invisible hit counter
Nasional

Dr. KH Ubaidillah Tamam Munzi Klarifikasi Polemik Rembang: Undangan KH Marzuki Mustamar Disebut Inisiatif Kolektif Masyarakat

WARTA BATAVIAREMBANG — Dr. KH Ubaidillah Tamam Munzi, dosen UIN Walisongo Semarang, memberikan penjelasan mengenai suasana yang tengah menjadi perhatian masyarakat di Rembang. Dalam penjelasannya yang disampaikan melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 30 Juli 2026, Ubaidillah menjelaskan sejumlah hal terkait undangan kepada KH Marzuki Mustamar untuk menghadiri acara haul Mbah Pangeran Sido Laut.

Ubaidillah menegaskan bahwa rencana menghadirkan KH Marzuki Mustamar dalam acara tersebut bukan merupakan gagasan pribadinya. Menurut dia, undangan tersebut berasal dari kesadaran kolektif masyarakat yang terlibat dalam kegiatan dan jejaring sosial di sekitar acara haul.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat yang tergabung dalam kegiatan tersebut kemudian membuat kesepakatan untuk mengundang KH Marzuki Mustamar sebagai pengisi acara haul Mbah Pangeran Sido Laut.

Dalam penjelasannya, Kiyai Ubaidillah juga menerangkan posisinya dalam proses komunikasi antara panitia dan pihak KH Marzuki Mustamar. Ia menyebut dirinya berperan membantu panitia untuk memperoleh akses komunikasi dan mengatur proses sowan atau kunjungan kepada KH Marzuki Mustamar.

Klarifikasi tersebut disampaikan setelah muncul pembicaraan mengenai hubungan dirinya dengan rencana kehadiran KH Marzuki Mustamar dalam acara haul tersebut.

Kiyai Ubaidillah Bahas Fenomena yang Sedang Viral di Rembang

Pada awal penjelasannya, Kiyai Ubaidillah mengatakan bahwa suasana yang sedang viral di Rembang merupakan sebuah fenomena yang perlu dilihat dalam konteks tanggung jawab masing-masing individu.

Ia mengatakan, orang dewasa akan mempertanggungjawabkan keputusan dan perbuatannya. Menurut dia, hal tersebut berlaku terlepas dari aspek ilmiah yang dapat maupun tidak dapat disampaikan mengenai sebuah fenomena.

“Orang dewasa itu akan mempertanggungjawabkan atas keputusan dan perbuatannya yang telah dilakukan.”

Ubaidillah kemudian mengaitkan berbagai fenomena dengan sejarah masyarakat. Menurut dia, setiap orang akan memberikan tanda dan mencatat sejarahnya masing-masing, sementara realitas masyarakat pada akhirnya akan membaca catatan tersebut.

Ia mengatakan setiap fenomena memiliki dampak terhadap masyarakat dan sejarah peradaban.

“Masing-masing orang itu akan menandai sejarahnya sendiri-sendiri. Masing-masing orang itu akan mencatat sejarahnya sendiri-sendiri dan realitas masyarakatlah yang akan membacanya,” ujar Ubaidillah dalam penjelasannya.

Undangan KH Marzuki Mustamar Disebut Berasal dari Masyarakat

Ubaidillah kemudian menjelaskan mengenai awal mula rencana menghadirkan KH Marzuki Mustamar dalam acara haul Mbah Pangeran Sido Laut.

Menurut dia, masyarakat yang memiliki inisiatif tersebut berasal dari jemaah Arrisalah dan masyarakat yang memiliki jejaring dalam berbagai kegiatan.

Jejaring tersebut, kata dia, antara lain berkaitan dengan kegiatan tahlilan rutin, relasi sosial, kegiatan untuk menghidupkan suasana makam Mbah Pangeran Sido Laut, serta hubungan emosional masyarakat dengan makam, masjid, dan kawasan tersebut.

