ampel.

Raden Ismail menceritakan sebuah pengalaman yang ia dengar dari temannya mengenai seorang habib muda yang disebut berada dalam kondisi mabuk dan kemudian diperingatkan.

Cerita tersebut digunakan dalam diskusi untuk membahas pandangan sebagian masyarakat yang menganggap seseorang yang memiliki status keturunan tertentu tidak perlu ditegur.

Namun, cerita tersebut merupakan kesaksian tidak langsung yang disampaikan Raden Ismail berdasarkan cerita dari temannya dan tidak disertai identitas maupun verifikasi pihak lain dalam materi podcast.

Sorotan terhadap Aktivitas di Masjid Agung Sunan Ampel

Pembicaraan kemudian bergeser ke Masjid Agung Sunan Ampel.

Raden Ismail menyinggung keterlibatan sejumlah habaib dalam kegiatan khotbah dan imam salat Jumat di masjid tersebut.

Ia menyebut bahwa kondisi tersebut menurutnya berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Ia juga mengutip cerita mengenai adanya wasiat leluhur di kawasan Ampel yang disebut berkaitan dengan posisi imam dan khatib.

Namun, isi mengenai wasiat tersebut dalam transkrip disampaikan sebagai cerita dari seorang teman Raden Ismail dan tidak dilengkapi sumber dokumenter dalam materi yang tersedia.

Raden Ismail juga menyinggung kegiatan setelah salat Jumat di kawasan tersebut yang menurutnya kerap berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh-tokoh tertentu.

Ia kemudian meminta agar persoalan pengelolaan Masjid Agung Sunan Ampel mendapatkan perhatian dari pihak pengurus.

Dualisme Kepemimpinan Masjid Agung Sunan Ampel

Dalam percakapan tersebut juga disebut adanya persoalan dualisme kepemimpinan di lingkungan pengelolaan Masjid Agung Sunan Ampel.

KH Nur Ihyak menyatakan bahwa data mengenai laporan dan pelaporan yang berkaitan dengan persoalan tersebut disimpan oleh pihaknya.

Meski demikian, transkrip tidak memuat dokumen hukum yang dapat digunakan untuk memastikan status resmi persoalan kepengurusan tersebut.

Karena itu, informasi mengenai dualisme kepemimpinan tersebut perlu ditempatkan sebagai keterangan yang disampaikan narasumber dalam podcast.

Raden Ismail Paparkan Silsilah Keluarga

Dalam bagian lain diskusi, Raden Ismail juga menceritakan garis keturunan keluarganya.

Ia menyebut dirinya berasal dari jalur Raden Kiai Muhammad Nur dan kemudian mengaitkannya dengan sejumlah tokoh dalam sejarah lokal Madura dan Jawa.

Dalam percakapan tersebut disebut beberapa nama seperti Raden Zainal Abidin, Raden Qasim, Raden Yakub, Nyai Nur Kumala, Sunan Putra Manggala, serta sejumlah tokoh lain yang berkaitan dengan cerita keluarga dan tradisi lisan.

Penuturan mengenai silsilah tersebut merupakan bagian dari cerita narasumber dan tidak disertai dokumen genealogis lengkap dalam materi yang diberikan.

Wali Songo dan Perjuangan NU

KH Nur Ihyak kemudian menarik pembahasan kepada hubungan antara sejarah dakwah Wali Songo dan Nahdlatul Ulama.

Menurut pandangan yang disampaikan dalam diskusi, perjuangan dakwah Wali Songo kemudian diteruskan melalui gerakan Nahdlatul Ulama.

Ia menyebut bahwa semangat dakwah, perjuangan keagamaan, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu alasan organisasi yang memiliki hubungan dengan PWI LS dan Laskar Sabilillah perlu ikut berkontribusi.

Dalam percakapan itu juga disebut bahwa anggota organisasi tidak seluruhnya berasal dari garis keturunan biologis Wali Songo, tetapi memiliki apa yang disebut sebagai “darah pejuang” dalam arti semangat perjuangan.

PWI LS Disebut Berharap Dapat Berperan dalam Muktamar

PWI LS Disebut Berharap Dapat Berperan dalam Muktamar

Raden Ismail dan KH Nur Ihyak juga membicarakan posisi PWI LS dalam rangkaian Muktamar NU ke-35.

Mereka menyebut bahwa organisasi tersebut seharusnya memiliki ruang untuk memberikan kontribusi dalam agenda muktamar.

Meski demikian, mereka menyatakan bahwa PWI LS tidak mendapatkan panggung khusus dalam muktamar. Dalam diskusi disebut adanya pameran yang berkaitan dengan organisasi serta rencana kegiatan istighasah di Jombang.

