Asal-usul Kitab Sullamut Taufiq Dipertanyakan, KH Nur Ihyak Soroti Manuskrip Tua dari Madura

Warta Batavia – KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Gus Saiful Bahri membahas manuskrip tua Sullamut Taufiq dari Madura. Kajian menyoroti usia manuskrip, bahan kertas deluang, kitab pembanding Tazkirun Nas, serta kesimpulan sementara mengenai kepengarangan Sullamut Taufiq.
Asal-usul Kitab Sullamut Taufiq Dibahas melalui Manuskrip Tua dari Madura
Pembahasan mengenai asal-usul dan kepengarangan kitab Sullamut Taufiq ila Mahabbatillahi ‘ala al-Tahqiq kembali menjadi perhatian dalam sebuah bincang-bincang antara KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Gus Saiful Bahri pada 9 Mei 2025.
Dalam kajian yang disiarkan melalui kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro tersebut, Gus Saiful Bahri datang dari Madura dengan membawa sejumlah manuskrip tua yang disebut sebagai peninggalan leluhur keluarganya. Sebagian manuskrip kemudian diperlihatkan dan dibahas bersama KH Nur Ihyak Hadinegoro.
Pembahasan tidak hanya menyentuh isi kitab Sullamut Taufiq, tetapi juga kondisi fisik manuskrip, bahan kertas, usia naskah, tradisi pewarisan kitab di lingkungan keluarga, hingga penggunaan kitab pembanding untuk menilai atribusi kepengarangan.
Dalam perbincangan tersebut, KH Nur Ihyak menegaskan bahwa kajian yang dilakukan belum sampai pada kesimpulan mutlak. Ia menyebut posisi sementara yang dipegangnya berada pada angka 70 persen, sementara sekitar 30 persen masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut.
Dengan demikian, pembahasan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari proses kajian dan pencarian data, bukan sebagai keputusan final mengenai siapa sebenarnya penulis Sullamut Taufiq.
Gus Saiful Bahri Membawa Manuskrip Warisan Keluarga
Pada awal perbincangan, KH Nur Ihyak memperkenalkan Gus Saiful Bahri sebagai salah satu anggota keluarga yang menyimpan manuskrip-manuskrip tua di Madura.
Gus Saiful Bahri menjelaskan bahwa kitab-kitab tersebut merupakan peninggalan leluhur keluarganya. Ia menyebut sebagian manuskrip memiliki usia yang diperkirakan hampir 400 tahun dan masih tersimpan di lingkungan keluarga serta keturunannya.
Menurut penjelasan dalam bincang-bincang tersebut, keberadaan manuskrip itu tidak hanya berkaitan dengan satu kitab. Keluarga Gus Saiful Bahri disebut menyimpan sejumlah kitab tua lain yang usianya mencapai ratusan tahun.
Karena manuskrip dianggap sebagai warisan keluarga, sebagian isi dan bentuk naskah tidak diperlihatkan secara keseluruhan dalam siaran. KH Nur Ihyak mengatakan hal tersebut berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan keluarga pemilik manuskrip.
Gus Saiful Bahri juga menjelaskan bahwa terdapat pesan dari leluhur agar kitab-kitab tersebut tetap dijaga dan disimpan. Pesan tersebut menjadi salah satu alasan keluarga tidak menyerahkan manuskrip kepada pihak yang datang untuk membeli atau menukarnya.
Manuskrip Sullamut Taufiq Disebut Menggunakan Kertas Deluang
Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama dalam kajian tersebut adalah kondisi fisik manuskrip.
KH Nur Ihyak menyebut bahan yang digunakan pada sebagian manuskrip sebagai kertas deluang. Dalam perbincangan itu juga disebut bahwa manuskrip-manuskrip yang dibawa dari Madura memiliki usia yang beragam, mulai dari sekitar 190 tahun hingga hampir 400 tahun.
Kondisi tinta juga menjadi bagian dari pengamatan. Dalam tayangan tersebut disebutkan bahwa tulisan lama pada manuskrip masih dapat terbaca, termasuk bagian yang menggunakan tinta berwarna merah dan hitam.
Selain itu, bentuk tulisan atau khat pada manuskrip disebut memperlihatkan perbedaan antara tulisan lama dan tulisan yang lebih baru. Hal tersebut menjadi salah satu unsur yang menurut KH Nur Ihyak perlu diperhatikan ketika menelaah naskah lama.
Dalam kajian manuskrip, kondisi fisik naskah dapat menjadi salah satu bahan penelitian. Namun, dalam bincang-bincang tersebut, KH Nur Ihyak tidak menyampaikan hasil uji laboratorium penanggalan manuskrip. Karena itu, angka usia yang disebut dalam perbincangan merupakan keterangan yang disampaikan berdasarkan penelitian atau pemeriksaan yang mereka lakukan, bukan hasil uji laboratorium yang ditampilkan dalam tayangan.
Manuskrip Tidak Langsung Mengubah Kesimpulan tentang Kepengarangan
Salah satu bagian utama bincang-bincang adalah pertanyaan apakah manuskrip tua yang dibawa dari Madura dapat langsung memastikan bahwa Sullamut Taufiq merupakan karya seorang tokoh tertentu.
KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa setelah melihat, membaca dan meneliti manuskrip tersebut, posisi yang dipegangnya belum berubah menjadi 100 persen.
Ia menyatakan bahwa manuskrip tersebut justru memperkuat keyakinannya pada angka 70 persen mengenai kesimpulan sementara bahwa Sullamut Taufiq kemungkinan besar bukan karya asli Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir Ba’alawi sebagaimana atribusi yang selama ini dibahas dalam kajian mereka.
Namun, KH Nur Ihyak juga menegaskan bahwa keputusan tersebut belum final. Ia menyisakan sekitar 30 persen ruang untuk kemungkinan lain.
Menurutnya, sikap tersebut merupakan bentuk kehati-hatian dalam penelitian. Ia menilai sebuah persoalan sejarah dan kepengarangan tidak seharusnya diputuskan secara tergesa-gesa hanya berdasarkan satu sumber.
Mengapa Angka 70 Persen Belum Menjadi 100 Persen?
Dalam perbincangan, KH Nur Ihyak menjelaskan alasan tidak menetapkan kesimpulan 100 persen.
Menurut dia, kesimpulan 100 persen seharusnya didukung data yang dianggap lengkap dan akurat. Sementara itu, penelitian terhadap manuskrip dan kitab pembanding masih berlangsung.
Karena itu, angka 70 persen digunakan sebagai posisi sementara berdasarkan data yang telah dibaca dan dibandingkan.
Sikap tersebut juga dikaitkan dengan prinsip kehati-hatian dalam penelitian. Menurut KH Nur Ihyak, persoalan kepengarangan kitab Sullamut Taufiq telah menjadi perhatian sejumlah kalangan sehingga diperlukan pembandingan berbagai sumber.
Dengan kata lain, manuskrip tua dari Madura dalam pembahasan tersebut diposisikan sebagai data tambahan, bukan sebagai satu-satunya bukti yang otomatis menyelesaikan persoalan kepengarangan kitab.
Kitab Tazkirun Nas Dijadikan Kitab Pembanding
Selain manuskrip Sullamut Taufiq, KH Nur Ihyak juga menjadikan kitab Tazkirun Nas sebagai salah satu bahan pembanding.
Ia menjelaskan bahwa Tazkirun Nas dianggap penting karena pengarangnya disebut hidup sezaman dengan Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, tokoh yang selama ini dikaitkan sebagai pengarang Sullamut Taufiq.
Menurut KH Nur Ihyak, membaca karya seorang ulama tanpa menghadirkan karya pembanding atau keterangan dari orang-orang yang hidup di sekitar periode yang sama dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sejarah kepengarangan.
Karena itu, Tazkirun Nas digunakan untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh sezaman menggambarkan Abdullah bin Husein bin Thahir.