Masyarakat kemudian berkumpul dan membuat kesepakatan untuk mengundang KH Marzuki Mustamar dalam acara haul.

“Yang punya inisiatif itu jemaah Arrisalah dan masyarakat yang tergabung atau berjejaring,” kata Ubaidillah.

Menurut Ubaidillah, sebelum dirinya mengetahui mengenai rencana tersebut, pihak panitia telah lebih dahulu melakukan konfirmasi kepada KH Marzuki Mustamar.

Ia menegaskan, ide untuk menghadirkan KH Marzuki Mustamar bukan berasal darinya.

“Inisiator ide desain mau menghadirkan beliau KH Marzuki Mustamar itu bukan saya, tapi kesadaran kolektif masyarakat,” ujarnya.

Ia baru mengetahui rencana tersebut setelah panitia mengadakan kesepakatan dengan pihak KH Marzuki Mustamar.

Panitia Lebih Dulu Menghubungi Pihak KH Marzuki Mustamar

Ubaidillah menjelaskan bahwa panitia telah meminta kesediaan KH Marzuki Mustamar untuk hadir dalam acara haul tersebut.

Menurut dia, agenda kehadiran KH Marzuki Mustamar kemudian telah disiapkan melalui pihak sekretaris atau admin yang mengatur jadwal beliau.

Dalam konteks tersebut, Ubaidillah mempertanyakan apa hubungan dirinya dengan proses tersebut.

Ia menjelaskan bahwa hubungannya dengan rencana tersebut adalah membantu menghubungkan panitia dengan pihak atau asisten KH Marzuki Mustamar.

Tujuannya adalah agar panitia dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk melakukan sowan kepada KH Marzuki Mustamar.

Ubaidillah mengatakan, langkah tersebut diperlukan agar ketika panitia datang, kunjungan tersebut sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.

Kesulitan Komunikasi Menjadi Alasan Panitia Menghubungi Ubaidillah

Menurut Ubaidillah, panitia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan sekretaris KH Marzuki Mustamar.

Karena itu, panitia kemudian meminta bantuannya agar proses komunikasi dapat berjalan lebih efektif.

Ia menyebut ada dua hal yang diminta oleh panitia.

Pertama, meminta dirinya menemani panitia ketika sowan kepada KH Marzuki Mustamar di Malang.

Kedua, meminta bantuan agar memperoleh kepastian mengenai waktu KH Marzuki Mustamar dapat menerima kedatangan perwakilan panitia.

Ubaidillah mengatakan dirinya membantu dalam kapasitas sebagai sesama warga Rembang.

Dalam penjelasannya, ia menyebut memiliki hubungan komunikasi dengan KH Marzuki Mustamar, baik dalam konteks kewarganegaraan maupun organisasi dan hubungan antargenerasi.

Ia juga mengaku mengagumi KH Marzuki Mustamar sebagai sosok yang lebih senior.

Ubaidillah Menyebut Dirinya sebagai Mediator

Ubaidillah menjelaskan bahwa dalam proses tersebut posisinya adalah sebagai mediator.

Ia membantu komunikasi antara perwakilan panitia haul Mbah Pangeran Sido Laut dengan KH Marzuki Mustamar.

Menurut dia, sowan kepada kiai merupakan bagian dari etika dan unggah-ungguh dalam tradisi masyarakat Jawa.

Karena KH Marzuki Mustamar telah menyatakan kesediaan hadir, menurut Ubaidillah, panitia perlu melakukan sowan sebagai bentuk penghormatan.

“Posisi saya sebagai mediator bagaimana pihak perwakilan dari haul Mbah Pangeran Sido Laut bisa sowan untuk memastikan unggah-ungguh sebagai panitia mengundang beliau,” kata Ubaidillah.

Ia kemudian kembali menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam perencanaan awal untuk mengundang KH Marzuki Mustamar.

Menurut dia, proses dari perencanaan hingga kesediaan KH Marzuki Mustamar untuk hadir merupakan komunikasi antara panitia dan sekretaris KH Marzuki Mustamar.

“Saya fungsi membantu panitia memudahkan sowan KH Marzuki Mustamar terkait dengan apa yang telah dijadwalkan dari pihak KH Marzuki Mustamar,” ujarnya.

Ubaidillah Tidak Mengaku sebagai Panitia

Dalam klarifikasinya, Ubaidillah juga menjelaskan bahwa dirinya bukan bagian dari kepanitiaan acara tersebut.

Ia mengatakan dirinya bahkan tidak mengikuti rapat-rapat yang membahas rencana menghadirkan KH Marzuki Mustamar.

Menurut dia, meskipun proses undangan berlangsung selama beberapa waktu, dirinya tidak mengikuti rentetan pertemuan dari satu rapat ke rapat lainnya.

Ia menyebut bahwa dirinya tidak ikut dalam kepanitiaan secara langsung.

“Saya kepanitiaan enggak ikut sama sekali,” kata Ubaidillah.

Namun, Ubaidillah mengatakan dirinya kemudian diundang untuk menjadi salah satu penceramah yang mendampingi atau mengiringi ceramah KH Marzuki Mustamar.

Ia menjelaskan bahwa undangan tersebut datang mendekati pelaksanaan acara.

Membatalkan Agenda Demi Menghormati KH Marzuki Mustamar

Ubaidillah juga mengungkapkan bahwa dirinya sengaja menyediakan waktu untuk menghadiri acara tersebut.

Ia mengatakan, agenda di Semarang yang seharusnya dijalankan dibatalkan. Ia juga menyebut sebelumnya memiliki agenda di Jakarta.

Menurut dia, keputusan tersebut dilakukan karena dirinya ingin menghormati KH Marzuki Mustamar.

Ubaidillah menjelaskan bahwa dirinya menilai KH Marzuki Mustamar sebagai seorang ahli ilmu.

Ia menyebut KH Marzuki Mustamar sebagai sosok yang memiliki kemampuan dalam membaca turats sekaligus terlibat dalam pengembangan literasi turats.

“Karena saya ingin hormat KH Marzuki Mustamar. Beliau orang yang alim,” kata Ubaidillah.

Ia mengatakan, dua atau tiga hari sebelum acara, dirinya memilih menggunakan waktu tersebut untuk menulis di rumah agar dapat mempersiapkan diri dan tidak terlalu lelah.

Ubaidillah mengatakan dirinya tetap ingin menemani kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Ubaidillah Menyayangkan Pembatalan Kehadiran KH Marzuki Mustamar

Dalam penjelasannya, Ubaidillah mengungkapkan bahwa dirinya menyayangkan pembatalan kehadiran KH Marzuki Mustamar.

Ia mengatakan dirinya sebenarnya telah menyiapkan waktu untuk acara haul tersebut karena ingin menghormati KH Marzuki Mustamar sebagai ahli ilmu.

Menurut dia, rasa kecewa atau menyayangkan tersebut merupakan sisi manusiawi dirinya.

Ia kembali menegaskan bahwa pembatalan tersebut bukan sesuatu yang direncanakan olehnya.

“Jujur saja, saya menyayangkan atas pembatalan itu,” ujarnya.

Ubaidillah juga mengatakan persoalan mengenai penggunaan nama tertentu atau interpretasi mengenai kejadian tersebut merupakan hal yang dapat dilihat secara berbeda oleh masyarakat.

Namun, ia menyebut fenomena tersebut sebagai sesuatu yang disayangkan.

Tetap Hadir dalam Acara Haul Mbah Pangeran Sido Laut

Meskipun KH Marzuki Mustamar batal hadir, Ubaidillah menyatakan dirinya tetap akan datang ke acara haul Mbah Pangeran Sido Laut.

Ia mengatakan akan hadir bersama Gus Idror.

