Gus Aziz Jazuli Bahas Kitab Ummul Barahin dan Ilmu Tauhid

Gus Aziz Jazuli Soroti Pengharaman Kitab Ummul Barahin, Sebut Kitab Sanusi Dipakai dalam Pendidikan Akidah
WARTA BATAVIA– Gus Aziz Jazuli dalam penjelasannya di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 17 Agustus 2026 membahas pernyataan mengenai kitab Ummul Barahin karya Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi at-Tilimsani.
Dalam penjelasan tersebut, Gus Aziz Jazuli menyoroti keterangan yang menyebut para datuk atau leluhur habaib tidak menelaah kitab-kitab tauhid yang membahas persoalan rumit dan ilmu kalam. Ia kemudian mengaitkan pembahasan itu dengan pertanyaan mengenai alasan kitab Ummul Barahin disebut haram untuk dibaca.
Gus Aziz Jazuli juga menyampaikan bahwa kitab karya Imam Sanusi tersebut telah lama dipelajari di berbagai lingkungan pendidikan Islam, termasuk di Nusantara. Ia menyebut adanya manuskrip yang menurut penjelasannya berasal dari sekitar abad ke-16 dan ke-17 yang memuat kajian terhadap karya Imam Sanusi.
Pembahasan itu kemudian berkembang pada posisi Ummul Barahin dalam tradisi pengajaran ilmu akidah, termasuk keberadaan berbagai syarah dan hasyiah yang ditulis ulama setelah Imam Sanusi.
Keterangan Ahmad bin Hasan Al-As tentang Para Leluhur Habaib
Pada awal penjelasannya, Gus Aziz Jazuli mengutip nama Ahmad bin Hasan Al-As. Dalam kutipan yang dibacakan, disebutkan bahwa para datuk atau leluhur habaib tidak melihat atau menelaah kitab-kitab tauhid yang mencakup persoalan-persoalan rumit, detail, serta permasalahan ilmu kalam.
Gus Aziz kemudian mempertanyakan alasan di balik keterangan tersebut. Ia menyebut beberapa kemungkinan sebagaimana disampaikan dalam penjelasannya, termasuk kemungkinan adanya kesulitan memahami pembahasan ilmu tauhid.
Namun, Gus Aziz juga menyampaikan pertanyaan mengenai status para tokoh tersebut yang dalam tradisi tertentu disebut sebagai ulama atau wali. Pertanyaan itu menjadi bagian dari pembahasan mengenai kemampuan memahami kitab-kitab tauhid yang bersifat argumentatif.
Gus Aziz Soroti Penyebutan Kitab Sanusi sebagai Kitab yang Haram Dibaca
Salah satu bagian utama yang dibahas Gus Aziz adalah pernyataan mengenai kitab Sanusi atau Ummul Barahin.
Ia menyebut Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi sebagai pengarang kitab tersebut. Dalam penjelasannya, Gus Aziz mempertanyakan alasan kitab Ummul Barahin disebut haram.
Menurut Gus Aziz, persoalan tersebut menjadi menarik karena karya Imam Sanusi justru memiliki sejarah panjang dalam kajian akidah dan ilmu tauhid.
Ia kemudian menghubungkan pembahasan itu dengan sejarah pendidikan Islam di Nusantara.
Manuskrip Nusantara Disebut Telah Mengkaji Karya Imam Sanusi
Gus Aziz Jazuli menyampaikan bahwa dirinya pernah melihat sejumlah manuskrip yang diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1600-an dan 1700-an. Manuskrip tersebut, menurut penjelasannya, berkaitan dengan kitab karya Imam Sanusi.
Ia menyebut manuskrip yang dilihatnya berada dalam konteks kunjungannya kepada Kiai Salim dan menyebut adanya manuskrip di Cilacap.
Dari penjelasan tersebut, Gus Aziz menyatakan bahwa ulama-ulama Nusantara sejak masa lalu telah mengkaji karya Imam Sanusi. Ia juga menyebut periode 1600-an, 1700-an, hingga 1800-an sebagai rentang waktu yang dikaitkan dengan perkembangan kajian tersebut.
Dengan demikian, pembahasan Gus Aziz tidak hanya berfokus pada isi kitab, tetapi juga pada sejarah keberadaan dan penggunaan karya Imam Sanusi dalam tradisi keilmuan Islam di Nusantara.
