invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Hadirkan Ahli Biologi BRIN, Dr. Sugeng Sugiharto Paparkan Pandangan Ilmiah tentang Polemik Nasab Ba’Alawi

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama kembali menghadirkan narasumber dalam rangkaian podcast di kanal Rhoma Irama Official yang membahas polemik nasab Ba’Alawi. Pada episode yang tayang 5 Juli 2024, Rhoma Irama mengundang Dr. Sugeng Sugiharto, seorang ahli biologi yang diperkenalkan sebagai peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjelaskan persoalan tersebut dari perspektif ilmu genetika dan analisis DNA.

Dalam pembukaan acara, Rhoma Irama memperkenalkan Dr. Sugeng sebagai seorang ahli biologi yang mendalami ilmu DNA. Sebelum memasuki pembahasan utama, Dr. Sugeng menceritakan latar belakang keluarganya, perjalanan pendidikan hingga memperoleh beasiswa di Korea Selatan dan Universitas Gadjah Mada, serta aktivitasnya sebagai peneliti di bidang biologi terapan.

Menurut Rhoma Irama, polemik mengenai nasab telah berlangsung cukup lama. Ia menyebut perdebatan tersebut melibatkan kajian sejarah, penelitian silsilah, hingga munculnya pembahasan mengenai penggunaan tes DNA sebagai salah satu pendekatan ilmiah dalam melihat hubungan biologis suatu garis keturunan.

Awal Keterlibatan Dr. Sugeng dalam Polemik DNA

Rhoma Irama kemudian menanyakan alasan Dr. Sugeng ikut membahas persoalan nasab tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Dr. Sugeng mengatakan dirinya bukan pihak yang memulai pembahasan mengenai DNA dalam polemik tersebut. Ia menjelaskan bahwa awalnya diskusi muncul dari perdebatan di media sosial yang membahas hasil tes DNA sejumlah orang yang mengaku berasal dari kalangan Ba’Alawi.

Menurut penjelasannya, saat jumlah sampel masih sedikit dirinya belum memberikan komentar. Ia baru mulai menyampaikan pendapat setelah jumlah data yang tersedia mencapai sekitar 100 sampel sehingga dinilai lebih memadai untuk dianalisis secara statistik.

Penjelasan Mengenai Analisis DNA

Dalam podcast tersebut, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa pendekatan genetika yang digunakan berangkat dari hubungan biologis dalam garis keturunan laki-laki.

Ia mengatakan bahwa dalam kajian genetika populasi terdapat metode untuk memperkirakan hubungan kekerabatan berdasarkan kesamaan penanda DNA tertentu.

Menurut penjelasannya, hasil analisis yang ia lihat menunjukkan adanya perbedaan profil genetika antara kelompok yang dibahas dengan sejumlah kelompok yang dijadikan pembanding dalam penelitian genetika internasional.

Dr. Sugeng juga menjelaskan bahwa dalam penelitiannya ia membandingkan data yang telah dipublikasikan oleh berbagai proyek DNA internasional serta penelitian ilmiah yang tersedia.

Penjelasan Mengenai Haplogrup

Salah satu istilah yang sering muncul dalam dialog adalah haplogroup.

Dr. Sugeng menerangkan bahwa haplogroup merupakan penanda genetika pada kromosom Y yang diwariskan melalui garis ayah.

Menurut penjelasannya, melalui pola mutasi yang terjadi selama ribuan tahun, para peneliti dapat memperkirakan hubungan kekerabatan antarkelompok manusia.

Ia menjelaskan bahwa apabila seseorang berasal dari garis keturunan laki-laki yang sama, maka akan terdapat hubungan yang dapat ditelusuri melalui penanda genetika tersebut.

Rhoma Irama Bersama Dr. Sugeng Sugiharta Ahli DNA dari BRIN

Penjelasan Mengenai Penggunaan DNA dalam Penetapan Nasab

Dalam podcast itu juga dibahas mengenai kedudukan tes DNA.