Harapan terhadap Calon Ketua PBNU

Ketika ditanya mengenai calon Ketua Umum PBNU yang akan menggantikan Gus Yahya Cholil Staquf, Raden Ismail menyampaikan bahwa menurutnya hal utama bukanlah nama tertentu, melainkan kriteria calon.

Ia secara tegas mengatakan bahwa calon yang dipilih sebaiknya bukan dari kelompok atau nama yang menurutnya tidak sesuai dengan harapannya.

Dalam transkrip, ia menyebut bahwa yang paling penting adalah sosok tersebut bukan berasal dari kelompok yang ia kritik dalam pembahasan sebelumnya.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Raden Ismail mengenai pilihan kepemimpinan NU dalam muktamar.

Kriteria Pemimpin NU Menurut Raden Ismail

Raden Ismail kemudian menyampaikan pandangan mengenai kriteria seorang pemimpin keagamaan di lingkungan NU.

Ia menyebut kemampuan dalam bidang keilmuan agama sebagai salah satu hal yang menurutnya penting.

Ia juga berpendapat bahwa seorang rais harus memiliki kemampuan menyusun atau mengarang kitab berbahasa Arab.

Dalam konteks tersebut, ia menyebut sejumlah tokoh muda yang menurutnya memiliki wawasan keagamaan dan kemampuan menyusun karya keilmuan.

Nama KH Imaduddin Utsman, Gus Faris Muntet, dan Gus Abbas disebut dalam percakapan sebagai contoh tokoh yang menurut Raden Ismail perlu mendapatkan ruang lebih besar dalam lingkungan PBNU.

KH Imaduddin Disebut sebagai Aset Keilmuan

Raden Ismail juga menyampaikan harapan agar KH Imaduddin Utsman tidak disisihkan dari lingkungan NU.

Ia menyebut KH Imaduddin sebagai aset yang menurutnya memiliki kemampuan dalam bidang keilmuan.

Dalam diskusi, ia menyampaikan bahwa seorang tokoh yang pernah menghadapi persoalan organisasi tetap dapat berkontribusi melalui lembaga atau badan lain di lingkungan NU.

Ia juga menyinggung keberadaan KH Imaduddin dalam organisasi lain yang masih memiliki keterkaitan dengan lingkungan NU.

NU Disebut Bukan Milik Kelompok Tertentu

Salah satu pesan yang cukup menonjol dalam diskusi adalah pandangan bahwa NU bukan milik kelompok atau individu tertentu.

Raden Ismail dan KH Nur Ihyak menyatakan bahwa NU merupakan organisasi yang memiliki basis warga luas.

Mereka juga membandingkan hal tersebut dengan pandangan mengenai Islam yang menurut mereka tidak dapat diklaim sebagai milik satu kelompok tertentu.

Dalam konteks NU, mereka menyampaikan bahwa warga Nahdliyin secara luas memiliki hubungan dengan organisasi tersebut, baik yang berada dalam struktur kepengurusan maupun yang berada di luar struktur.

Semangat Organisasi Tidak Ditentukan Usia

Raden Ismail juga berbicara mengenai usia dan semangat berorganisasi.

Dalam perbincangan, ia disebut sebagai salah satu ketua PWI LS yang memiliki usia relatif senior.

Namun, ia menegaskan bahwa usia tidak menjadi ukuran utama dalam perjuangan organisasi.

Menurutnya, yang lebih penting adalah kemauan untuk bekerja, berkarya, dan menjalankan tugas.

Ia juga menekankan pentingnya pembagian tugas di antara anggota organisasi karena setiap orang memiliki kegiatan dan tanggung jawab yang berbeda.

Tujuan PWI LS dan NU Disebut Memiliki Kesamaan

Tujuan PWI LS dan NU Disebut Memiliki Kesamaan

Dalam bagian akhir diskusi, KH Nur Ihyak menyimpulkan bahwa terdapat tujuan yang dianggap sejalan antara PWI LS dan NU.

Ia menyebut tujuan tersebut berkaitan dengan kemuliaan Islam dan kaum Muslimin serta semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Menurutnya, perbedaan bentuk organisasi tidak seharusnya menghilangkan kesamaan tujuan dalam menjalankan kegiatan keagamaan dan sosial.

Pembahasan tersebut kemudian diarahkan kembali kepada pentingnya Muktamar NU sebagai momentum menentukan arah organisasi.

Raden Ismail Berharap Muktamar NU Berjalan Tertib

Menjelang akhir podcast, Raden Ismail kembali menyampaikan harapan mengenai Muktamar NU ke-35.