Pernyataan tentang Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Gus Aziz kemudian membacakan pernyataan yang ia kaitkan dengan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Dalam penjelasannya, ia menyebut adanya redaksi yang berbunyi bahwa membaca kitab Ummul Barahin dihukumi haram. Gus Aziz mengulang bagian tersebut untuk menyoroti pertanyaan mengenai alasan pengharaman kitab.
Ia mempertanyakan apakah alasan tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan memahami isi kitab atau adanya pertimbangan lain.
Gus Aziz juga menyampaikan bahwa terdapat kemungkinan pernyataan tersebut diarahkan kepada orang yang belum memiliki kemampuan keilmuan yang memadai untuk memahami pembahasan di dalam kitab.
Ummul Barahin Disebut Berkaitan dengan Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam
Dalam pembahasannya, Gus Aziz menyampaikan bahwa Ummul Barahin merupakan karya yang membahas dasar-dasar ilmu tauhid.
Ia menjelaskan bahwa kitab tersebut dikenal sebagai al-Aqidah ash-Shughra dan dinisbatkan kepada Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi at-Tilimsani, yang menurut penjelasannya wafat pada 895 Hijriah.
Gus Aziz menyebut Ummul Barahin sebagai salah satu matan penting dalam tradisi ilmu kalam Asy’ari.
Ia juga menjelaskan bahwa kitab tersebut memperoleh perhatian dari ulama dari masa ke masa. Dalam penjelasannya, penerimaan terhadap kitab tersebut dikaitkan dengan kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah.
Ummul Barahin Disebut Sebagai Kitab Dasar Akidah
Menurut penjelasan Gus Aziz, Ummul Barahin tidak ditempatkan sebagai kitab tingkat paling tinggi dalam ilmu tauhid. Ia justru menjelaskan kitab tersebut sebagai salah satu kitab dasar dalam pendidikan akidah.
Gus Aziz membedakan tingkatan pembelajaran menjadi kalangan pemula, menengah, dan mereka yang telah memiliki tingkat keilmuan tinggi.
Ia menyebut bahwa Ummul Barahin digunakan untuk kalangan pemula dalam mempelajari dasar-dasar akidah.
Dalam penjelasan tersebut, Gus Aziz juga menyebut keberadaan kajian terhadap kitab Ummul Barahin di sejumlah lembaga pendidikan Islam di berbagai kawasan.
Ia menyebut Al-Azhar di Mesir, Universitas atau lembaga keilmuan Islam di Tunis dan Maroko, serta sejumlah lembaga pendidikan Islam di Afrika Barat, Hadramaut, dan Asia Tenggara.
Banyak Ulama Menulis Syarah dan Hasyiah Ummul Barahin
Gus Aziz juga menjelaskan bahwa Ummul Barahin mendapatkan perhatian luas dari ulama melalui berbagai karya penjelasan atau syarah.
Ia menyebut adanya Syarhus Sughra yang dinisbatkan kepada Imam Sanusi sendiri.
Selain itu, Gus Aziz menyebut Hasyiah ad-Dasuqi sebagai salah satu karya yang memberikan catatan terhadap pembahasan kitab tersebut. Ia juga menyebut Hasyiah al-Bajuri karya Ibrahim al-Bajuri serta syarah yang dinisbatkan kepada Syekh Abdullah asy-Syarqawi.
Menurut penjelasan Gus Aziz, terdapat pula karya dalam bentuk nazam yang berkaitan dengan Ummul Barahin.
Rangkaian syarah dan hasyiah tersebut disebutnya sebagai bagian dari sejarah panjang kajian terhadap kitab Ummul Barahin.
Gus Aziz: Ummul Barahin Termasuk Kitab Utama Pendidikan Dasar Tauhid
Gus Aziz kemudian menegaskan posisi Ummul Barahin dalam pembahasan yang disampaikannya.
Menurutnya, kitab tersebut merupakan salah satu kitab utama untuk pendidikan dasar ilmu tauhid. Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia menjelaskan berbagai bentuk perhatian ulama terhadap karya Imam Sanusi.
Karena itu, pembahasan mengenai status hukum membaca kitab tersebut menjadi salah satu fokus utama Gus Aziz.
Ia mempertanyakan alasan penyebutan haram apabila kitab yang dimaksud merupakan salah satu matan yang digunakan dalam pengajaran akidah.
Pembahasan tentang Orang yang Belajar dari Guru yang Tidak Ahli
Gus Aziz juga membahas kemungkinan lain terkait larangan mempelajari Ummul Barahin.