Dr. Sugeng mengutip keputusan fikih yang menurutnya pernah diterbitkan Nahdlatul Ulama pada 2004.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan penjelasan yang ia sampaikan, tes DNA menurut keputusan tersebut tidak digunakan untuk menetapkan nasab, tetapi dapat digunakan sebagai dasar untuk menolak klaim nasab apabila ditemukan ketidaksesuaian biologis.

Rhoma Irama Mengajukan Pertanyaan dari Gus Romel

Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama menyampaikan sejumlah pertanyaan yang disebut berasal dari Gus Romel (rumail Abbas).

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan:

  • fungsi haplogroup J,
  • validitas ilmu genetika,
  • penelitian internasional,
  • jumlah sampel DNA,
  • hingga metodologi penelitian genetika.

Dr. Sugeng menjawab pertanyaan tersebut satu per satu dengan penjelasan mengenai konsep haplogroup, hubungan garis keturunan, metode statistik, dan pentingnya data empiris dalam penelitian genetika.

Menurutnya, data ilmiah harus diuji menggunakan data lain, bukan sekadar narasi.

Ia juga menyebut bahwa ilmu genetika merupakan disiplin ilmu yang berkembang melalui proses penelitian, statistik, dan penelaahan sejawat (peer review).

Pembahasan Mengenai Jumlah Sampel DNA

Dalam podcast tersebut juga dibahas mengenai jumlah sampel yang telah dipublikasikan pada proyek FamilyTreeDNA.

Dr. Sugeng menjelaskan angka yang menurutnya tersedia saat itu beserta proses verifikasi administrasi yang dilakukan dalam proyek tersebut.

Ia juga menerangkan bahwa analisis genetika populasi membutuhkan pendekatan statistik sehingga jumlah sampel menjadi salah satu faktor penting dalam menarik kesimpulan penelitian.

Selain itu, ia memberikan penjelasan mengenai konsep jumlah generasi yang digunakan dalam genetika populasi ketika membahas hubungan kekerabatan berdasarkan garis ayah.

Usulan Dialog Akademik

Menjelang akhir podcast, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya bahwa polemik tersebut sebaiknya dibahas melalui forum ilmiah yang melibatkan para ahli dari berbagai bidang.

Dr. Sugeng menyatakan setuju terhadap gagasan tersebut.

Ia mengusulkan agar forum semacam seminar atau dialog ilmiah diselenggarakan di lingkungan perguruan tinggi dengan melibatkan profesor bidang genetika, sejarah, dan moderator yang memiliki kompetensi akademik sehingga pembahasan dilakukan berdasarkan data dan metode ilmiah.

Rhoma Irama juga menyampaikan harapannya agar dialog tersebut dapat menghadirkan berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam pembahasan polemik tersebut.

Penjelasan Mengenai Referensi Penelitian Internasional

Dalam sesi berikutnya, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa dirinya menggunakan berbagai referensi penelitian genetika internasional.

Ia menyebut sejumlah nama peneliti yang menurutnya telah melakukan penelitian mengenai garis keturunan pada berbagai kelompok populasi.

Menurut penjelasannya, berbagai hasil penelitian tersebut digunakan sebagai data pembanding dalam analisis yang ia lakukan.

Penutup Podcast

Pada akhir podcast, Rhoma Irama menyimpulkan bahwa pembahasan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan berbagai sudut pandang dalam polemik yang sedang berlangsung.

Ia mengatakan bahwa tujuan menghadirkan narasumber dari berbagai bidang adalah agar masyarakat memperoleh penjelasan dari sisi sejarah maupun genetika.

Dr. Sugeng kembali menegaskan pentingnya penelitian ilmiah yang didasarkan pada data genetika serta menjelaskan konsep pewarisan kromosom Y melalui garis laki-laki sebagai dasar analisis yang ia gunakan.

Podcast kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih dari Rhoma Irama kepada narasumber dan pemirsa yang telah mengikuti diskusi hingga selesai.

FAQ

Apa yang dibahas dalam podcast Rhoma Irama bersama Dr. Sugeng Sugiharto?

Podcast membahas polemik nasab Ba’Alawi dari sudut pandang ilmu genetika, termasuk penjelasan mengenai DNA, haplogroup, metode penelitian, serta usulan dialog akademik.

Siapa Dr. Sugeng Sugiharto?

Dalam podcast, Dr. Sugeng diperkenalkan sebagai ahli biologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki keahlian di bidang DNA.

Apa usulan penyelesaian polemik yang disampaikan dalam podcast?

Rhoma Irama dan Dr. Sugeng membahas perlunya forum ilmiah di lingkungan akademik yang menghadirkan para ahli genetika, sejarah, dan pihak-pihak terkait agar pembahasan dilakukan berdasarkan data.

Rhoma Irama Hadirkan Ahli DNA BRIN, Dr. Dugeng Sugiharto Paparkan Pandangan Ilmiah tentang Polemik Nasab Ba'Alawi

Penjelasan Dr. Sugeng Mengenai Metode Genetika dalam Penelitian Nasab

Pada bagian lanjutan podcast, Rhoma Irama kembali mengajukan sejumlah pertanyaan yang dititipkan oleh Gus Romel terkait metodologi genetika yang digunakan dalam penelitian nasab. Fokus pembahasan bergeser dari hasil penelitian menuju dasar-dasar ilmiah yang digunakan dalam analisis DNA.

Salah satu pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan apakah haplogroup J dapat digunakan untuk menentukan seseorang sebagai keturunan Sayyid.

Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa haplogroup J merupakan kelompok besar yang telah muncul puluhan ribu tahun lalu sehingga tidak semua individu yang berada dalam kelompok tersebut dapat dikategorikan memiliki garis keturunan yang sama.

Menurut penjelasannya, yang menjadi perhatian bukan hanya haplogroup induknya, tetapi cabang-cabang mutasi yang muncul setelahnya. Ia mengibaratkan perkembangan haplogroup seperti struktur organisasi yang memiliki pusat, wilayah, hingga cabang-cabang yang semakin spesifik. Karena itu, penelusuran garis keturunan dilakukan hingga tingkat mutasi tertentu yang dinilai dapat menunjukkan hubungan biologis antarkelompok.

Penjelasan Mengenai Perkembangan Cabang Haplogroup

Dalam penjelasannya, Dr. Sugeng menyebut bahwa setiap generasi akan melahirkan cabang-cabang baru pada pohon genetika.

Ia memberikan ilustrasi bahwa apabila satu orang memiliki beberapa anak laki-laki, maka masing-masing garis keturunan akan berkembang menjadi cabang tersendiri seiring berjalannya waktu.

Menurutnya, pola tersebut memungkinkan para peneliti membangun pohon genetika berdasarkan mutasi yang diwariskan secara turun-temurun pada kromosom Y. Melalui pendekatan tersebut, hubungan antargaris keturunan dapat diperkirakan berdasarkan posisi setiap cabang dalam pohon genetika.

Ilmu Genetika Disebut Memiliki Dasar Statistik dan Matematis

Pertanyaan berikutnya membahas mengenai validitas ilmu genetika.

Dr. Sugeng menyatakan bahwa genetika merupakan ilmu yang memiliki dasar pengukuran, statistik, dan matematika.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teori baru dalam ilmu pengetahuan tidak selalu menggugurkan teori yang telah ada. Dalam pandangannya, teori baru justru dapat memperbaiki atau meningkatkan akurasi hasil penelitian sebelumnya.

Menurut penjelasannya, hasil penelitian ilmiah harus diuji melalui data yang dapat diverifikasi dan dikaji oleh para peneliti lain. Ia juga menyebut bahwa banyak penelitian genetika telah melalui proses telaah ilmiah dan menjadi dasar berbagai penerapan di bidang kesehatan maupun biologi molekuler.

Data Ilmiah Menurut Dr. Sugeng Harus Dijawab dengan Data

Dalam dialog tersebut, Dr. Sugeng beberapa kali menegaskan pentingnya penggunaan data dalam diskusi ilmiah.