Ia berharap kegiatan yang disebut berlangsung mulai 27 hingga 31 Agustus tersebut dapat berjalan tertib dan lancar.

Ia juga berharap tidak terjadi persoalan yang tidak diinginkan selama rangkaian kegiatan muktamar.

Dalam pernyataannya, ia mengaitkan keberhasilan muktamar dengan terbentuknya kepengurusan yang sesuai dengan harapannya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pesan pribadi Raden Ismail dalam podcast.

Ahmad Jauhari Sampaikan Harapan dari Laskar Sabilillah Jawa Timur

Pada bagian penutup, Ahmad Jauhari kembali menyampaikan harapannya.

Sebagai Panglima Laskar Sabilillah Jawa Timur, ia berharap Muktamar NU ke-35 berlangsung aman dan sukses.

Ia juga menyampaikan pandangan mengenai pihak-pihak tertentu yang menurutnya tidak seharusnya terlibat dalam muktamar.

Pernyataan tersebut disampaikan secara terbuka dalam diskusi dan menjadi bagian dari pandangan organisasi yang diwakilinya dalam podcast.

Seruan agar NU Kembali kepada Khitah

Pada bagian akhir, KH Nur Ihyak menyampaikan garis besar kesimpulan dari pembicaraan.

Menurutnya, salah satu poin penting yang dibahas adalah perlunya NU kembali kepada khitah atau tujuan awal organisasi.

Ia juga menyinggung kekhawatiran terhadap praktik politik uang dan transaksi dalam proses organisasi.

Dalam transkrip, ia menyebut bahwa NU bukan partai politik sehingga organisasi tersebut menurutnya tidak seharusnya diperlakukan seperti arena politik praktis.

KH Nur Ihyak kemudian mengaitkan persoalan politik praktis dengan sejumlah persoalan keagamaan dan sosial yang menurutnya masih perlu mendapatkan perhatian.

Ia menyebut persoalan nasab, akidah, syariah, dan tasawuf sebagai bidang yang membutuhkan perhatian dari organisasi keagamaan.

Politik Praktis Dinilai Perlu Dihindari

Dalam penutupan diskusi, KH Nur Ihyak menekankan kembali pentingnya menjaga NU agar tidak terlalu jauh masuk ke ranah politik praktis.

Menurut pernyataannya, NU memiliki basis warga yang besar sehingga penguasaan organisasi tersebut dapat memiliki pengaruh terhadap proses politik nasional maupun daerah.

Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut perlu dikelola dengan hati-hati agar tujuan awal organisasi tidak berubah.

Ia berharap hasil Muktamar NU ke-35 dapat membawa organisasi kembali kepada khitah dan tujuan pendirian awalnya.

Polemik Makam Tuban Masih Menjadi Perhatian

Selain isu Muktamar NU, persoalan makam di Tuban menjadi salah satu tema yang paling panjang dibahas dalam podcast.

Raden Ismail menyampaikan bahwa makam leluhurnya, Kiai Raden Badruddin, telah menjadi bagian dari sejarah keluarganya.

Ia mengaku telah melakukan ziarah ke lokasi tersebut selama bertahun-tahun dan kemudian memperhatikan adanya perubahan pada sejumlah penanda makam.

Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui proses yang transparan dan melibatkan pihak berwenang.

Dalam diskusi disebut pula adanya rencana gelar perkara dan pertemuan dengan sejumlah pihak yang mengikuti perkembangan persoalan tersebut.

Pernyataan tentang Nasab Perlu Ditempatkan sebagai Klaim Narasumber

Sejumlah pernyataan dalam podcast berkaitan dengan nasab, identitas keturunan, makam, serta kelompok Ba’alawi.

Dalam konteks pemberitaan, pernyataan tersebut perlu dibedakan antara pendapat narasumber dan fakta yang telah terverifikasi.

Transkrip yang menjadi dasar artikel ini tidak menyertakan dokumen sejarah, hasil penelitian genealogis, putusan hukum, maupun keterangan resmi seluruh pihak yang disebut.

Karena itu, berbagai tudingan atau klaim yang disampaikan dalam podcast tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai fakta yang telah terbukti.

Artikel ini menempatkan pernyataan tersebut sebagai bagian dari materi diskusi yang disampaikan Raden Ismail dan KH Nur Ihyak pada 27 Agustus 2026.

Muktamar NU Menjadi Momentum Penentuan Arah Organisasi

Muktamar NU Menjadi Momentum Penentuan Arah Organisasi

Secara keseluruhan, diskusi antara Raden Ismail dan KH Nur Ihyak menempatkan Muktamar NU ke-35 sebagai momentum penting bagi masa depan organisasi.

Topik yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan siapa yang akan menduduki posisi kepemimpinan, tetapi juga mengenai kriteria pemimpin, hubungan NU dengan organisasi nonstruktural, peran kader, isu keilmuan, serta hubungan organisasi dengan masyarakat.

Diskusi tersebut juga memperlihatkan perhatian narasumber terhadap isu politik uang, konflik kepengurusan, dan pentingnya menjaga NU dari politik praktis.

Di sisi lain, persoalan makam di Tuban dan polemik nasab Ba’alawi menjadi isu lain yang dibahas secara panjang karena berkaitan dengan sejarah, identitas, dan penghormatan terhadap tokoh agama.

Kesimpulan

Podcast KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 27 Agustus 2026 menghadirkan Drs. Raden Ismail selaku Ketua DPD PWI LS Surabaya dan KH Ahmad Jauhari dari Laskar Sabilillah Jawa Timur bersama KH Nur Ihyak Hadinegoro.

Raden Ismail menyampaikan ucapan selamat atas Muktamar NU ke-35 dan berharap agenda tersebut berjalan lancar. Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan sejumlah pandangan mengenai kepemimpinan NU, kriteria tokoh yang dianggap layak menduduki posisi strategis, serta harapan agar NU kembali kepada khitah.

Pembahasan juga menyentuh hubungan PWI LS dengan NU, peran Laskar Sabilillah, persoalan makam di Tuban yang dikaitkan dengan leluhur Raden Ismail, serta polemik nasab Ba’alawi.

Ahmad Jauhari menyampaikan harapan agar Muktamar NU berjalan aman dan menghasilkan kepemimpinan yang sesuai dengan harapan masyarakat. Sementara KH Nur Ihyak menutup diskusi dengan seruan agar NU menjaga tujuan awal organisasi dan tidak terseret terlalu jauh ke dalam politik praktis.

Seluruh pernyataan kontroversial mengenai individu, kelompok, nasab, makam, maupun organisasi dalam artikel ini merupakan pernyataan yang disampaikan narasumber dalam rekaman podcast. Transkrip yang menjadi dasar tulisan tidak memuat verifikasi independen atas seluruh klaim tersebut.

FAQ

Apa yang dibahas Raden Ismail dalam podcast KRT Nur Ikhyak Hadinegoro?

Raden Ismail membahas sejumlah isu, mulai dari Muktamar NU ke-35, kepemimpinan NU, pengalaman organisasinya di lingkungan NU, peran PWI LS dan Laskar Sabilillah, persoalan makam di Tuban, polemik nasab Ba’alawi, hingga harapan agar NU kembali kepada khitah.

Kapan podcast tersebut berlangsung?

Berdasarkan transkrip yang diberikan, pembahasan berlangsung pada 27 Agustus 2026 di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro.

Siapa Raden Ismail yang disebut dalam podcast?

Dalam rekaman, narasumber memperkenalkan dirinya sebagai Drs. Raden Ismail, Ketua DPD PWI LS Surabaya. Ia juga menceritakan pengalaman keterlibatannya dalam lingkungan NU sebelum memimpin PWI LS Surabaya.

Apa yang disampaikan tentang Muktamar NU ke-35?

Raden Ismail menyampaikan ucapan selamat dan doa agar Muktamar NU ke-35 berjalan lancar. Ahmad Jauhari juga menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan sukses.

Apa kaitan PWI LS dengan NU menurut narasumber?

Ahmad Jauhari menyatakan bahwa PWI LS menurut pandangannya merupakan organisasi nonstruktural yang beranggotakan orang-orang NU. Ia juga mengaitkannya dengan Pembela Wali Songo Indonesia dan Laskar Sabilillah.

Apa persoalan makam yang dibahas?

Raden Ismail membahas makam leluhurnya, Kiai Raden Badruddin, di kawasan Tuban. Ia menyampaikan adanya perubahan sejumlah penanda makam yang menurutnya perlu ditelusuri dan berharap persoalan tersebut dapat diproses melalui mekanisme yang berwenang.

Apa yang dibahas mengenai nasab Ba’alawi?

Raden Ismail menyampaikan pandangannya mengenai polemik nasab Ba’alawi dan menyatakan bahwa menurutnya pembahasan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga nasab Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengatakan bahwa kritik terhadap perilaku tertentu tidak berarti membenci seluruh orang yang memiliki identitas habaib.

Apa harapan narasumber terhadap NU setelah Muktamar ke-35?

Salah satu harapan utama yang disampaikan adalah agar NU kembali kepada khitah dan tujuan awal pendiriannya serta tidak terseret terlalu jauh ke politik praktis.

Sumber:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button