Ia menyampaikan bahwa seseorang dapat mengalami kesalahan apabila mempelajari kitab tersebut dari orang yang bukan ahlinya.
Dalam konteks tersebut, Gus Aziz mengutip alasan kekhawatiran seseorang dapat tergelincir dalam pemahaman yang dianggap menyimpang apabila belajar tanpa bimbingan keilmuan yang memadai.
Dengan demikian, pembahasan mengenai larangan tidak hanya diarahkan pada kitabnya, tetapi juga pada kapasitas orang yang mempelajari dan mengajarkannya.
Gus Aziz Pertanyakan Dalil Pengharaman Kitab
Bagian lain yang disoroti Gus Aziz adalah mengenai dasar atau dalil pengharaman.
Ia menyampaikan pertanyaan mengenai apa yang menjadi dalil ketika kitab Ummul Barahin disebut haram. Ia juga membandingkan alasan tersebut dengan tingkat pembahasan kitab yang menurutnya masih berada dalam kategori dasar ilmu tauhid.
Gus Aziz menyebut bahwa beberapa pembahasan mengenai hukum akal dalam kitab tersebut menurutnya dapat dijelaskan kepada masyarakat.
Dalam konteks itu, ia mengaitkan persoalan larangan dengan kemampuan memahami materi yang terdapat dalam kitab.
Namun, Gus Aziz menyampaikan bahwa kemungkinan tersebut merupakan asumsi dalam penjelasannya.
Pernyataan tentang Sikap Para Leluhur terhadap Ilmu Tauhid
Gus Aziz kembali pada bagian teks yang menurutnya menjelaskan sikap para leluhur atau datuk terhadap ilmu tauhid.
Ia menyampaikan bahwa terdapat keterangan mengenai para salaf atau leluhur yang disebut tidak condong untuk mendalami ilmu tauhid secara mendalam.
Gus Aziz kemudian mempertanyakan alasan di balik sikap tersebut.
Ia menyebut beberapa kemungkinan, termasuk persoalan pemahaman terhadap ilmu tauhid atau kemungkinan adanya perbedaan dengan tradisi yang telah berkembang di kalangan tertentu.
Dalam penyampaiannya, Gus Aziz menegaskan bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut merupakan bagian dari pertanyaan dan asumsi yang sedang ia bahas.
Pembahasan Ilmu Bahasa dan Objektivitas
Selain ilmu tauhid, Gus Aziz juga membahas bagian teks yang berkaitan dengan ilmu adab.
Ia menjelaskan bahwa istilah adab dalam konteks yang dibacanya tidak semata-mata berarti tata krama, tetapi berkaitan dengan ilmu sastra atau bahasa.
Menurut penjelasan Gus Aziz, terdapat keterangan mengenai ketidaksukaan atau ketidakcondongan terhadap pendalaman ilmu-ilmu sastra.
Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan kemampuan bahasa dan objektivitas seseorang.
Gus Aziz juga menyinggung pentingnya menjaga lisan dan tidak membiarkan penggunaan bahasa menjadi menyimpang.
Gus Aziz Kembali Mempertanyakan Alasan Tidak Mendalami Ilmu Tauhid
Pada bagian akhir penjelasannya, Gus Aziz kembali menyoroti alasan para datuk atau leluhur disebut tidak mendalami ilmu tauhid.
Ia mengatakan bahwa teks yang dibahas menunjukkan adanya ketidakcondongan terhadap pendalaman ilmu tauhid. Namun, ia mempertanyakan apakah hal tersebut disebabkan ketidaksukaan, ketidakpahaman, atau ketidakmampuan memahami materi.
Ia juga menyebut kemungkinan lain sebagaimana yang disampaikan dalam kajiannya, tetapi tidak menetapkan salah satu kemungkinan tersebut sebagai fakta.
Ummul Barahin dan Tradisi Kajian Akidah
Dalam keseluruhan penjelasannya, Gus Aziz Jazuli menempatkan Ummul Barahin dalam konteks sejarah pembelajaran ilmu tauhid.
Ia menyebut kitab tersebut sebagai matan yang memiliki posisi dalam tradisi Asy’ariyah dan digunakan untuk pendidikan dasar akidah. Ia juga menguraikan keberadaan syarah dan hasyiah yang menunjukkan adanya kajian lanjutan terhadap karya tersebut.
Pembahasan Gus Aziz kemudian mempertemukan dua hal, yakni pernyataan mengenai larangan membaca Ummul Barahin dan sejarah penggunaan kitab tersebut dalam tradisi pendidikan Islam.
