Kiai Abdul Ghalib: PWI LS Harus Jaga Akidah, Sejarah Wali Songo, dan NKRI

Kiai Abdul Ghalib Syakhuri Ajak Pengurus PWI LS Sampang Jaga Akidah, Sejarah Wali Songo, dan Semangat Kebangsaan
Warta Batavia – SAMPANG – Pelantikan pengurus PWI LS Kabupaten Sampang, Madura, berlangsung dengan rangkaian pembacaan ikrar organisasi yang dilanjutkan sambutan dari Kiai Abdul Ghalib Syakhuri selaku perwakilan tuan rumah. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh pengurus untuk memperkuat komitmen organisasi dalam menjaga akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, melestarikan sejarah Wali Songo, serta menumbuhkan semangat cinta tanah air.
Acara tersebut diawali dengan doa bersama, pembacaan ikrar pengurus, kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang menekankan pentingnya tanggung jawab organisasi dalam menjalankan visi yang telah disepakati. Selain dihadiri para pengurus PWI LS, kegiatan itu juga diikuti para ulama, kiai, masyaikh, gus, lora, asatidz, serta tamu undangan dari berbagai wilayah Kabupaten Sampang.
Pengurus PWI LS Membacakan Ikrar Organisasi
Sebelum sambutan dimulai, seluruh pengurus PWI LS Kabupaten Sampang terlebih dahulu membacakan ikrar sebagai bentuk komitmen terhadap organisasi.
Dalam ikrar tersebut, para pengurus menyatakan kesediaannya untuk mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.
Selain itu, mereka juga berkomitmen menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.
Ikrar tersebut juga memuat komitmen untuk menjalankan tugas sebagai pengurus dengan sebaik-baiknya demi kepentingan organisasi, umat Islam, dan masyarakat Indonesia.
Poin berikutnya menegaskan kesiapan seluruh pengurus menyumbangkan tenaga, pikiran, maupun harta dalam upaya menjaga sejarah serta warisan Wali Songo, termasuk keturunan Wali Songo dan para ulama Indonesia.
Pembacaan ikrar ditutup dengan tekad membangun manusia Indonesia yang bermartabat sebagai bagian dari tujuan organisasi.
Sambutan Diawali Ucapan Syukur dan Doa
Memasuki sesi sambutan, Kiai Abdul Ghalib Syakhuri terlebih dahulu mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya acara pelantikan.
Ia menyampaikan harapan agar seluruh peserta yang hadir memperoleh keberkahan serta ridha Allah SWT.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh hadirin memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat, sembari berharap seluruh peserta mendapatkan syafaat beliau di akhirat kelak.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Abdul Ghalib juga mewakili keluarga besar tuan rumah, yaitu KH Thaifur, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah meluangkan waktu menghadiri acara pelantikan.
Menurutnya, kehadiran para ulama, kiai, tokoh masyarakat, serta peserta dari berbagai daerah merupakan bentuk dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan organisasi.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para kiai, saudara-saudara yang hadir pada kesempatan hari ini. Semoga dengan hadirnya Anda semua mendapat balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan terdapat pelayanan yang kurang berkenan bagi para tamu.
Menurutnya, sebagai tuan rumah, pihak penyelenggara menyadari bahwa masih mungkin terdapat kekurangan dalam penyambutan maupun pelaksanaan acara.
Mengajak Seluruh Pengurus Berjuang Melalui Organisasi
Dalam bagian utama sambutannya, Kiai Abdul Ghalib mengajak seluruh pengurus PWI LS untuk memiliki tekad yang kuat dalam menjalankan organisasi.
Ia menyebut perjuangan melalui organisasi kemasyarakatan menjadi salah satu bentuk pengabdian dalam membela agama, bangsa, dan negara.
Menurutnya, organisasi dibentuk sebagai wadah untuk menjalankan cita-cita yang dianggap penting oleh para anggotanya.
Ia kemudian mengajak seluruh peserta menyatakan kesiapan berjuang bersama melalui organisasi tersebut.
“Marilah kita tekadkan bulat dengan niat yang kuat untuk berjuang di dalam organisasi kemasyarakatan PWI LS ini demi membela agama, nusa, dan bangsa,” katanya di hadapan peserta pelantikan.
Menyampaikan Pandangan tentang Tantangan Ideologi
Dalam sambutannya, Kiai Abdul Ghalib juga menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang menurutnya dihadapi masyarakat saat ini.
Ia mengatakan terdapat berbagai bentuk pengaruh ideologi yang dinilai dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa maupun warisan para ulama.
Menurutnya, perjuangan organisasi diarahkan untuk mempertahankan nilai-nilai yang dianggap telah diwariskan oleh para pendahulu, termasuk Wali Songo dan para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Ia menyebut para pendiri bangsa dan tokoh penyebar Islam di Nusantara telah memberikan pengorbanan besar bagi masyarakat Indonesia sehingga sejarah mereka perlu dijaga.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan pandangan bahwa PWI LS hadir sebagai organisasi yang menurutnya memiliki komitmen untuk menyuarakan persoalan tersebut.
“Tidak ada suatu organisasi kemasyarakatan yang berdiri di depan untuk membela hal ini kecuali PWI LS,” ujarnya.
Penekanan pada Akidah Ahlussunnah wal Jamaah
Bagian berikutnya dari sambutan banyak membahas mengenai pentingnya menjaga akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Kiai Abdul Ghalib mengaitkan hal tersebut dengan konsep maqashid syariah, yang menurutnya mencakup kewajiban menjaga agama agar tetap sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Ia menyampaikan pandangan bahwa berbagai cerita maupun ajaran yang dinilainya bertentangan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah perlu diluruskan.
Dalam pidatonya, ia memberikan sejumlah contoh yang menurutnya berasal dari literatur tertentu dan dianggap tidak sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana dipahaminya.
Ia kemudian menyatakan bahwa organisasi PWI LS dibentuk untuk menjaga akidah masyarakat dari berbagai pengaruh yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Penjelasan Mengenai Maqashid Syariah dalam Sambutan
Melanjutkan sambutannya, Kiai Abdul Ghalib Syakhuri menjelaskan bahwa perjuangan organisasi PWI LS, menurut pandangannya, didasarkan pada nilai-nilai yang ia kaitkan dengan konsep maqashid syariah.
Ia menyebut terdapat dua aspek utama yang menjadi perhatian organisasi, yakni menjaga agama serta menjaga kehormatan umat dan bangsa.
Menurutnya, menjaga agama berarti mempertahankan ajaran Islam sebagaimana yang dipahami dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia mengatakan bahwa berbagai ajaran maupun cerita yang dinilainya tidak memiliki dasar yang kuat perlu dikaji dan diluruskan agar tidak memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam.
“Yang pertama adalah kita harus menjaga agama kita agar agama ini tetap murni dari Baginda Nabi Muhammad SAW mengikuti Ahlussunnah wal Jamaah dan tidak tercampur oleh khurafat-khurafat yang menyesatkan,” ujarnya.
Menyampaikan Contoh yang Dinilai Bertentangan dengan Akidah
Dalam pidatonya, Kiai Abdul Ghalib kemudian memberikan sejumlah contoh yang menurutnya menunjukkan adanya narasi atau cerita yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
Ia mengutip beberapa kisah yang menurutnya berasal dari literatur tertentu dan menilai isi kisah tersebut tidak sejalan dengan prinsip tauhid.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah kisah mengenai tokoh yang disebut memiliki kedudukan setara dengan Allah dalam urusan kerajaan atau kekuasaan.
Menurutnya, narasi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam mengenai keesaan Allah SWT.
Selain itu, ia juga menyinggung sejumlah cerita lain yang menurutnya menggambarkan keistimewaan tokoh tertentu melebihi mukjizat Nabi Muhammad SAW.
Dalam pandangannya, cerita-cerita semacam itu perlu dikritisi agar tidak menjadi bagian dari keyakinan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan alasan mengapa organisasi yang dipimpinnya menaruh perhatian pada persoalan akidah.