Dalam acara tersebut, ia berencana menyampaikan materi kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuannya.

Materi yang akan disampaikan berkaitan dengan prinsip nubuwah, tauhid atau ketauhidan, dan kemanusiaan.

Menurut Ubaidillah, masyarakat perlu tetap berpegang pada prinsip ketauhidan sekaligus menegakkan nilai kemanusiaan.

Ia menyebut ketauhidan dan kemanusiaan sebagai bagian penting dari warisan para nabi kepada para ulama.

“Ketauhidan dan kemanusiaan. Inilah salah satu hal penting yang diwariskan oleh para nabi kepada para ulama,” ujarnya.

Ketauhidan dan Kemanusiaan Disebut sebagai Akar

Ubaidillah kemudian menjelaskan hubungan antara warisan keilmuan para ulama dengan prinsip ketauhidan dan kemanusiaan.

Menurut dia, para ulama sebagai warasatul anbiya atau pewaris para nabi harus tetap berjalan berdasarkan akar ketauhidan dan kemanusiaan.

Ia mengatakan berbagai aspek kehidupan dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman.

Perubahan tersebut, menurut dia, dapat berkaitan dengan perkembangan peradaban, ilmu pengetahuan, teknologi informasi, sosiologi, antropologi, hingga sosial-politik masyarakat.

Namun, menurut Ubaidillah, perubahan kontekstual tersebut tidak boleh menghilangkan prinsip dasar ketauhidan dan kemanusiaan.

“Ilmul waratsah min waratsatil anbiya, tauhid wal insaniah, tidak boleh tercabut dari akar kehidupan kita sebagai umat Nabi Mustofa Muhammad SAW,” katanya.

Ia kemudian mengajak masyarakat Rembang menjaga hubungan kemanusiaan dengan siapa pun.

Ubaidillah: Rembang Tidak Memiliki Masalah antara Habib, Kiai dan Santri

Pada bagian akhir penjelasannya, Ubaidillah menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara kelompok masyarakat di Rembang.

Ia mengatakan bahwa menurut dirinya, Rembang sebenarnya tidak memiliki masalah antara habib, kiai, dan santri.

Ia juga menyebut berbagai kegiatan yang menghadirkan habib sebagai penceramah maupun dalam kegiatan selawat selama ini dapat berjalan.

Menurut Ubaidillah, di sejumlah kegiatan yang menghadirkan habib tidak pernah ada upaya untuk menghalangi atau membatasi.

Ia mengatakan kegiatan tersebut selama ini berjalan sesuai dengan realitas perkembangan masyarakat.

“Rembang ini sebenarnya enggak ada masalah antara Habib dan Kiai dan santri,” ujar Ubaidillah.

Ia bahkan menyebut terdapat keluarga di lingkungan masyarakat yang tetap mengundang habib untuk kegiatan selawat maupun ceramah.

Menurut dia, kegiatan tersebut berlangsung tanpa penghalangan, pembatasan, maupun pembatalan.

Berkurangnya Undangan kepada Habib Disebut sebagai Kesadaran Kolektif

Ubaidillah kemudian menanggapi kemungkinan berkurangnya undangan selawat atau ceramah kepada habib di Rembang.

Menurut dia, apabila jumlah undangan tersebut mengalami penurunan, hal itu tidak berkaitan dengan personal tertentu.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kesadaran kolektif masyarakat.

“Kalaupun masyarakat Rembang undangan selawat kepada Habib maupun ceramah itu berkurang drastis, itu tidak hubungannya dengan personal tertentu, tapi itu bentuk kesadaran kolektif masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa selama ini tidak pernah terjadi pembatalan ceramah seperti yang menurut dia muncul dalam fenomena yang sedang berlangsung di Rembang.

Menurut Ubaidillah, kondisi tersebut berbeda dengan situasi sebelumnya ketika masyarakat Rembang dinilai tetap kondusif meskipun terdapat perbedaan pandangan di antara para kiai.

Perbedaan Pandangan di Rembang Dinilai sebagai Hal yang Wajar

Ubaidillah menjelaskan bahwa perbedaan pandangan di antara para kiai di Rembang, Lasem, dan Sarang merupakan sesuatu yang biasa terjadi.

Menurut dia, perbedaan perspektif tidak harus menjadi persoalan selama prinsip ketauhidan dan kemanusiaan tetap dijaga.

Ia menyebut latar belakang historis dan perspektif keilmuan masing-masing kiai dapat menghasilkan pandangan yang berbeda.

“Rembang, Lasem, Sarang itu banyak perbedaan pandangan itu wajar,” katanya.

Menurut Ubaidillah, konteks keilmuan dapat kembali pada perspektif dan latar belakang historis masing-masing.

Ia menyebut perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang manusiawi.

Namun, ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi tindakan saling membatalkan.

Seruan Menjaga Kondusivitas Rembang

Ubaidillah kemudian menyerukan agar masyarakat menjaga kondusivitas Rembang.

Ia menyampaikan bahwa perbedaan pandangan dapat tetap ada, tetapi prinsip ketauhidan dan kemanusiaan perlu dijaga bersama.

Ia juga menyinggung persoalan hegemoni dan tindakan membatalkan kegiatan.

Menurut dia, tindakan saling membatalkan tidak sesuai dengan etika universal.

“Jangan ada batal-membatalkan hegemoni. Sebenarnya itu sangat melanggar etik universal,” ujar Ubaidillah.

Ia kemudian mengajak masyarakat untuk menjaga suasana Rembang berdasarkan ketauhidan dan kemanusiaan.

Ajak Masyarakat Hadiri Haul Mbah Pangeran Sido Laut

Menutup penjelasannya, Ubaidillah mengajak masyarakat menghadiri acara haul Mbah Pangeran Sido Laut.

Ia mengatakan acara tersebut akan menjadi ruang untuk berbicara mengenai ketauhidan dan kemanusiaan.

Selain itu, materi yang akan dibahas juga berkaitan dengan sejarah Mbah Sido Laut, pribumisasi Islam, Kota Rembang, khazanah turats di Rembang, serta perkembangan peradaban di wilayah tersebut.

“Besok malam mari kita berbondong-bondong mendatangi acara haul Mbah Pangeran Sido Laut,” kata Ubaidillah.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Klarifikasi Ubaidillah Tamam Munzi tentang Polemik Rembang

Dari keseluruhan penjelasannya, Ubaidillah Tamam Munzi menekankan beberapa hal terkait polemik yang sedang menjadi perhatian di Rembang.

Pertama, ia menyebut rencana menghadirkan KH Marzuki Mustamar merupakan inisiatif masyarakat dan bukan gagasan pribadinya.

Kedua, ia menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam proses tersebut terbatas pada membantu komunikasi antara panitia dengan pihak KH Marzuki Mustamar, termasuk membantu proses sowan.

Ketiga, ia menegaskan tidak menjadi bagian dari kepanitiaan dan tidak mengikuti rapat-rapat mengenai rencana menghadirkan KH Marzuki Mustamar.

Keempat, ia menyatakan menyayangkan pembatalan kehadiran KH Marzuki Mustamar karena dirinya telah menyediakan waktu untuk menghadiri acara tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ahli ilmu.

Kelima, ia menyatakan tetap akan menghadiri acara haul Mbah Pangeran Sido Laut dan menyampaikan materi mengenai ketauhidan dan kemanusiaan.

Keenam, ia menyerukan agar masyarakat Rembang menjaga kondusivitas dan tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling membatalkan kegiatan.