Ia mempertanyakan dasar larangan tersebut serta kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam memahami isi kitab.
Kesimpulan Penjelasan Gus Aziz Jazuli
Penjelasan Gus Aziz Jazuli di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 17 Agustus 2026 berfokus pada pembahasan kitab Ummul Barahin karya Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi dan kaitannya dengan tradisi pembelajaran ilmu tauhid.
Gus Aziz mengutip sejumlah pernyataan mengenai sikap para datuk atau leluhur terhadap kitab-kitab tauhid dan kemudian mempertanyakan alasan kitab Ummul Barahin disebut haram dibaca.
Dalam penjelasannya, ia menyebut adanya manuskrip Nusantara dari sekitar abad ke-16 dan ke-17 yang menurutnya berkaitan dengan kajian karya Imam Sanusi. Ia juga menguraikan bahwa Ummul Barahin memperoleh perhatian dari ulama melalui berbagai syarah dan hasyiah.
Gus Aziz menyebut kitab tersebut sebagai salah satu kitab utama pendidikan dasar ilmu tauhid dan menjelaskan penggunaannya dalam tradisi pendidikan akidah di berbagai wilayah.
Sementara itu, mengenai alasan pengharaman, Gus Aziz mempertanyakan dalil yang menjadi dasar larangan dan menyebut beberapa kemungkinan dalam konteks pembahasannya. Ia juga menyinggung kemungkinan bahwa larangan tersebut berkaitan dengan kapasitas orang yang membaca atau mengajarkan kitab.
Pembahasan tersebut menjadi bagian dari kajian Gus Aziz mengenai sejarah, isi, dan posisi Ummul Barahin dalam tradisi ilmu tauhid.
FAQ
Apa itu kitab Ummul Barahin?
Ummul Barahin atau al-Aqidah ash-Shughra merupakan kitab yang dalam penjelasan Gus Aziz Jazuli dinisbatkan kepada Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi at-Tilimsani. Kitab tersebut dibahas sebagai salah satu matan penting dalam tradisi ilmu tauhid dan ilmu kalam Asy’ari.
Siapa pengarang kitab Ummul Barahin?
Dalam penjelasan Gus Aziz Jazuli, pengarang Ummul Barahin adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusi at-Tilimsani, yang disebut wafat pada 895 Hijriah.
Mengapa Gus Aziz Jazuli membahas Ummul Barahin?
Gus Aziz membahas Ummul Barahin dalam konteks pernyataan mengenai larangan atau pengharaman membaca kitab tersebut. Ia mempertanyakan alasan dan dasar larangan tersebut sekaligus menjelaskan posisi kitab dalam tradisi pembelajaran ilmu tauhid.
Apakah Ummul Barahin disebut sebagai kitab dasar ilmu tauhid?
Ya. Dalam penjelasan Gus Aziz, Ummul Barahin disebut sebagai salah satu kitab utama pendidikan dasar ilmu tauhid dan diperuntukkan antara lain bagi kalangan pemula dalam mempelajari akidah.
Apakah ada syarah terhadap kitab Ummul Barahin?
Menurut penjelasan Gus Aziz, terdapat sejumlah syarah dan hasyiah terhadap Ummul Barahin, di antaranya Syarhus Sughra, Hasyiah ad-Dasuqi, Hasyiah al-Bajuri, dan syarah yang dinisbatkan kepada Syekh Abdullah asy-Syarqawi.
Apakah Gus Aziz memastikan alasan para leluhur tidak mendalami ilmu tauhid?
Tidak. Dalam penjelasannya, Gus Aziz menyampaikan sejumlah kemungkinan, termasuk persoalan pemahaman dan kemampuan terhadap materi. Ia menyebut kemungkinan tersebut sebagai asumsi dalam pembahasannya.
Apa yang dipertanyakan Gus Aziz terkait pengharaman Ummul Barahin?
Gus Aziz mempertanyakan dasar atau dalil yang digunakan untuk menyebut membaca kitab Ummul Barahin sebagai sesuatu yang haram. Ia juga membahas kemungkinan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan kapasitas orang yang membaca atau mengajarkan kitab.
Di mana Gus Aziz menyampaikan penjelasan tersebut?
Penjelasan tersebut disampaikan Gus Aziz Jazuli melalui kanal YouTube Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 17 Agustus 2026, berdasarkan materi yang menjadi sumber tulisan ini.
Sumber:




