invisible hit counter
Nasional

KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Pembaruan NU dan Kematangan Kepemimpinan Menjelang Muktamar

KH. DR. Ubaidillah Tamam Munji menyampaikan pandangannya mengenai kebutuhan pembaruan Nahdlatul Ulama (NU) di tengah dinamika internal dan isu yang berkembang di ruang publik. Penjelasan tersebut disampaikan melalui kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 15 Agustus 2026.

Dalam penjelasannya, Ubaidillah mengaitkan kondisi NU dengan sebuah fase pencerahan yang, menurutnya, memiliki batas waktu dan pada titik tertentu membutuhkan pembaruan. Ia juga menyinggung sejumlah isu yang berkembang, mulai dari persoalan tambang, isu pemecatan, wacana pemimpin pengganti sementara, hingga pembahasan mengenai percepatan muktamar.

Ubaidillah menekankan bahwa pembaruan NU, dalam pandangannya, perlu berjalan bersama dengan kematangan pemimpin. Ia menyebut empat aspek yang perlu dimiliki pemimpin, yakni kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sikap.

Ubaidillah Tamam Munji Soroti Fase Pencerahan NU

Menurut Ubaidillah, perjalanan NU dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat telah memasuki sebuah fase yang membutuhkan pembaruan. Ia menggambarkan fase pencerahan sebagai proses yang pada suatu masa dapat mencapai batas tertentu dan kemudian memerlukan penyegaran.

Ia menyebut bahwa ketika sebuah fase telah mencapai batas waktu, berbagai upaya untuk mempertahankan kondisi agar tetap prima dapat menghadapi hambatan, tantangan, dan persoalan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat terlihat sebagai fenomena sosial yang hadir di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut kemudian ia hubungkan dengan berbagai isu yang muncul di sekitar NU. Ia menyebut bahwa sejumlah tema berkembang menjadi isu yang ramai dibicarakan di ruang publik, terutama ketika terdapat persoalan internal organisasi.

Isu Internal Dinilai Dapat Berkembang Menjadi Isu Publik

Dari persoalan internal menuju perbincangan eksternal

Dalam penjelasannya, Ubaidillah menyebut beberapa isu yang menurutnya berkembang di ruang publik. Ia antara lain menyinggung isu tambang, isu saling memecat, pembahasan mengenai pemimpin pengganti sementara, serta wacana percepatan muktamar.

Ia menggunakan istilah “isu liar” untuk menggambarkan berkembangnya berbagai pemberitaan atau pembahasan yang muncul di luar persoalan internal organisasi. Menurutnya, keberadaan isu semacam itu tidak dapat dilepaskan dari kondisi internal organisasi.

Ubaidillah menjelaskan bahwa apabila persoalan pada tingkat mikro kepemimpinan dan mikro politik organisasi tidak bermasalah, isu yang berkembang dari luar dinilainya tidak akan mudah memberikan pengaruh besar. Sebaliknya, ketika terdapat persoalan internal, isu eksternal dapat berkembang dan memperbesar perhatian publik.

Saling komentar dapat memperbesar konflik

Ubaidillah juga menyoroti hubungan antara pihak internal dan eksternal organisasi. Menurutnya, ketika pihak luar ikut memberikan komentar terhadap konflik internal, dinamika tersebut dapat menjadi semakin rumit.

Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai proses saling serang antara pihak internal dan eksternal. Dalam konteks itu, konflik yang semula berada di dalam organisasi dapat semakin terlihat di ruang publik.

Menurut Ubaidillah, hal serupa juga terlihat dalam pembahasan mengenai muktamar yang dipercepat. Ia menyebut bahwa setelah keputusan terkait muktamar telah ada dan mendekati pelaksanaan, muncul video yang kemudian menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi suasana publik.

Pembaruan Dinilai Menjadi Kebutuhan NU

Ubaidillah berulang kali menegaskan bahwa menurut pandangannya NU membutuhkan pembaruan. Pembaruan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pergantian figur, tetapi juga menyangkut kualitas kepemimpinan dan arah pengelolaan organisasi.

Ia menyatakan bahwa NU membutuhkan pemimpin yang matang dalam empat jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sikap.

Empat kecerdasan yang disebut penting

Menurut Ubaidillah, kematangan intelektual diperlukan agar pemimpin mampu merespons persoalan yang berkaitan dengan pemikiran dan pengetahuan secara terukur. Ia juga mengaitkan kematangan emosional dengan kemampuan mengelola persoalan yang memiliki dimensi emosi.

Pada aspek spiritual, ia menilai kematangan diperlukan agar persoalan yang berhubungan dengan spiritualitas dapat dihadapi secara terukur. Sementara itu, kematangan sikap atau kepribadian diperlukan dalam menentukan bagaimana seorang pemimpin merefleksikan sikapnya di tengah organisasi dan masyarakat.

Ubaidillah menyebut bahwa jika empat potensi tersebut tidak matang tetapi seseorang tetap berada pada posisi terdepan, kondisi itu dapat berdampak terhadap kepemimpinan, tata kelola, sikap, dan organisasi secara keseluruhan.

Kepemimpinan dan Dampaknya terhadap Masyarakat Dampingan

Selain membahas struktur organisasi, Ubaidillah menghubungkan kualitas kepemimpinan dengan kemampuan NU dalam mendampingi masyarakat.

Ia mempertanyakan bagaimana organisasi dapat menjalankan fungsi pencerahan, pendampingan, dan pembebasan konflik apabila pihak yang menjalankan fungsi pendampingan sendiri belum memiliki kapasitas yang memadai.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi penting karena NU tidak hanya berkaitan dengan urusan internal organisasi, tetapi juga memiliki hubungan dengan masyarakat yang menjadi bagian dari ruang pengabdian.

Dalam kerangka tersebut, pembaruan kepemimpinan disebut berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk melakukan transformasi, dinamisasi, dan modernisasi di tengah masyarakat.

Kritik tentang NU: "Bukan Nahdlatul Broker", Kiyai Ubaidillah mengutip pernyataan Ahmad Baso

Kritik tentang NU: “Bukan Nahdlatul Broker”

Ubaidillah mengutip pernyataan Ahmad Baso

Dalam penjelasannya, Ubaidillah juga menyinggung pernyataan Kiai Muda Ahmad Baso. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai kritik yang menarik terhadap kondisi NU.

Ubaidillah mengutip ungkapan bahwa “NU itu Nahdlatul Ulama, bukan Nahdlatul Broker.” Ia kemudian mengembangkan istilah tersebut dengan beberapa permainan bahasa lain untuk menggambarkan kritik terhadap kemungkinan bergesernya orientasi organisasi dari peran keulamaan.

Penyebutan istilah tersebut dalam penjelasan Ubaidillah ditempatkan sebagai kritik dan refleksi, bukan sebagai perubahan nama organisasi. Ia menekankan kembali bahwa NU merupakan Nahdlatul Ulama dan menempatkan ulama sebagai unsur penting dalam organisasi.

Ulama dan fungsi pencerahan

Ubaidillah kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan pesan yang ia atribusikan kepada KH. Ma’ruf Amin. Dalam penjelasannya, ia menyampaikan ungkapan “ber-NU mesti ala basirah, bukan ala bisyarah.”

Istilah “ala basirah” kemudian ia kaitkan dengan cara pandang ulama yang hadir di tengah masyarakat dengan penglihatan dan pemahaman yang mendalam terhadap kondisi sosial.

Menurut Ubaidillah, ulama tidak hanya berada dalam posisi simbolik, tetapi juga memiliki fungsi mendampingi masyarakat dan menggerakkan proses pencerahan yang transformatif.

NU Diharapkan Mendorong Transformasi Masyarakat

Dalam penjelasan tersebut, Ubaidillah menggambarkan fungsi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang dapat berperan dalam proses transformasi sosial.

Ia menyebut sejumlah arah yang menurutnya perlu diperkuat, yaitu dinamisasi, modernisasi, pembebasan, dan pencerahan. Tujuan yang ia sampaikan berkaitan dengan terbentuknya masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.

Dengan kerangka tersebut, pembaruan NU dipandang bukan sekadar persoalan pergantian kepemimpinan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan organisasi menjalankan fungsi sosial dan keagamaannya.

Harapan terhadap Muktamar di Tambakberas

Ubaidillah menyebut agenda muktamar di Tambakberas sebagai momentum yang berkaitan dengan arah kepemimpinan NU ke depan. Ia menyatakan bahwa PW dan PC, dalam konteks pemilihan pemimpin NU, perlu memilih sosok yang dapat mengangkat gerbong Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, kepemimpinan yang dipilih perlu menjadikan ulama sebagai bagian utama dari identitas organisasi keagamaan dan kemasyarakatan tersebut.

Ia juga berharap proses kepemimpinan berikutnya dapat menghasilkan sosok yang mampu menjalankan fungsi pembebasan dan pencerahan bagi masyarakat.

Harapan terhadap figur Rais Aam dan Ketua Umum

Harapan terhadap figur Rais Aam dan Ketua Umum

Dalam bagian akhir penjelasannya, Ubaidillah menyampaikan harapan pribadinya sebagai warga Nahdliyin. Ia menyebut nama KH. Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam dan Gus Rozin untuk posisi Ketua Umum.

Ia menyatakan bahwa kedua nama tersebut menurut penilaiannya memiliki kepemimpinan yang terukur serta kualifikasi keilmuan untuk menggerakkan NU. Harapan itu ia kaitkan dengan keberlangsungan institusi NU di tengah masyarakat Indonesia.

Pernyataan mengenai nama-nama tersebut merupakan harapan yang disampaikan Ubaidillah dalam penjelasannya, bukan keterangan mengenai keputusan resmi organisasi.

Pembaruan NU Dihubungkan dengan Keberlangsungan Organisasi

Secara keseluruhan, penjelasan Ubaidillah Tamam Munji menempatkan pembaruan sebagai tema utama. Ia menghubungkan dinamika internal, munculnya isu di ruang publik, kualitas kepemimpinan, serta fungsi NU dalam mendampingi masyarakat.

Menurut Ubaidillah, pemimpin NU ke depan perlu memiliki kematangan spiritual, intelektual, emosional, dan sikap. Kematangan tersebut dinilainya penting agar setiap respons kepemimpinan terhadap persoalan organisasi dapat dilakukan secara terukur.

Ia juga menekankan kembali identitas NU sebagai Nahdlatul Ulama. Dalam pandangannya, arah organisasi perlu tetap bertumpu pada peran ulama dan fungsi pencerahan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, Ubaidillah menyampaikan harapan agar masa depan NU diisi dengan pembaruan. Pembaruan tersebut, menurutnya, diharapkan dapat memperkuat transformasi, dinamisasi, dan modernisasi sehingga fungsi pendampingan masyarakat dapat terus berjalan.

KH Ubaidillah Tamam Munji Soroti Pembaruan NU dan Kematangan Kepemimpinan Menjelang Muktamar

FAQ

Apa yang disampaikan KH. DR. Ubaidillah Tamam Munji pada 15 Agustus 2026?

KH. DR. Ubaidillah Tamam Munji membahas dinamika NU, sejumlah isu internal yang berkembang menjadi perbincangan publik, kebutuhan pembaruan organisasi, serta pentingnya kematangan kepemimpinan.

Apa yang dimaksud pembaruan NU dalam penjelasan Ubaidillah Tamam Munji?

Dalam penjelasannya, pembaruan NU dikaitkan dengan kebutuhan menghadirkan kepemimpinan yang matang dan memperkuat fungsi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang menjalankan pencerahan, pendampingan, transformasi, dan modernisasi masyarakat.

Empat kecerdasan apa yang disebut Ubaidillah sebagai kualitas pemimpin?

Empat aspek yang disebut adalah kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sikap atau kepribadian.

Isu apa saja yang disebut dalam penjelasan tersebut?

Beberapa isu yang disebut antara lain isu tambang, isu saling memecat, wacana pemimpin pengganti sementara, pembahasan percepatan muktamar, serta video yang disebut bocor menjelang pelaksanaan muktamar.

Apa kritik “NU bukan Nahdlatul Broker” yang disampaikan?

Ungkapan tersebut disebut Ubaidillah sebagai pernyataan Ahmad Baso. Dalam konteks penjelasannya, ungkapan itu digunakan sebagai kritik agar NU tetap berorientasi pada peran keulamaan, bukan bergeser menjadi organisasi yang berorientasi pada peran perantara atau broker.

Apa yang dimaksud “ala basirah” dalam penjelasan Ubaidillah?

Ubaidillah mengaitkan “ala basirah” dengan cara pandang yang mendalam dalam melihat kehidupan dan kondisi masyarakat. Ia menghubungkannya dengan peran ulama dalam memberikan pendampingan, pencerahan, dan mendorong perubahan sosial.

Siapa yang diharapkan Ubaidillah untuk memimpin NU?

Dalam penjelasan tersebut, Ubaidillah menyampaikan harapan pribadinya agar KH. Said Aqil Siradj menjadi Rais Aam dan Gus Rozin menjadi Ketua Umum. Ia menegaskan harapan itu sebagai pandangan dirinya sebagai warga Nahdliyin.

Apa tujuan pembaruan NU menurut penjelasan tersebut?

Pembaruan diarahkan pada penguatan peran NU dalam melakukan transformasi, dinamisasi, modernisasi, pembebasan, dan pencerahan masyarakat, dengan tetap menempatkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan sebagai bagian dari arah yang disebutkan.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan penjelasan KH. DR. Ubaidillah Tamam Munji di kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 15 Agustus 2026. Nama, istilah, dan harapan politik-organisasi yang disebut dalam artikel merupakan bagian dari isi penjelasan narasumber dan tidak diposisikan sebagai keputusan resmi organisasi.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button