Ia mengatakan bahwa apabila terdapat bantahan terhadap suatu hasil penelitian, maka bantahan tersebut menurutnya harus disertai data pembanding, bukan hanya berupa narasi.

Menurut penjelasannya, proses ilmiah berlangsung melalui penyajian data, penghitungan statistik, dan evaluasi metodologi sehingga setiap kesimpulan dapat diuji kembali oleh peneliti lain.

Pembahasan Mengenai Penelitian Internasional

Rhoma Irama kemudian menanyakan apakah pembahasan mengenai nasab tersebut telah menjadi perhatian para peneliti di tingkat internasional.

Menjawab pertanyaan tersebut, Dr. Sugeng menyampaikan bahwa menurut pengetahuannya, isu tersebut lebih banyak menjadi perhatian kalangan yang memiliki kepentingan terhadap sejarah dan genealogi dunia Islam.

Ia juga menjelaskan bahwa penelitian yang digunakan sebagai referensi berasal dari berbagai ilmuwan yang bekerja secara independen.

Menurut penjelasannya, setiap peneliti menghasilkan data masing-masing, kemudian data-data tersebut dapat dibandingkan dan disusun kembali oleh peneliti lain untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh. Ia juga menegaskan bahwa penelitian tersebut bukan merupakan penelitian resmi BRIN, melainkan kajian independen yang menggunakan referensi ilmiah yang tersedia.

Penjelasan Mengenai Data FamilyTreeDNA

Pembahasan kemudian berlanjut mengenai data yang berasal dari proyek FamilyTreeDNA.

Dr. Sugeng menyampaikan bahwa berdasarkan data yang ia sebutkan saat podcast berlangsung, terdapat sejumlah peserta yang mengunggah hasil tes DNA mereka secara sukarela.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang tersebut melakukan tes DNA dengan tujuan mencari hubungan kekerabatan biologis.

Menurut penjelasannya, dari keseluruhan data yang tersedia terdapat sebagian peserta yang menurut administrator proyek tidak dimasukkan dalam kelompok tertentu sehingga analisis dilakukan terhadap data yang masih dianggap memenuhi kategori administrasi proyek tersebut.

Genetika Populasi dan Konsep Jumlah Generasi

Rhoma Irama kemudian mengangkat diskusi mengenai perhitungan jumlah generasi dalam genetika populasi.

Dr. Sugeng menjelaskan bahwa dalam penelitian genetika populasi terdapat asumsi rata-rata panjang satu generasi sekitar 25 hingga 33 tahun.

Menurutnya, pendekatan tersebut digunakan untuk memperkirakan hubungan antara individu masa kini dengan leluhur yang hidup pada masa lampau.

Ia menerangkan bahwa penghitungan tersebut dilakukan menggunakan pendekatan statistik sehingga jumlah generasi dapat diperkirakan berdasarkan rentang waktu tertentu.

Tanggapan terhadap Perbedaan Pendapat

Dalam podcast tersebut juga dibahas adanya perbedaan pandangan mengenai interpretasi data genetika.

Rhoma Irama menyinggung diskusi yang melibatkan Guru Gembul dan Gus Romel terkait validitas sejumlah data.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Sugeng menjelaskan alasan mengapa dirinya memiliki pandangan tertentu berdasarkan pendekatan genetika populasi yang digunakan.

Ia mengatakan bahwa analisis terhadap populasi harus memperhatikan ukuran sampel, jumlah generasi, serta metode statistik yang digunakan sehingga kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Penjelasan Mengenai Verifikasi Data

Selanjutnya dibahas mengenai proses verifikasi terhadap individu yang mengikuti proyek FamilyTreeDNA.

Dr. Sugeng menjelaskan bahwa menurutnya terdapat administrator yang memiliki kewenangan melakukan verifikasi dalam proyek tersebut.

Ia menyampaikan bahwa proses administrasi dan klasifikasi peserta dilakukan oleh pihak yang diberi wewenang dalam proyek, bukan oleh pihak luar.

Menurut penjelasannya, seseorang yang tidak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan verifikasi tidak serta-merta dapat disimpulkan berada di luar kelompok tertentu.

Pentingnya Data dalam Menjawab Pertanyaan Ilmiah

Pada sesi berikutnya, Rhoma Irama membacakan pertanyaan lain mengenai sampel kelompok Quraisy dan Bani Abbas.

Dr. Sugeng menanggapi bahwa pertanyaan ilmiah memerlukan data pendukung yang jelas, seperti tabel, identitas kelompok yang dimaksud, maupun sumber penelitian.

Ia menyatakan bahwa tanpa data tersebut, menurutnya pertanyaan tidak dapat dianalisis secara ilmiah karena tidak memiliki dasar pembanding yang memadai.

Rhoma Irama Hadirkan Ahli DNA BRIN, Dr. Dugeng Sugiharto Paparkan Pandangan Ilmiah tentang Polemik Nasab Ba'Alawi

Referensi Penelitian Genetika Internasional yang Dijelaskan Dr. Sugeng

Menjelang akhir podcast, Rhoma Irama meminta Dr. Sugeng menjelaskan referensi ilmiah yang digunakan dalam kajiannya mengenai genetika dan garis keturunan.

Dr. Sugeng menerangkan bahwa penelitian mengenai genetika keluarga-keluarga yang dikaitkan dengan keturunan tokoh-tokoh sejarah telah dilakukan oleh sejumlah peneliti dari berbagai negara. Ia menyebut beberapa nama peneliti yang menurutnya menjadi rujukan dalam bidang tersebut, termasuk penelitian mengenai garis keturunan yang dikaitkan dengan Bani Harun dan kelompok-kelompok lain.

Menurut penjelasannya, penelitian-penelitian tersebut berkembang seiring kemajuan teknologi analisis DNA sehingga pemetaan genetika menjadi semakin rinci dibandingkan penelitian pada awal tahun 2000-an.

Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian dari berbagai ilmuwan tersebut kemudian dijadikan bahan pembanding dalam analisis yang ia lakukan terhadap data-data yang tersedia.

Penjelasan Mengenai Proses Eliminasi dalam Penelitian Genetika

Dalam sesi lanjutan, Dr. Sugeng menerangkan bahwa penelitian genetika tidak selalu dimulai dengan menentukan siapa yang benar, melainkan dengan mengeliminasi kemungkinan-kemungkinan yang menurut data tidak sesuai.

Ia memberikan ilustrasi bahwa dalam penelitian ilmiah, peneliti biasanya terlebih dahulu menyisihkan data yang dianggap tidak memenuhi kriteria sebelum melanjutkan analisis terhadap data yang dinilai lebih relevan.

Menurutnya, pendekatan seperti itu lazim digunakan dalam penelitian laboratorium untuk meningkatkan efisiensi penelitian serta mengarahkan fokus pada sampel yang memiliki kemungkinan lebih besar sesuai dengan tujuan penelitian.

Rhoma Irama Menilai Dialog Perlu Menghadirkan Berbagai Sudut Pandang

Setelah mendengarkan penjelasan narasumber, Rhoma Irama menyampaikan bahwa selama rangkaian podcast tersebut ia berupaya menghadirkan berbagai sudut pandang agar masyarakat dapat memperoleh penjelasan dari berbagai bidang keilmuan.

Ia mengatakan bahwa sebelumnya telah menghadirkan narasumber dari sisi sejarah maupun pihak-pihak lain yang memiliki pandangan berbeda. Pada kesempatan tersebut, pembahasan difokuskan pada perspektif genetika melalui penjelasan Dr. Sugeng.

Rhoma Irama menyatakan bahwa menurutnya pembahasan seperti itu penting agar masyarakat dapat mengikuti diskusi yang berlangsung secara ilmiah dan tidak semata-mata berdasarkan perdebatan emosional.

Usulan Forum Akademik di Kampus

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian dalam podcast adalah usulan penyelenggaraan forum akademik untuk membahas polemik nasab.

Rhoma Irama mengemukakan gagasan agar dialog yang melibatkan berbagai pihak diselenggarakan melalui lembaga yang memiliki otoritas akademik.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Sugeng menyatakan persetujuannya.

Menurutnya, forum tersebut idealnya dilaksanakan di lingkungan perguruan tinggi dengan melibatkan profesor genetika, profesor sejarah, serta moderator yang memiliki latar belakang akademik sehingga pembahasan berlangsung berdasarkan metodologi ilmiah.

Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi sebagai contoh tempat yang menurutnya dapat menjadi lokasi penyelenggaraan forum tersebut, dengan penekanan bahwa pengawasan akademik menjadi unsur penting dalam diskusi.

Penjelasan Mengenai Pewarisan DNA Garis Ayah

Pada bagian akhir dialog, Dr. Sugeng kembali menjelaskan konsep pewarisan kromosom Y yang menjadi dasar analisis genetika dalam penelitian garis keturunan laki-laki.

Menurut penjelasannya, kromosom Y diwariskan dari ayah kepada anak laki-laki sehingga sejumlah penanda genetika tetap dapat ditelusuri dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ia menjelaskan bahwa mutasi tertentu akan muncul pada titik-titik waktu tertentu dalam sejarah keluarga sehingga membentuk cabang-cabang genetika yang dapat dipetakan oleh para peneliti.

Dalam podcast tersebut, ia menggunakan ilustrasi mengenai proses penyalinan informasi genetika dari satu generasi ke generasi berikutnya untuk menggambarkan bagaimana pola pewarisan tersebut berlangsung.

Analogi DNA dan Dokumen Kepemilikan

Menjelang penutupan acara, Dr. Sugeng menyampaikan sebuah analogi untuk menjelaskan hubungan antara dokumen silsilah dan data genetika.

Ia mengibaratkan dokumen nasab seperti dokumen administrasi kepemilikan kendaraan, sedangkan DNA diibaratkan sebagai identitas fisik yang melekat pada kendaraan tersebut.

Melalui analogi itu, ia menjelaskan pandangannya mengenai pentingnya kesesuaian antara data administrasi dan data biologis dalam pembahasan garis keturunan menurut perspektif genetika yang dipaparkannya selama podcast.

Podcast Ditutup dengan Ucapan Terima Kasih

Setelah sesi diskusi berakhir, Rhoma Irama menyampaikan apresiasi kepada Dr. Sugeng Sugiharto atas kesediaannya menjadi narasumber.

Acara kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada para pemirsa yang telah mengikuti pembahasan hingga selesai, disertai salam penutup dari pembawa acara dan narasumber.

FAQ

Siapa narasumber dalam podcast Rhoma Irama Official yang tayang pada 5 Juli 2024?

Narasumber dalam podcast tersebut adalah Dr. Sugeng Sugiharto yang diperkenalkan sebagai ahli biologi dan peneliti dari BRIN dengan keahlian di bidang DNA.

Apa topik utama yang dibahas dalam podcast?

Podcast membahas polemik nasab dari sudut pandang genetika, termasuk penjelasan mengenai DNA, haplogroup, metode analisis genetika, serta usulan penyelenggaraan forum akademik.

Apa usulan yang disampaikan terkait penyelesaian polemik?

Dalam dialog tersebut muncul usulan agar pembahasan dilakukan melalui seminar atau forum akademik yang melibatkan ahli genetika, sejarah, dan pihak-pihak terkait di bawah pengawasan institusi akademik.

Apakah penelitian yang dipaparkan merupakan penelitian resmi BRIN?

Dalam podcast, Dr. Sugeng menjelaskan bahwa pembahasan yang disampaikannya bukan merupakan penelitian resmi BRIN, melainkan kajian yang memanfaatkan berbagai referensi penelitian genetika internasional dan data yang tersedia.

Apa yang menjadi dasar penjelasan genetika dalam podcast?

Dr. Sugeng menjelaskan konsep pewarisan kromosom Y, haplogroup, mutasi genetika, genetika populasi, serta penggunaan data statistik sebagai dasar penjelasan yang disampaikannya dalam podcast.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button