Menurutnya, PWI LS dibentuk sebagai wadah untuk menjaga pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah dari pengaruh berbagai narasi yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Menjelaskan Pentingnya Menjaga Kehormatan Bangsa
Selain membahas aspek menjaga agama, Kiai Abdul Ghalib juga menguraikan aspek kedua yang ia kaitkan dengan maqashid syariah, yakni menjaga kehormatan.
Menurutnya, menjaga kehormatan juga berkaitan dengan menjaga identitas bangsa dan mempertahankan kecintaan terhadap tanah air.
Ia menghubungkan pandangan tersebut dengan ungkapan yang populer di kalangan ulama, yaitu hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air merupakan bagian dari iman.
Dalam penjelasannya, ia mengaitkan ungkapan tersebut dengan kisah Nabi Muhammad SAW ketika meninggalkan Kota Makkah menuju Madinah.
Menurutnya, kecintaan Rasulullah terhadap Makkah menunjukkan bahwa rasa cinta kepada tanah kelahiran merupakan sesuatu yang bernilai.
Ia kemudian menjelaskan bahwa setelah berada di Madinah, Nabi Muhammad SAW juga mendoakan kota tersebut agar menjadi tempat yang dicintai.
Melalui kisah tersebut, Kiai Abdul Ghalib menyampaikan pandangannya bahwa semangat mencintai tanah air merupakan bagian dari nilai-nilai yang perlu dijaga oleh umat Islam.
Menilai Nasionalisme Selaras dengan Nilai Keagamaan
Dalam kesempatan itu, Kiai Abdul Ghalib menyampaikan bahwa menurut pandangannya, nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Ia menilai kecintaan terhadap Indonesia dapat berjalan berdampingan dengan komitmen menjalankan ajaran Islam.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta pelantikan untuk tetap menjaga semangat kebangsaan sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman yang diyakini organisasi.
Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang yang dibangun melalui perjuangan para ulama, tokoh agama, dan para pahlawan nasional.
Oleh sebab itu, sejarah tersebut dinilai perlu dijaga dan dihormati oleh generasi penerus.
Menyinggung Pandangan tentang Sejarah Islam di Indonesia
Dalam bagian selanjutnya, Kiai Abdul Ghalib menyampaikan pandangannya mengenai sejarah perkembangan Islam di Indonesia.
Ia menyebut terdapat pihak-pihak yang menurutnya berupaya mengubah narasi sejarah, termasuk mengenai tokoh-tokoh yang berperan dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Ia juga menyinggung sejumlah istilah serta tokoh sejarah yang menurutnya perlu dikaji kembali.
Selain itu, ia menyampaikan pendapat mengenai beberapa situs sejarah dan makam yang menurutnya mengalami perubahan narasi.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangannya mengenai pentingnya menjaga sejarah para ulama dan tokoh penyebar Islam di Indonesia.
Ia mengatakan bahwa organisasi PWI LS memandang pelestarian sejarah sebagai salah satu bagian dari perjuangan organisasi.
Menutup Sambutan dengan Ajakan Berjuang
Menjelang akhir pidatonya, Kiai Abdul Ghalib kembali mengajak seluruh pengurus PWI LS Kabupaten Sampang untuk menjaga semangat organisasi.
Ia meminta seluruh anggota tetap berkomitmen menjalankan tujuan organisasi sebagaimana yang telah diikrarkan dalam pelantikan.
Sambutannya kemudian ditutup dengan seruan kepada seluruh peserta untuk terus berjuang demi organisasi, agama, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para peserta yang hadir merespons ajakan tersebut dengan menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan perjuangan organisasi sesuai dengan tujuan yang disampaikan dalam pelantikan.
Penutup Sambutan: Ajakan Memperkuat Komitmen Organisasi
Menjelang berakhirnya sambutan, Kiai Abdul Ghalib Syakhuri kembali mengajak seluruh pengurus PWI LS Kabupaten Sampang untuk mempertahankan semangat perjuangan yang telah diikrarkan pada saat pelantikan.
Ia menegaskan bahwa organisasi, menurut pandangannya, dibentuk sebagai wadah untuk menjalankan tujuan yang telah disepakati bersama, baik dalam bidang keagamaan maupun kebangsaan.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh peserta agar terus menjaga kekompakan organisasi serta berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari program PWI LS.
Seruan tersebut disampaikan di hadapan para pengurus, ulama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan yang memenuhi lokasi pelantikan.
“Kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi?” ujar Kiai Abdul Ghalib dalam bagian akhir sambutannya.
Pernyataan tersebut kemudian disambut antusias oleh para peserta yang hadir.
Peserta Menyatakan Kesiapan Berjuang
Usai menyampaikan pokok-pokok sambutannya, Kiai Abdul Ghalib mengajak seluruh peserta menyatakan kesiapan untuk menjalankan amanah organisasi.
Ia mengajukan sejumlah pertanyaan kepada hadirin mengenai kesiapan mereka memperjuangkan organisasi, agama, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Para peserta secara serempak memberikan jawaban sebagai bentuk dukungan terhadap ajakan tersebut.
Suasana pelantikan pun berlangsung dengan penuh semangat hingga akhir acara.
Sambutan kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir serta doa agar seluruh rangkaian kegiatan memperoleh keberkahan.
Pelantikan Menegaskan Komitmen Organisasi
Secara keseluruhan, rangkaian pelantikan PWI LS Kabupaten Sampang diawali dengan pembacaan doa, dilanjutkan pembacaan ikrar pengurus, kemudian sambutan dari perwakilan tuan rumah yang memuat sejumlah pesan mengenai arah perjuangan organisasi.
Dalam ikrar yang dibacakan sebelumnya, pengurus menyatakan komitmen untuk mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, menjalankan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi, serta mengabdikan tenaga dan pikiran bagi kepentingan organisasi, umat Islam, dan masyarakat Indonesia.
Ikrar tersebut juga memuat komitmen menjaga sejarah dan warisan Wali Songo, keturunan Wali Songo, serta para ulama Indonesia sebagai bagian dari tujuan organisasi.
Sementara itu, dalam sambutannya, Kiai Abdul Ghalib menekankan pentingnya menjaga akidah menurut pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah, mempertahankan nilai-nilai kebangsaan, serta menjaga sejarah Islam di Indonesia berdasarkan pandangan yang disampaikannya.
Hadiri Berbagai Kalangan
Pelantikan PWI LS Kabupaten Sampang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat.
Dalam sambutannya, Kiai Abdul Ghalib menyampaikan penghormatan kepada para alim ulama, masyaikh, kiai, gus, lora, asatidz, serta para tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar tuan rumah, Pondok Pesantren Siratul Islam beserta KH Thaifur dan keluarga yang menjadi penyelenggara kegiatan.
Selain mengucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta, ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan acara terdapat kekurangan dalam pelayanan maupun penyambutan.
Fokus Organisasi pada Nilai Keagamaan dan Kebangsaan
Berdasarkan isi sambutan yang disampaikan, terdapat beberapa poin utama yang menjadi penekanan dalam pelantikan tersebut.
Pertama, organisasi menegaskan komitmen terhadap pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Kedua, organisasi menyatakan komitmen menjaga akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana tercantum dalam ikrar maupun penjelasan yang disampaikan dalam sambutan.
Ketiga, organisasi menempatkan pelestarian sejarah Wali Songo, para ulama Indonesia, serta nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari program perjuangan yang diusung.
Selain itu, sambutan juga memuat pandangan Kiai Abdul Ghalib mengenai sejumlah persoalan akidah dan sejarah Islam di Indonesia yang menurutnya perlu mendapat perhatian. Pernyataan-pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangan narasumber dalam forum pelantikan.
Rangkaian Pelantikan Berlangsung Hingga Penutupan
Dengan berakhirnya sambutan Kiai Abdul Ghalib Syakhuri, rangkaian pelantikan pengurus PWI LS Kabupaten Sampang memasuki agenda berikutnya sesuai susunan acara yang telah disiapkan panitia.
Pelantikan tersebut menjadi momentum bagi pengurus yang baru dilantik untuk menegaskan komitmen menjalankan amanah organisasi sebagaimana tertuang dalam ikrar dan disampaikan kembali melalui sambutan pada acara tersebut.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di hadapan para pengurus, tokoh agama, serta tamu undangan yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Sampang.