Salah satu bagian yang dibahas disebut berada pada halaman 214.
Isi Tazkirun Nas Halaman 214 Menjadi Sorotan
Dalam pembahasan halaman 214 Tazkirun Nas, KH Nur Ihyak menguraikan sebuah kisah yang dikaitkan dengan Habib Ahmad bin Hasan al-Attas dan Abdullah bin Husein bin Thahir.
Dalam penjelasan tersebut, disebutkan bahwa Ahmad bin Hasan al-Attas pernah hidup sezaman dengan Abdullah bin Husein bin Thahir. Ketika Abdullah bin Husein bin Thahir wafat, usia Ahmad bin Hasan al-Attas disebut sekitar 15 tahun.
Bagian yang kemudian menjadi perhatian adalah kisah mengenai pengalaman spiritual Abdullah bin Husein bin Thahir.
Menurut uraian yang dibacakan dalam kajian, Abdullah bin Husein bin Thahir diceritakan masuk ke ruang uzlah dan kemudian mengalami pengalaman dialog dengan Allah. Dalam kisah tersebut terdapat permohonan mengenai syafaat bagi keluarga, sahabat, orang-orang yang memiliki hubungan dengannya, hingga kelompok masyarakat yang lebih luas.
Kisah tersebut menjadi salah satu bahan yang dipertanyakan dalam pembahasan karena dikaitkan dengan gaya bahasa dan karakter penulisan Sullamut Taufiq.
KH Nur Ihyak kemudian membandingkan isi kisah tersebut dengan karakter bahasa kitab yang selama ini dikenal sebagai Sullamut Taufiq.
Perbandingan Redaksi Sullamut Taufiq
Dalam bincang-bincang itu disebut bahwa teks Sullamut Taufiq yang terdapat dalam manuskrip memiliki banyak kesamaan dengan redaksi Sullamut Taufiq yang beredar luas.
KH Nur Ihyak menyebut hasil pemeriksaan mereka menunjukkan sekitar 85 persen redaksi identik dengan Sullamut Taufiq yang selama ini dipelajari. Namun, ia juga menyebut terdapat sejumlah perbedaan dalam kalimat dan redaksi.
Temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari pembahasan mengenai kemungkinan adanya perubahan teks dalam perjalanan transmisi manuskrip.
Dalam sejarah teks, perbedaan redaksi antara satu naskah dengan naskah lain dapat menjadi bahan penelitian tersendiri. Karena itu, manuskrip tua tidak hanya dipandang dari usia fisiknya, tetapi juga dari isi, struktur bahasa, tulisan, hubungan dengan naskah lain, serta sejarah transmisinya.
Manuskrip Lama Disebut Tidak Hanya Berisi Sullamut Taufiq
Manuskrip yang diperlihatkan dalam kajian tersebut juga disebut tidak hanya berisi Sullamut Taufiq.
KH Nur Ihyak menyebut terdapat kitab atau teks lain yang berkaitan dengan nahwu, sharaf, tauhid dan fikih. Bahkan, ia menyebut terdapat pula naskah yang dikategorikan sebagai kitab klenik.
Dengan demikian, koleksi keluarga Gus Saiful Bahri dalam perbincangan tersebut dipresentasikan sebagai bagian dari kumpulan manuskrip yang lebih luas.
Pada bagian akhir kajian, KH Nur Ihyak kembali menyebut bahwa manuskrip-manuskrip yang ditampilkan memiliki kertas yang disebut berbahan mulberry dan masih memperlihatkan tinta merah maupun hitam.
Wasiat Leluhur Menjadi Alasan Manuskrip Tetap Disimpan
Gus Saiful Bahri menjelaskan bahwa keberadaan manuskrip tersebut tidak terlepas dari pesan leluhur.
Ia menyampaikan bahwa keluarga mendapat pesan untuk menyimpan kitab dengan baik. Manuskrip tidak dianjurkan untuk dijual atau ditukar karena pada suatu masa kemungkinan akan ada pihak yang membutuhkan naskah tersebut untuk penelitian.
Pesan tersebut kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Dalam perbincangan, Gus Saiful Bahri juga menyampaikan bahwa ada pihak yang datang setelah mengetahui keberadaan kitab-kitab tua tersebut. Namun, keluarga tidak memberikan manuskrip untuk dibawa keluar.
Pewarisan semacam itu menjadi bagian penting dalam keberadaan manuskrip di lingkungan keluarga.
Koleksi Manuskrip Disebut Berusia Ratusan Tahun
Selain Sullamut Taufiq, KH Nur Ihyak menyebut terdapat sejumlah kitab lain yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-17 dan memiliki usia lebih dari 400 tahun pada saat kajian berlangsung pada 2025.
Ia juga menyebut bahwa tinta pada sejumlah manuskrip tersebut masih terlihat.
Keterangan tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa tradisi penyimpanan kitab lama masih berlangsung di sejumlah keluarga di Nusantara.
Dalam pembahasan tersebut, manuskrip tidak hanya dipandang sebagai benda tua, tetapi juga sebagai bagian dari jejak tradisi keilmuan yang diwariskan lintas generasi.
KH Nur Ihyak kemudian mendorong agar keberadaan manuskrip lama di berbagai wilayah Nusantara mendapat perhatian dan diteliti secara lebih serius.
Tradisi Keilmuan Nusantara Disebut Memiliki Jejak Manuskrip
Salah satu pesan utama dalam pembahasan tersebut adalah pentingnya menelusuri sumber-sumber keilmuan lokal.
KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa sejumlah keluarga kiai di Nusantara masih menyimpan kitab kuno yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ia menyebut wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten sebagai beberapa daerah yang kemungkinan masih memiliki koleksi serupa.
Menurut penjelasan tersebut, manuskrip lama dapat menjadi bukti bahwa tradisi belajar dan menulis telah berlangsung di lingkungan ulama Nusantara.
Dalam konteks penelitian sejarah Islam di Indonesia, manuskrip keluarga dapat menjadi sumber yang perlu diteliti, terutama jika terdapat informasi mengenai penulis, penyalin, tempat penulisan, tanggal penyalinan, pemilik naskah, atau catatan lain yang dapat membantu menyusun sejarah transmisi teks.
KH Nur Ihyak Mendorong Sikap Kritis terhadap Sumber
Selain membahas Sullamut Taufiq, KH Nur Ihyak berulang kali menekankan pentingnya sikap kritis terhadap informasi.
Dalam konteks pembahasan manuskrip, sikap tersebut ditunjukkan dengan tidak langsung menetapkan kesimpulan 100 persen.
Ia mengatakan bahwa seseorang perlu melakukan pemeriksaan silang terhadap informasi yang diterima. Dalam perbincangan tersebut, prinsip tersebut juga disampaikan kepada para santri agar tidak mudah menerima sebuah informasi tanpa melakukan pemeriksaan terhadap data.
Pemeriksaan silang menjadi penting karena teks keagamaan dan manuskrip dapat mengalami proses penyalinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam proses tersebut, sebuah teks bisa memiliki variasi redaksi. Karena itu, penelitian terhadap manuskrip tidak cukup hanya dengan membaca satu edisi cetak.
Perbedaan Manuskrip dan Kitab Cetak
Sullamut Taufiq yang dikenal masyarakat saat ini pada umumnya hadir dalam bentuk kitab cetak. Namun, dalam kajian tersebut perhatian diarahkan kepada bentuk manuskrip yang ditulis tangan.
KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa sebelum kitab dicetak dan beredar dalam bentuk modern, proses pembelajaran di lingkungan pesantren berlangsung melalui kegiatan menulis dan menyalin.
Dalam gambaran yang disampaikan, seorang kiai dapat menuliskan materi di papan tulis, kemudian para santri menyalinnya. Catatan tersebut selanjutnya dapat dibukukan dan digunakan dalam pembelajaran.
