AR Nyus Soroti Proses Pemilihan Rais Aam NU dalam Muktamar NU 35

AR Nyus Soroti Proses Pemilihan Rais Aam NU, Singgung Dugaan Pengondisian dan Pentingnya Khidmah
WARTA BATAVIA – JAKARTA — Proses pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar NU menjadi sorotan Mas AR Nyus dari kanal AR Nyus Media. Dalam penjelasannya yang diunggah pada 1 September 2026, AR Nyus membahas sejumlah hal yang menurut dia perlu menjadi perhatian warga Nahdlatul Ulama, mulai dari proses penentuan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), posisi sejumlah ulama senior, mekanisme pemilihan, hingga persoalan khidmah dalam organisasi.
Dalam video tersebut, AR Nyus menyampaikan pandangannya berdasarkan informasi yang dia klaim diperoleh dari sejumlah pengurus dari berbagai daerah. Ia juga menyebut dirinya berada di lingkungan yang dekat dengan pusat kegiatan muktamar sehingga mendapatkan sejumlah informasi mengenai dinamika yang berlangsung.
Namun, berbagai tudingan mengenai dugaan pengondisian, riswah, maupun intervensi dalam proses pemilihan yang disampaikan AR Nyus merupakan klaim dan pandangan pribadi narasumber sebagaimana terdapat dalam materi video. Transkrip tersebut tidak menyertakan verifikasi independen maupun tanggapan dari pihak-pihak yang disebut.
AR Nyus mengatakan dirinya bukan orang yang dibutuhkan oleh NU, tetapi mengaku sebagai orang yang peduli terhadap keberlangsungan NU.
AR Nyus Pertanyakan Proses Penentuan Ahwa
Salah satu persoalan yang disoroti AR Nyus adalah mekanisme penentuan Rais Aam melalui Ahwa.
Menurut dia, sebagian peserta muktamar sebelumnya memahami bahwa apabila mekanisme pemilihan Rais Aam dikembalikan kepada Ahwa, maka ulama yang memperoleh urutan suara tertinggi akan memiliki posisi penting dalam proses penentuan Rais Aam.
AR Nyus menggambarkan adanya pemahaman di kalangan peserta bahwa para anggota Ahwa merupakan ulama yang kemudian akan menentukan Rais Aam melalui musyawarah dan mufakat.
Namun, menurut AR Nyus, terdapat persoalan ketika proses tersebut dikaitkan dengan hasil urutan nama ulama yang muncul dalam mekanisme pemilihan.
Ia secara khusus menyoroti posisi Kiai Anwar Mansur dari Lirboyo yang disebut memperoleh urutan nomor tujuh.
“Sampean bisa bayangkan kalau Kiai Anwar Mansur kemudian mendapatkan urutan nomor tujuh,” ujar AR Nyus dalam video tersebut.
AR Nyus kemudian mengaitkan posisi tersebut dengan pertanyaan mengenai penghormatan terhadap ulama senior dan jasa Kiai Anwar Mansur terhadap pesantren serta kader-kader NU.
Kiai Anwar Mansur Disebut sebagai Ulama Senior Lirboyo
Dalam penjelasannya, AR Nyus menempatkan Kiai Anwar Mansur sebagai salah satu tokoh senior yang memiliki hubungan kuat dengan Lirboyo.
Ia juga menyinggung keberadaan alumni Lirboyo yang menurutnya tersebar di berbagai wilayah Indonesia bahkan luar negeri dan menjadi bagian dari kepengurusan NU.
Atas dasar itu, AR Nyus mempertanyakan mengapa Kiai Anwar Mansur berada pada urutan yang menurutnya relatif rendah dalam proses penentuan anggota Ahwa.
Ia kemudian menyampaikan dugaan bahwa terdapat pengondisian terhadap proses tersebut.
Pernyataan itu merupakan pandangan AR Nyus dan bukan hasil verifikasi independen sebagaimana dapat diketahui dari materi sumber.
Sejumlah Nama Ulama Disebut Tidak Masuk
Selain Kiai Anwar Mansur, AR Nyus juga menyoroti sejumlah ulama yang menurut dia tidak masuk dalam daftar yang dibicarakan dalam proses tersebut.
Beberapa nama yang disebut antara lain Kiai Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Ma’ruf Amin, Kiai Ubaidullah Shodqoh, dan Kiai Asep Saifuddin.
AR Nyus mempertanyakan absennya sejumlah tokoh tersebut dalam konteks proses yang sedang berlangsung.
Menurut dia, tokoh-tokoh tersebut memiliki rekam jejak dan kedekatan tertentu dengan NU sehingga keberadaan mereka dianggap penting dalam proses organisasi.
Dalam video, AR Nyus juga mengaitkan tidak masuknya sejumlah tokoh dengan dugaan adanya upaya menyingkirkan orang-orang yang dianggap memiliki kesamaan visi dengan lingkungan pesantren tertentu.
Sekali lagi, tudingan mengenai upaya “menyingkirkan” tersebut merupakan klaim yang disampaikan AR Nyus, bukan fakta yang telah dibuktikan dalam materi sumber.
AR Nyus Singgung Dugaan Pengondisian
Isu utama yang berulang kali disampaikan AR Nyus adalah dugaan pengondisian sebelum dan selama pelaksanaan muktamar.
Ia menyatakan mendapatkan informasi dari beberapa pengurus dari berbagai daerah yang datang menemuinya. AR Nyus menyebut informasi tersebut sebagai informasi yang menurut dia valid.
Ia kemudian menggambarkan adanya kemungkinan bahwa sebagian peserta muktamar telah mendapatkan informasi atau perlakuan tertentu sebelum memasuki proses pemilihan.
Menurut AR Nyus, peserta muktamar bisa saja tidak memahami seluruh dinamika yang terjadi karena sebelumnya telah berlangsung proses pengondisian.
Pernyataan tersebut tidak disertai bukti dokumenter dalam transkrip yang menjadi dasar artikel ini.
Tantangan Mubahalah
Dalam video, AR Nyus bahkan mengeluarkan tantangan kepada pihak yang tidak menerima tudingan mengenai pengondisian tersebut untuk melakukan mubahalah.
Ia mempertanyakan apakah pihak-pihak yang terlibat memperoleh riswah atau mengetahui adanya pengendalian dalam proses pemilihan.
AR Nyus mengatakan dirinya siap melakukan mubahalah dengan pihak yang merasa keberatan terhadap tudingan tersebut.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa isu mengenai dugaan pengondisian menjadi salah satu bagian utama yang disoroti AR Nyus dalam komentarnya mengenai proses Muktamar NU.
Sorotan terhadap Mekanisme Pemungutan Suara
AR Nyus juga membahas mekanisme pemungutan suara dalam muktamar.
Dalam video, ia mengutip pembahasan mengenai adanya usulan agar voting dilakukan secara terbuka dan tertutup.
Menurut penjelasan yang dikutipnya, terdapat perbedaan usulan di antara peserta. Pada akhirnya, menurut narasi yang disampaikan dalam video, terdapat kesepakatan mengenai pemungutan suara terbuka, tetapi pelaksanaannya disebut berlangsung secara tertutup.
AR Nyus kemudian mempertanyakan kesesuaian antara keputusan mengenai mekanisme pemungutan suara dengan praktik yang menurutnya berlangsung di lapangan.
Ia kembali mengaitkan hal tersebut dengan dugaan pengondisian.
Namun, transkrip tidak memberikan dokumen resmi mengenai tata tertib muktamar, berita acara, ataupun keputusan resmi panitia yang dapat digunakan untuk memverifikasi klaim tersebut.
AR Nyus Soroti Pidato Rais Aam yang Dihentikan
Bagian lain yang mendapat perhatian AR Nyus adalah peristiwa ketika pidato Rais Aam disebut dihentikan oleh panitia.
Dalam video, AR Nyus menampilkan atau merujuk pada rekaman dengan narasi mengenai “detik-detik pidato Rais PBNU dihentikan panitia”.
Ia mempertanyakan keputusan tersebut dan menilai peristiwa itu sebagai sesuatu yang patut diperhatikan.
AR Nyus kemudian menyebut posisi salah seorang pejabat yang disebut terlibat dalam kepanitiaan.
Ia menyinggung sosok Gus Ipul yang menurutnya memiliki beberapa posisi dan juga menjadi bagian dari kepanitiaan.
Dalam transkrip, AR Nyus memberikan penilaian keras terhadap peristiwa tersebut dan menghubungkannya dengan posisi Rais Aam dalam struktur NU.
Prosedur Muktamar Diminta Dihormati
Di sisi lain, dalam materi yang dikutip AR Nyus, terdapat pernyataan mengenai pentingnya menghormati prosedur yang telah disepakati bersama.
Pesan tersebut juga menekankan pentingnya kesabaran ketika terjadi perdebatan di antara peserta muktamar.
Menurut pernyataan yang dikutip, peserta diingatkan bahwa muktamar berlangsung di lingkungan yang memiliki hubungan historis dengan pendiri NU, sehingga peserta diharapkan mampu mengendalikan emosi.
Bagian tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam pembahasan AR Nyus mengenai dinamika muktamar.
Dugaan Pengondisian Disebut Terjadi Sebelum Muktamar
AR Nyus tidak hanya membahas proses yang berlangsung ketika muktamar berlangsung.
Ia juga menyampaikan dugaan bahwa pengondisian telah terjadi sebelum muktamar.
Dalam video, AR Nyus menyebut sejumlah lokasi, termasuk Palembang dan Lampung. Ia juga menyinggung orang-orang yang disebut berada di Sekolulo.
Menurut dia, informasi mengenai hal tersebut sebelumnya telah muncul dalam konten-konten yang dia buat.
Ia kemudian menyatakan bahwa jika pihak-pihak terkait tidak mengakui dugaan tersebut, dirinya siap mempertanggungjawabkan pernyataannya melalui sumpah.
Tidak terdapat bukti tambahan mengenai klaim tersebut dalam materi sumber yang menjadi dasar artikel ini.
AR Nyus Mengutip Pandangan tentang Khidmah di Atas Jabatan
Selain membahas proses pemilihan, AR Nyus juga mengangkat tema yang lebih luas mengenai budaya organisasi NU, yakni khidmah di atas jabatan.
Ia mengutip pernyataan Kiai Halwani yang disebut sebagai salah satu tokoh dalam lingkungan organisasi.
Menurut pernyataan yang disampaikan dalam video, khidmah kepada NU seharusnya ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan mendapatkan jabatan.
AR Nyus kemudian memberikan contoh ulama bernama Mbah Kiai Yasin Yusuf dari Blitar.
Dalam penjelasannya, ia menyebut tokoh tersebut memiliki lingkup pengaruh nasional tetapi tidak mengejar jabatan struktural yang lebih tinggi.
Ketika disebut pernah diminta menjadi pengurus pada tingkat tertentu, tokoh tersebut menurut cerita yang disampaikan AR Nyus memilih tetap berada pada posisi yang lebih sederhana.
AR Nyus menyebut sikap tersebut sebagai contoh yang dapat diteladani oleh pengurus NU.
Rais Aam Dinilai Bukan Jabatan yang Seharusnya Diperebutkan
Tema lain yang disampaikan dalam video adalah mengenai posisi Rais Aam.
AR Nyus mengutip pernyataan Kiai Ubaidullah Shodqoh yang pada intinya menyebut bahwa seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi Rais Aam justru dianggap tidak memenuhi kriteria moral untuk posisi tersebut.
Dalam narasi yang disampaikan, Rais Aam dipandang bukan sebagai jabatan yang seharusnya diperebutkan.
Pandangan tersebut dikaitkan dengan besarnya tanggung jawab yang melekat pada posisi Rais Aam.
AR Nyus juga mengingatkan kembali cerita mengenai ulama-ulama terdahulu yang justru merasa takut ketika diberi tanggung jawab besar.
Menurutnya, sikap tersebut berbeda dengan kondisi ketika seseorang justru berusaha mendapatkan jabatan.
Tanggung Jawab Rais Aam
Dalam konteks yang disampaikan AR Nyus, Rais Aam bukan semata-mata jabatan struktural.
Posisi tersebut dikaitkan dengan tanggung jawab keagamaan dan moral yang besar.
Karena itu, menurut narasi yang disampaikan, seorang ulama yang dipercaya menjadi Rais Aam semestinya tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan pribadi.
Pembahasan tersebut kemudian membawa AR Nyus pada isu yang lebih luas mengenai orientasi kepemimpinan di lingkungan NU.
Kritik terhadap Hubungan NU dengan Kekuasaan
AR Nyus juga menyinggung hubungan NU dengan kekuasaan politik.
Ia mengutip pandangan yang membandingkan kedekatan NU dengan Allah SWT dan kedekatan dengan penguasa.
Dalam video, ia mengangkat pengalaman masa lalu ketika dirinya menjadi mubalig. Ia menceritakan bahwa ketika dijemput oleh panitia atau pengurus NU di bandara maupun stasiun, terkadang yang ditekankan justru hubungan dengan kepala daerah.
Dari cerita tersebut, AR Nyus mempertanyakan perubahan orientasi dalam organisasi.
Ia kemudian mengaitkannya dengan istilah “bisyarah” dan “basyirah”.
Menurut narasi AR Nyus, sebagian pihak dinilai lebih mengutamakan bisyarah dibanding basyirah dalam mengambil keputusan organisasi.
Basirah dan Bisyarah dalam Penjelasan AR Nyus
Istilah basyirah menjadi salah satu kata kunci dalam bagian akhir video.
AR Nyus menyampaikan penghargaan kepada Kiai Nurul Huda Jazuli dan Kiai Anwar Mansur Lirboyo yang menurutnya tetap berpegang pada prinsip dan keimanan meskipun mendapatkan berbagai tawaran.
Ia menilai kedua tokoh tersebut sebagai ulama yang dapat menjadi panutan bagi warga NU dan generasi muda Nahdliyin.
Menurut AR Nyus, sikap tersebut menggambarkan pilihan berdasarkan basyirah, bukan semata-mata pertimbangan keuntungan atau kepentingan tertentu.
Sementara itu, kepada pihak yang menurutnya mengambil keputusan berdasarkan bisyarah, AR Nyus menyampaikan kritik sekaligus peringatan mengenai konsekuensi yang mungkin muncul.
AR Nyus Tegaskan Dirinya Peduli terhadap NU
Di tengah kritik yang disampaikan, AR Nyus menegaskan bahwa dirinya bukan orang yang dibutuhkan oleh NU.
Namun, ia mengatakan dirinya merupakan orang yang peduli terhadap NU.
Pernyataan itu menjadi salah satu penekanan dalam video tersebut.
Ia juga mengatakan bahwa kritik yang disampaikan tidak dimaksudkan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap organisasi.
Meski demikian, sebagian besar pernyataan dalam video bersifat kritik dan tudingan terhadap proses internal organisasi yang disebutkan oleh narasumber.
Karena itu, diperlukan pemisahan antara fakta yang telah diverifikasi dengan pendapat, dugaan, dan interpretasi yang disampaikan dalam video.
Polemik Pemilihan Rais Aam dan Pentingnya Klarifikasi
Pernyataan AR Nyus membuka sejumlah isu mengenai proses pemilihan Rais Aam, khususnya terkait mekanisme Ahwa, posisi ulama senior, pemungutan suara, serta hubungan antara kepentingan organisasi dan jabatan.
Dalam konteks pemberitaan, tudingan mengenai pengondisian maupun riswah perlu ditempatkan sebagai tudingan yang berasal dari narasumber.
Kebenaran tudingan tersebut membutuhkan konfirmasi dari pihak yang dituduh, panitia muktamar, serta dokumentasi resmi mengenai proses pemilihan.
Demikian pula dengan pernyataan mengenai daftar anggota Ahwa, mekanisme pemungutan suara, dan penghentian pidato Rais Aam. Materi transkrip yang tersedia belum memuat tanggapan resmi dari seluruh pihak yang disebut.
Dengan demikian, informasi dalam artikel ini menggambarkan apa yang disampaikan AR Nyus dalam video AR Nyus Media pada 1 September 2026, bukan kesimpulan mengenai benar atau tidaknya tudingan tersebut.
Pesan AR Nyus tentang Masa Depan NU
Pada bagian akhir video, AR Nyus mengajak seluruh komponen NU untuk menempatkan khidmah di atas jabatan.
Ia juga mengingatkan agar warga NU tidak kehilangan orientasi terhadap nilai keagamaan dalam menjalankan organisasi.
Menurutnya, kepemimpinan NU semestinya tidak semata-mata dipahami sebagai perebutan posisi struktural.
Ia memberikan apresiasi kepada ulama yang menurutnya tetap mempertahankan prinsip meskipun memperoleh tawaran tertentu.
Video tersebut kemudian ditutup dengan pesan agar penonton mengambil sisi positif dari apa yang disampaikan dan membuang sisi negatifnya.
FAQ
Apa yang disoroti AR Nyus mengenai pemilihan Rais Aam NU?
AR Nyus menyoroti mekanisme pemilihan Rais Aam melalui Ahwa, posisi sejumlah ulama senior, mekanisme pemungutan suara, serta dugaan adanya pengondisian sebelum dan selama muktamar.
Siapa Kiai yang disebut AR Nyus dalam pembahasan Ahwa?
Dalam transkrip, AR Nyus menyebut sejumlah nama ulama, antara lain Kiai Anwar Mansur, Kiai Nurul Huda Jazuli, Kiai Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, Kiai Ubaidullah Shodqoh, dan Kiai Asep Saifuddin.
Apa yang dikatakan AR Nyus tentang Kiai Anwar Mansur?
AR Nyus mempertanyakan posisi Kiai Anwar Mansur yang dalam narasinya disebut berada di urutan nomor tujuh. Ia mengaitkan hal tersebut dengan status Kiai Anwar Mansur sebagai ulama senior Lirboyo dan tokoh yang memiliki jasa dalam pendidikan kader NU.
Apakah AR Nyus menuduh ada pengondisian dalam Muktamar NU?
Dalam video, AR Nyus menyampaikan dugaan adanya pengondisian. Ia juga menantang pihak yang tidak menerima tudingan tersebut untuk melakukan mubahalah. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen berdasarkan materi sumber yang tersedia.
Apa yang dimaksud dengan Ahwa?
Dalam konteks yang dibahas dalam video, Ahwa merupakan forum yang terdiri atas ulama yang memiliki peran dalam proses penentuan Rais Aam melalui mekanisme yang telah ditetapkan dalam muktamar.
Apa yang dikatakan AR Nyus tentang jabatan Rais Aam?
AR Nyus mengutip pandangan bahwa Rais Aam bukan jabatan yang semestinya diperebutkan. Posisi tersebut dipandang memiliki tanggung jawab besar sehingga seharusnya dijalankan sebagai bentuk khidmah.
Apa pesan utama AR Nyus dalam video tersebut?
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menempatkan khidmah di atas jabatan, menjaga prinsip, mengutamakan kepentingan organisasi, serta menggunakan pertimbangan keagamaan dalam menentukan kepemimpinan NU.
Apakah semua tudingan dalam video sudah terbukti?
Tidak dapat disimpulkan demikian dari materi yang tersedia. Transkrip berisi pernyataan, dugaan, kritik, dan pandangan AR Nyus. Tidak terdapat dokumentasi verifikasi independen atau tanggapan seluruh pihak yang disebut dalam transkrip.
Kesimpulan
Penjelasan Mas AR Nyus di kanal AR Nyus Media pada 1 September 2026 menyoroti dinamika pemilihan Rais Aam dalam Muktamar NU dari perspektif seorang pengamat yang mengaku memperoleh informasi dari sejumlah pengurus dan peserta.
Beberapa isu yang menjadi sorotan meliputi mekanisme Ahwa, posisi Kiai Anwar Mansur, tidak masuknya sejumlah ulama yang disebut dalam video, mekanisme pemungutan suara, penghentian pidato Rais Aam, serta dugaan pengondisian sebelum dan selama muktamar.
AR Nyus juga membawa pembahasan tersebut pada persoalan yang lebih luas mengenai makna khidmah dalam NU. Ia menekankan bahwa jabatan semestinya tidak menjadi tujuan utama dalam berorganisasi.
Pada akhirnya, berbagai tudingan mengenai riswah, pengondisian, maupun desain tertentu dalam proses pemilihan merupakan pernyataan narasumber yang masih memerlukan verifikasi dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
Sumber: Akhirnya terbongkar Konspirasi Jah4t AHW4 || Alumni Lirboyo dan Ploso Harus Dengar ini