Penjelasan tersebut disampaikan Ubaidillah dalam konteks menjawab situasi yang menurutnya sedang menjadi perhatian masyarakat Rembang. Ia juga menempatkan persoalan tersebut dalam konteks hubungan sosial, tradisi masyarakat, etika kepada ulama, serta prinsip ketauhidan dan kemanusiaan.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan Ubaidillah, inti klarifikasi mengenai rencana kehadiran KH Marzuki Mustamar adalah bahwa undangan tersebut berasal dari kesadaran kolektif masyarakat, sementara dirinya berperan membantu komunikasi dan proses sowan kepada KH Marzuki Mustamar.

FAQ

1. Siapa Dr. KH Ubaidillah Tamam Munzi?

Dr. KH Ubaidillah Tamam Munzi merupakan dosen UIN Walisongo Semarang yang dalam video pada 30 Juli 2026 memberikan penjelasan mengenai situasi yang sedang menjadi perhatian masyarakat di Rembang.

2. Apa yang dijelaskan Ubaidillah mengenai KH Marzuki Mustamar?

Ubaidillah menjelaskan proses undangan kepada KH Marzuki Mustamar untuk menghadiri acara haul Mbah Pangeran Sido Laut. Ia menegaskan bahwa rencana tersebut merupakan inisiatif masyarakat, bukan gagasan pribadinya.

3. Apa peran Ubaidillah dalam undangan KH Marzuki Mustamar?

Menurut penjelasannya, Ubaidillah berperan membantu komunikasi antara panitia dengan pihak KH Marzuki Mustamar, termasuk membantu mengatur proses sowan dan memastikan waktu yang tepat untuk bertemu.

4. Apakah Ubaidillah merupakan panitia haul?

Ubaidillah mengatakan dirinya tidak ikut dalam kepanitiaan. Ia juga menyebut tidak mengikuti rapat-rapat yang membahas rencana mengundang KH Marzuki Mustamar.

5. Mengapa Ubaidillah menyayangkan pembatalan KH Marzuki Mustamar?

Ia mengatakan telah menyediakan waktu untuk menghadiri acara tersebut karena ingin menghormati KH Marzuki Mustamar sebagai seorang ahli ilmu. Karena itu, ia menyebut pembatalan tersebut sebagai sesuatu yang disayangkan dari sisi manusiawi.

6. Apakah Ubaidillah tetap menghadiri haul Mbah Pangeran Sido Laut?

Ya. Dalam penjelasannya, Ubaidillah mengatakan tetap akan datang bersama Gus Idror dan menyampaikan materi kepada masyarakat.

7. Apa tema materi yang akan disampaikan Ubaidillah?

Ia menyebut materi yang akan disampaikan berkaitan dengan nubuwah, ketauhidan, dan kemanusiaan, termasuk pembahasan mengenai sejarah Mbah Sido Laut, pribumisasi Islam, khazanah turats di Rembang, dan peradaban Rembang.

8. Bagaimana Ubaidillah melihat perbedaan pandangan para kiai di Rembang?

Ia menyebut perbedaan pandangan sebagai hal yang wajar karena setiap kiai memiliki perspektif dan latar belakang historis yang berbeda.

9. Apa yang disampaikan Ubaidillah mengenai hubungan habib, kiai dan santri di Rembang?

Ia mengatakan menurut dirinya tidak ada masalah antara habib, kiai, dan santri di Rembang. Ia juga menyebut kegiatan yang menghadirkan habib untuk selawat maupun ceramah selama ini dapat berlangsung.

10. Apa pesan Ubaidillah untuk masyarakat Rembang?

Ia mengajak masyarakat menjaga kondusivitas berdasarkan ketauhidan dan kemanusiaan serta menghindari tindakan saling membatalkan kegiatan.


Sumber: Penjelasan Dr. KH Ubaidillah Tamam Munzi melalui kanal YouTube UBAIDILLAH TAMAM MUNJI, 30 Juli 2026. Materi artikel disusun berdasarkan transkrip yang diberikan dan tidak dimaksudkan untuk menambahkan penilaian di luar pernyataan narasumber.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button