Karena itu, manuskrip menjadi salah satu jalur untuk menelusuri bagaimana sebuah teks beredar sebelum memasuki masa percetakan.
Sullamut Taufiq dan Persoalan Atribusi Kepengarangan
Dalam kajian tersebut, persoalan utama bukan sekadar apakah teks Sullamut Taufiq sudah dikenal sejak lama, melainkan siapa yang sebenarnya menyusun atau menulis teks tersebut dalam bentuk yang sekarang dikenal.
KH Nur Ihyak menyampaikan pandangan sementara bahwa kitab tersebut kemungkinan besar bukan karya asli Abdullah bin Husein bin Thahir Ba’alawi.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan dengan tokoh dari jalur Al-Hasani Al-Alawi. Posisi tersebut disebut masih berada pada tingkat kesimpulan sementara sebesar 70 persen.
Karena itu, pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam bincang-bincang tersebut, bukan sebagai kesimpulan akademik yang telah memperoleh konsensus.
Sullamut Taufiq Disebut Memiliki Banyak Syarah
Pada bagian akhir kajian, KH Nur Ihyak juga menjelaskan bahwa Sullamut Taufiq telah memiliki banyak kitab syarah atau karya penjelasan.
Ia menyebut adanya berbagai syarah yang membahas Sullamut Taufiq, termasuk karya-karya yang menurutnya berasal dari masa yang berbeda.
Ia juga memperlihatkan bahwa Sullamut Taufiq dapat ditemukan dalam kumpulan kitab atau majmu’ bersama karya-karya lain.
Keberadaan banyak syarah menunjukkan bahwa Sullamut Taufiq telah menjadi bagian dari tradisi pembelajaran keislaman dan digunakan dalam berbagai lingkungan pendidikan.
Namun, banyaknya syarah tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan mengenai siapa penulis teks awal. Persoalan tersebut tetap membutuhkan penelusuran terhadap manuskrip, sejarah teks dan sumber-sumber sezaman.
Isi Manuskrip Tidak Ditampilkan Secara Keseluruhan
Pada akhir tayangan, KH Nur Ihyak menjelaskan alasan mengapa isi manuskrip tidak ditampilkan seluruhnya.
Menurutnya, manuskrip tersebut masih diperlukan sebagai bahan pembanding pada penelitian berikutnya. Karena itu, sebagian naskah sengaja tidak dibuka atau diperlihatkan kepada publik.
Ia menyebut manuskrip tersebut sebagai pegangan atau kunci yang masih perlu disimpan untuk keperluan perbandingan jika dibutuhkan di kemudian hari.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa dalam kajian yang dilakukan, manuskrip diperlakukan sebagai sumber yang perlu dijaga keberadaannya.
Pentingnya Membandingkan Manuskrip dengan Sumber Sezaman
Pembahasan Tazkirun Nas menjadi salah satu bagian yang paling banyak disoroti karena kitab tersebut diposisikan sebagai sumber pembanding.
Menurut KH Nur Ihyak, jika sebuah kitab dikaji hanya melalui teks yang dinisbahkan kepada seorang tokoh, penelitian dapat menjadi kurang lengkap. Karena itu, karya-karya lain dari periode yang sama perlu dihadirkan.
Dalam kasus Sullamut Taufiq, Tazkirun Nas disebut memberikan gambaran mengenai Abdullah bin Husein bin Thahir melalui kesaksian yang dikaitkan dengan tokoh yang hidup pada periode yang sama.
Pendekatan semacam ini dalam perbincangan digunakan untuk mempertanyakan kesesuaian antara karakter tokoh yang disebut sebagai penulis dengan isi atau gaya bahasa karya yang dinisbahkan kepadanya.
Kesimpulan Sementara: Penelitian Belum Final
Pada akhirnya, KH Nur Ihyak menyatakan bahwa kedatangan Gus Saiful Bahri dan manuskrip tua dari Madura semakin memperkuat posisi kajian yang telah dilakukan sebelumnya.
Namun, ia tetap mempertahankan angka 70 persen dan tidak mengubahnya menjadi 100 persen.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa manuskrip yang berusia ratusan tahun tidak otomatis dianggap sebagai jawaban final.
Dalam kajian tersebut, manuskrip diposisikan sebagai salah satu sumber yang harus dibaca bersama sumber lain, termasuk kitab pembanding dan teks sezaman.
Karena itu, asal-usul Sullamut Taufiq dalam bincang-bincang tersebut masih ditempatkan sebagai persoalan yang terbuka untuk penelitian lebih lanjut.
Manuskrip Nusantara Dinilai Perlu Dijaga
Pada penutup kajian, KH Nur Ihyak menyampaikan harapan agar manuskrip-manuskrip tua dari Nusantara lainnya dapat kembali ditemukan dan dipelajari.
Ia menyebut bahwa masih terdapat kemungkinan keluarga-keluarga di berbagai daerah menyimpan kitab tua yang diwariskan secara turun-temurun.
Manuskrip semacam itu, menurut pembahasan tersebut, dapat menjadi sumber penting untuk mengetahui sejarah pendidikan, tradisi keilmuan, dan transmisi teks Islam di Nusantara.
Ia juga menyampaikan bahwa manuskrip yang ditampilkan pada malam tersebut bukan satu-satunya koleksi yang masih ada. Ia berharap pada masa mendatang akan muncul manuskrip tua lain dari berbagai wilayah Nusantara.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kajian Manuskrip Sullamut Taufiq?
Berdasarkan isi bincang-bincang, setidaknya terdapat beberapa aspek yang menjadi fokus kajian terhadap Sullamut Taufiq.
1. Kondisi Fisik Manuskrip
Kondisi kertas, tinta, warna tulisan, dan bentuk khat menjadi bagian dari pengamatan terhadap manuskrip.
2. Usia Naskah
Manuskrip yang dibawa Gus Saiful Bahri disebut memiliki usia ratusan tahun, dengan sebagian diperkirakan mendekati 400 tahun.
3. Perbandingan Redaksi
Teks manuskrip dibandingkan dengan Sullamut Taufiq yang beredar dan disebut memiliki tingkat kesamaan redaksi sekitar 85 persen dalam pemeriksaan yang disampaikan pada kajian tersebut.
4. Sumber Sezaman
Tazkirun Nas digunakan sebagai salah satu sumber pembanding karena disebut memuat keterangan tentang tokoh yang hidup sezaman dengan Abdullah bin Husein bin Thahir.
5. Kesimpulan Sementara
Hasil pembahasan belum dinyatakan final. KH Nur Ihyak menyebut posisi sementara sebesar 70 persen dan masih menyisakan ruang penelitian sebesar 30 persen.
FAQ
Apa itu kitab Sullamut Taufiq?
Sullamut Taufiq ila Mahabbatillahi ‘ala al-Tahqiq merupakan kitab yang dalam bincang-bincang tersebut dibahas dari sisi sejarah teks, manuskrip dan atribusi kepengarangan.
Siapa yang membahas asal-usul Sullamut Taufiq dalam kajian tersebut?
Pembahasan dilakukan oleh KH Nur Ihyak Hadinegoro bersama Gus Saiful Bahri dalam sebuah bincang-bincang di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 9 Mei 2025.
Dari mana manuskrip tua yang dibahas berasal?
Gus Saiful Bahri membawa manuskrip tersebut dari Madura. Ia menjelaskan bahwa kitab-kitab tersebut merupakan peninggalan leluhur yang masih disimpan oleh keluarga.
Berapa usia manuskrip yang dibahas?
Dalam perbincangan disebutkan bahwa sebagian manuskrip berusia hampir 400 tahun. Selain itu, disebut pula ada manuskrip berusia sekitar 300 tahun, 200 tahun, dan yang paling muda sekitar 190 tahun berdasarkan pemeriksaan yang disampaikan dalam kajian.
Apa bahan kertas manuskrip tersebut?
KH Nur Ihyak menyebut manuskrip tersebut menggunakan kertas yang disebut sebagai kertas deluang. Pada bagian lain, manuskrip juga disebut menggunakan bahan yang dikaitkan dengan mulberry.
Apakah manuskrip tersebut langsung membuktikan siapa pengarang Sullamut Taufiq?
Tidak. Dalam bincang-bincang tersebut, KH Nur Ihyak justru menegaskan bahwa kesimpulannya belum mencapai 100 persen. Posisi yang disampaikan adalah sekitar 70 persen dengan 30 persen masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut.
Kitab apa yang digunakan sebagai pembanding?
Salah satu kitab pembanding yang disebut adalah Tazkirun Nas. KH Nur Ihyak menyoroti bagian halaman 214 yang menurut penjelasannya memuat keterangan mengenai Abdullah bin Husein bin Thahir dan tokoh-tokoh yang hidup sezaman dengannya.
Berapa tingkat kesamaan redaksi manuskrip dengan Sullamut Taufiq yang beredar?
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa sekitar 85 persen redaksi yang diperiksa identik dengan Sullamut Taufiq yang selama ini dipelajari, sementara terdapat sejumlah perbedaan pada bagian tertentu.
Mengapa isi manuskrip tidak diperlihatkan seluruhnya?
KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa manuskrip tersebut masih diperlukan sebagai bahan pembanding dan karena itu sebagian isinya tidak ditampilkan kepada publik.
Apa kesimpulan akhir kajian tersebut?
Kesimpulan yang disampaikan dalam bincang-bincang masih bersifat sementara. KH Nur Ihyak mengatakan manuskrip yang dibawa dari Madura memperkuat posisi kajiannya pada angka 70 persen mengenai atribusi Sullamut Taufiq, tetapi belum cukup untuk menyatakan kesimpulan 100 persen.
Penutup
Bincang-bincang KH Nur Ihyak Hadinegoro bersama Gus Saiful Bahri pada 9 Mei 2025 memperlihatkan bagaimana sebuah manuskrip tua digunakan sebagai bahan dalam pembahasan mengenai sejarah kitab Sullamut Taufiq.
Gus Saiful Bahri membawa manuskrip yang disebut sebagai peninggalan leluhur keluarga di Madura. Sebagian naskah disebut berusia ratusan tahun dan masih tersimpan hingga sekarang. Kondisi kertas, tinta, khat, serta perbedaan redaksi menjadi bagian dari perhatian dalam kajian tersebut.
Pembahasan kemudian diperluas dengan menggunakan Tazkirun Nas sebagai salah satu kitab pembanding. Halaman 214 kitab tersebut menjadi perhatian karena memuat keterangan yang dalam perbincangan dikaitkan dengan Abdullah bin Husein bin Thahir dan tokoh-tokoh yang hidup sezaman dengannya.
Dari seluruh pembahasan itu, KH Nur Ihyak tidak menyatakan kesimpulan final. Ia tetap menggunakan angka 70 persen dan menyisakan 30 persen ruang untuk penelitian lanjutan.
Pada bagian akhir, manuskrip tersebut juga disebut sengaja tidak ditampilkan secara keseluruhan karena masih diperlukan sebagai bahan pembanding. KH Nur Ihyak berharap keberadaan manuskrip-manuskrip tua lainnya di Nusantara dapat terus ditemukan dan dikaji.
Dengan demikian, berdasarkan isi bincang-bincang tersebut, persoalan asal-usul dan kepengarangan kitab Sullamut Taufiq masih ditempatkan sebagai bagian dari proses penelitian yang membutuhkan perbandingan sumber, penelusuran manuskrip, dan pengujian data lebih lanjut. Kajian yang ditampilkan pada 9 Mei 2025 belum dimaksudkan sebagai keputusan akhir mengenai sejarah kepengarangan kitab tersebut.
Sumber berita:









