Rhoma Irama Ceritakan Pengalaman di Hong Kong, Soroti Tuduhan PKI hingga Polemik Nasab Ba’Alawi

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama mengungkap sejumlah pengalaman pribadi dan pandangannya mengenai berbagai persoalan sosial-keagamaan dalam penjelasannya yang disampaikan melalui kanal YouTube Rhoma Irama Official pada 29 Agustus 2025.
Dalam penjelasan tersebut, Rhoma Irama tidak hanya menceritakan pengalaman ketika berada di Hong Kong dan mengalami gangguan kesehatan di tengah badai taifun. Ia juga membahas tuduhan terhadap dirinya dan sejumlah ulama yang disebut dikaitkan dengan istilah “PKI gaya baru” serta “Dajjal”.
Selain itu, Rhoma menyinggung polemik mengenai nasab Ba’Alawi, makna Ahlul Bait, keturunan atau zuriah, serta penggunaan sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis dalam perdebatan mengenai persoalan tersebut.
Rhoma menyampaikan bahwa cerita yang ia paparkan merupakan pengalaman yang menurutnya perlu disampaikan kepada publik. Ia juga menekankan pentingnya memeriksa kebenaran sebelum memberikan label atau tuduhan kepada seseorang.
Rhoma Irama Ungkap Pengalaman Menegangkan Saat di Hong Kong
Pada bagian awal penjelasannya, Rhoma Irama menceritakan pengalaman ketika berada di Hong Kong. Ia mengatakan telah berulang kali pergi ke wilayah tersebut karena proses pengerjaan filmnya banyak dilakukan di sejumlah negara, termasuk Hong Kong, Jepang, Australia, dan Bangkok.
Menurut Rhoma, Hong Kong menjadi salah satu tempat yang cukup sering ia datangi. Ia menyebut telah sekitar 20 kali berada di Hong Kong.
Rhoma kemudian menceritakan sebuah pengalaman ketika badai taifun melanda wilayah tersebut. Ia menggambarkan kondisi ketika badai datang sebagai situasi yang berbahaya karena dapat menyebabkan berbagai benda berterbangan dan perahu di laut terdorong hingga ke daratan.
Dalam kondisi tersebut, Rhoma mengaku sedang dalam perjalanan kembali ke hotel setelah bekerja. Ketika berada di luar hotel, kondisi kesehatannya disebut tiba-tiba menurun.
Sesampainya di hotel, kondisi Rhoma menurut penuturannya semakin buruk. Ia mengalami sesak napas pada malam hari dan merasa berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Karena itu, Rhoma kemudian menghubungi bagian resepsionis hotel untuk meminta bantuan dokter.
Ia mengaku saat itu mengatakan kepada petugas hotel bahwa dirinya membutuhkan dokter sesegera mungkin karena mengalami kesulitan bernapas. Namun, menurut cerita Rhoma, pihak hotel menyampaikan bahwa tidak ada dokter yang tersedia pada malam tersebut.
Rhoma Mendapat Bantuan dari Seorang Perempuan
Dalam situasi tersebut, Rhoma mengatakan pihak hotel kemudian menawarkan bantuan lain. Dalam keterangannya, Rhoma menyebut perempuan tersebut sebagai seorang pekerja seks.
Rhoma mengisahkan bahwa perempuan itu kemudian datang ke kamarnya dan memberikan pijatan menggunakan minyak hangat. Menurut penuturannya, tindakan tersebut membuat pernapasannya berangsur lebih baik.
Dalam cerita itu, Rhoma juga mengatakan bahwa perempuan tersebut merupakan warga Singapura keturunan Tionghoa dan dapat berbahasa Melayu.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pengantar bagi Rhoma untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya mengambil kebenaran atau pelajaran dari ucapan seseorang tanpa semata-mata melihat latar belakang orang yang menyampaikannya.
Rhoma mengutip ungkapan yang ia atribusikan kepada Sayidina Ali, yakni prinsip untuk melihat apa yang diucapkan, bukan hanya siapa yang mengucapkannya. Ia kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan gagasan bahwa seseorang yang memiliki latar belakang tertentu tetap dapat menyampaikan sebuah perkataan yang benar.
Menurut Rhoma, kebenaran dapat datang dari siapa saja apabila apa yang disampaikan memiliki dasar yang baik.
Rhoma Irama Bahas Tuduhan “PKI Gaya Baru”
Setelah menceritakan pengalaman di Hong Kong, Rhoma beralih membahas tuduhan yang menurutnya ditujukan kepada sejumlah orang yang terlibat dalam polemik mengenai nasab Ba’Alawi.
Ia menyebut adanya tuduhan bahwa perjuangan kelompok tersebut merupakan “perjuangan walang sangit”, “laskar setan”, hingga tuduhan bahwa orang-orang yang terlibat disebut sebagai “PKI gaya baru”.
Rhoma mengatakan tuduhan tersebut perlu disikapi karena masyarakat awam dapat menganggap tuduhan itu sebagai fakta apabila terus disampaikan tanpa pemeriksaan.
Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut beberapa nama yang menurutnya terlibat dalam pembahasan mengenai nasab Ba’Alawi, antara lain KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, KH Alawi Al-Bantani, KH Nur Ihya Hadinegoro, dan KH Marzuki Mustamar.
Rhoma juga mengatakan bahwa dirinya turut disebut dalam tuduhan tersebut.
Menurut Rhoma, tuduhan seperti itu tidak seharusnya diberikan tanpa mengetahui terlebih dahulu ciri-ciri atau dasar dari label yang digunakan. Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sebuah hadis yang ia sebut diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengenai seseorang yang menuduh saudaranya sesama Muslim sebagai kafir.
Inti pesan yang disampaikan Rhoma adalah perlunya kehati-hatian sebelum memberikan tuduhan kepada orang lain.
Rhoma Ceritakan Pengalamannya Saat Menjadi Anggota KAPI
Untuk menjelaskan posisinya terhadap tuduhan PKI, Rhoma kemudian menceritakan pengalaman masa mudanya.
Ia mengatakan bahwa pada 1965 dirinya masih berstatus sebagai pelajar sekolah menengah atas. Pada masa tersebut, ia mengaku bergabung dengan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI).
Rhoma mengatakan bahwa dirinya bersama teman-temannya di kawasan Tebet Jakarta Selatan pernah melakukan kegiatan yang ia sebut sebagai “swiping” terhadap orang-orang yang diduga terkait PKI.
Menurut cerita Rhoma, kegiatan tersebut dilakukan untuk mencari berkas, senjata, dan barang lainnya. Barang-barang yang ditemukan kemudian disebut diserahkan kepada Koramil.
Rhoma juga menceritakan kondisi keluarganya pada masa itu. Ia menyebut ayah sambungnya, almarhum Raden Somawijaya, merupakan seorang tentara. Ayah kandungnya juga disebut pernah menjadi tentara dan pernah bertugas sebagai komandan di Tasikmalaya.
Ia kemudian mengaitkan latar belakang tersebut dengan pandangannya bahwa dirinya tidak masuk akal apabila disebut sebagai anggota PKI.
Rhoma mengatakan bahwa pengalaman masa mudanya tersebut ia sampaikan karena merasa perlu memberikan penjelasan setelah dirinya disebut dengan label “PKI gaya baru”.
Rhoma Irama Singgung Tuduhan “Dajjal”
Selain tuduhan PKI, Rhoma juga membahas tuduhan lain yang menurutnya diarahkan kepada dirinya dan sejumlah tokoh yang terlibat dalam persoalan nasab Ba’alawi.
Ia menyebut adanya pihak yang melabeli KH Imaduddin dan sejumlah tokoh lainnya, termasuk dirinya, dengan istilah “Dajjal”.
Rhoma kemudian menjelaskan pemahamannya mengenai istilah tersebut berdasarkan penjelasan agama yang ia sampaikan dalam video.
Ia mengatakan bahwa Dajjal berkaitan dengan makna menutupi kebenaran atau pemalsuan. Rhoma juga menyebut sejumlah ciri Dajjal yang menurutnya terdapat dalam hadis, termasuk karakter sebagai pendusta dan pembuat fitnah.
Dari penjelasan tersebut, Rhoma menarik kesimpulan bahwa sebelum seseorang disebut dengan label tertentu, karakter atau kriteria yang menjadi dasar tuduhan perlu diperiksa terlebih dahulu.
Ia kemudian mempertanyakan apakah tokoh-tokoh yang disebut dalam polemik tersebut benar-benar memenuhi kriteria yang ia jelaskan sebagai ciri Dajjal.
Menurut Rhoma, pemeriksaan terhadap fakta harus dilakukan sebelum memberikan tuduhan. Ia menegaskan bahwa apabila tuduhan diberikan tanpa dasar yang benar, konsekuensi dari tuduhan tersebut dapat kembali kepada orang yang mengucapkannya.
Rhoma Bahas Klaim tentang Nasab Ba’Alawi
Bagian lain dari penjelasan Rhoma Irama membahas polemik mengenai nasab Ba’Alawi.
Rhoma menyebut adanya tesis dan kajian yang menurutnya mempertanyakan sejarah nasab kelompok tersebut. Ia menyatakan bahwa menurut pihak yang melakukan kajian, pembahasan tersebut bukan merupakan fitnah, melainkan didasarkan pada data, sejarah, dan kajian ilmiah.
Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut beberapa nama ulama dan akademisi yang menurutnya terlibat dalam pembahasan tersebut. Ia juga menyebut adanya klaim mengenai asal-usul kelompok Ba’alawi yang menurutnya perlu dilihat berdasarkan data sejarah.
Rhoma menyampaikan pandangannya bahwa apabila suatu klaim mengenai sejarah nasab didukung oleh data dan penelitian, maka klaim tersebut menurutnya perlu dibedakan dari fitnah.
Ia juga membahas perbedaan antara kelompok yang disebutnya sebagai orang Yaman asli dan kelompok yang menurut penuturannya merupakan pendatang atau imigran ke wilayah Yaman.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari argumentasi Rhoma dalam penjelasannya lebih lanjut
Rhoma Minta Tuduhan Diperiksa Sebelum Disampaikan
Rhoma berulang kali kembali pada pesan yang sama, yakni perlunya memeriksa tuduhan sebelum menyampaikannya kepada publik.
Dalam konteks istilah “Dajjal”, ia mengatakan seseorang harus terlebih dahulu melihat apakah orang yang dituduh benar-benar memiliki karakter sebagaimana definisi yang digunakan.
Hal serupa ia terapkan terhadap tuduhan fitnah. Rhoma menjelaskan bahwa fitnah, dalam pengertian yang ia sampaikan, adalah memberikan tuduhan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Ia kemudian menyebut tesis dan penelitian mengenai nasab sebagai contoh persoalan yang menurutnya perlu dinilai berdasarkan data.
Menurut Rhoma, perbedaan pendapat mengenai sejarah dan nasab seharusnya dibahas dengan melihat data dan dasar argumentasinya, bukan semata-mata dengan memberikan label kepada pihak yang berbeda pandangan.
Rhoma Irama Bahas Isu “Penjajahan” dan Ekonomi
Rhoma kemudian menyinggung pernyataan seorang tokoh yang, menurutnya, mengatakan bahwa penjajahan di Indonesia bukan dilakukan oleh kelompok Ba’alawi, melainkan oleh orang Tionghoa.
Dalam cerita Rhoma, argumen tersebut dikaitkan dengan kepemilikan atau penguasaan terhadap sejumlah sektor ekonomi, termasuk emas, sawit, nikel, serta isu pagar laut.
Rhoma kemudian membedakan bentuk penjajahan menjadi beberapa bentuk. Ia menyebut penjajahan militer sebagai salah satunya, yakni penguasaan suatu wilayah menggunakan kekuatan bersenjata.
Selain itu, Rhoma juga menyebut adanya penjajahan dalam bentuk ekonomi.
Menurut definisi yang ia sampaikan, penjajahan merupakan upaya suatu kelompok untuk menguasai negara atau wilayah yang bukan miliknya.
Rhoma kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat pernyataan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Ia selanjutnya menyampaikan kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai indikasi penjajahan secara sistemik, sistematis, terstruktur, dan masif oleh kelompok yang menjadi objek polemiknya.
Rhoma menyebut sejumlah contoh yang menurutnya berkaitan dengan kuburan, sejarah Wali Songo, sejarah bangsa, serta penggambaran sejumlah pahlawan nasional.
Ia juga menyinggung sebuah ungkapan mengenai Indonesia yang disebut dalam istilah Indonesia milik Aulia (para Wali) Tarim, yang mana Indonesiadi klaim berkaitan dengan para Wali Tarim.
Rhoma Tekankan Penjajahan dan Perbudakan
Dalam penjelasannya, Rhoma menghubungkan konsep penjajahan dengan perbudakan.
Ia mengatakan bahwa salah satu misi Rasulullah SAW, menurut pemahamannya, adalah menghapuskan perbudakan. Rhoma kemudian mengambil contoh mengenai kafarat dalam kasus tertentu yang dalam penjelasannya mencantumkan pembebasan budak sebagai salah satu bentuk kafarat.
Ia juga menggunakan kisah Bilal bin Rabah sebagai contoh untuk menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang dalam Islam tidak ditentukan oleh latar belakang ras maupun status sosial.
Menurut Rhoma, ukuran yang penting adalah ketakwaan.
Ia mengutip prinsip Al-Qur’an mengenai kemuliaan manusia yang dikaitkan dengan ketakwaan. Dari situ, Rhoma menyampaikan bahwa seseorang tidak semestinya menganggap dirinya lebih tinggi (lebih mulia) hanya karena keturunan atau latar belakang tertentu.
Pembahasan tersebut kemudian ia hubungkan dengan polemik mengenai nasab Ba’alawi dan gelar habib yang berkembang di tengah masyarakat.
Rhoma juga mengatakan bahwa dirinya tetap mengakui adanya orang-orang dari kelompok yang menjadi objek kritiknya yang ia anggap baik.
Ia secara khusus menyebut Muhammad Rizieq Shihab dan Ustaz (habib) Ali Kwitang dalam konteks tersebut.
Rhoma Irama Mendoakan Pihak yang Berbeda Pandangan
Di tengah kritik yang ia sampaikan, Rhoma mengatakan bahwa dirinya tidak ingin membalas doa buruk dengan doa buruk.
Ia mengatakan bahwa apabila ada pihak yang mendoakan dirinya agar mendapatkan suul khatimah, ia justru mendoakan pihak tersebut agar mendapatkan husnul khatimah.
Rhoma juga menyampaikan bahwa manusia tidak dapat mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang sebelum orang tersebut meninggal dunia.
Karena itu, menurutnya, doa yang disampaikan kepada sesama Muslim seharusnya merupakan doa yang baik.
Dalam konteks polemik DNA dan nasab, Rhoma menyebut kembali nama Muhammad Rizieq Shihab. Ia mengatakan dirinya mendoakan agar Rizieq melakukan tes DNA sebagaimana yang menurut Rhoma pernah disampaikan sebelumnya.
Rhoma bahkan menggambarkan dua kemungkinan hasil tes tersebut. Apabila hasilnya menunjukkan hubungan yang sesuai dengan klaim keturunan Rasulullah, ia berharap orang yang bersangkutan memiliki akhlak sebagaimana akhlak Rasulullah. Sementara apabila hasilnya berbeda, ia juga menyampaikan harapan agar pihak tersebut dapat menerima hasil itu dengan lapang dada dan mengajak pihak lainnya melakukan pertobatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma dalam konteks ajakan untuk menyelesaikan perbedaan dengan cara yang menurutnya lebih damai.
Rhoma Irama Kembali Mengingatkan tentang Persaudaraan
Rhoma kemudian mengutip konsep persaudaraan sesama orang beriman.
Ia menyampaikan bahwa orang-orang beriman merupakan saudara dan karena itu apabila terjadi perselisihan, upaya mendamaikan kedua pihak perlu dilakukan.
Ia juga kembali mengutip Surah Al-Asr yang berisi pesan tentang keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Menurut Rhoma, ayat tersebut sudah dikenal luas dan banyak dihafalkan umat Islam. Namun, ia kemudian mengajukan pertanyaan mengenai sejauh mana ayat tersebut telah diamalkan.
Bagian ini menjadi salah satu pesan penutup dalam penjelasannya mengenai konflik, tuduhan, dan perbedaan pandangan yang ia bahas sepanjang video.
Rhoma Soroti Perbedaan antara Membaca Al-Qur’an dan Mengamalkannya
Dalam bagian berikutnya, Rhoma membahas sebuah ayat yang menurut penjelasannya membagi orang-orang yang menerima atau mewarisi kitab menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama disebut sebagai orang yang menzalimi dirinya sendiri.
Rhoma memberikan contoh seseorang yang mengetahui Al-Qur’an, bahkan menghafalkannya dan menyampaikan dakwah berdasarkan Al-Qur’an, tetapi tidak menjalankan apa yang disampaikannya.
Ia kemudian mengutip ayat yang berisi teguran kepada orang-orang beriman karena mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan.
Menurut Rhoma, terdapat persoalan apabila seseorang hanya menyampaikan ajaran agama tanpa menjalankannya dalam kehidupan.
Ia juga mengkritik tindakan menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan kepentingan pribadi atau kelompok.
Dalam konteks tersebut, Rhoma mengaitkan pembahasannya dengan Surah Al-Ahzab, khususnya bagian ayat yang membahas Ahlul Bait.
Rhoma Jelaskan Pandangannya tentang Ahlul Bait
Salah satu bagian panjang dalam penjelasan Rhoma adalah mengenai pengertian Ahlul Bait.
Rhoma merujuk pada ayat dalam Surah Al-Ahzab yang menurut penjelasannya berbicara mengenai istri-istri Nabi Muhammad SAW.
Ia menyebut bagian ayat yang memerintahkan istri-istri Nabi untuk tinggal di rumah, tidak menampilkan diri seperti masa jahiliah, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.
Menurut penafsiran yang ia sampaikan, bagian tersebut menjadi salah satu dasar pembahasannya mengenai Ahlul Bait.
Rhoma kemudian menyebut hadis mengenai Ahlul Kisa. Dalam kisah yang ia sampaikan, Nabi Muhammad SAW memeluk Fatimah, Hasan, dan Husain, sementara Ali bin Abi Thalib berada di belakangnya.
Dari pembahasan tersebut, Rhoma menyampaikan bahwa Ahlul Bait dalam konteks yang ia jelaskan mencakup Nabi Muhammad SAW, istri-istri beliau, Fatimah, Hasan, Husain, dan Ali bin Abi Thalib.
Ia kemudian menjelaskan istilah Ahlul Bait secara harfiah sebagai orang-orang yang berada dalam satu rumah atau keluarga rumah tangga.
Ahlul Bait dan Zuriah Menurut Penjelasan Rhoma
Rhoma selanjutnya membedakan istilah Ahlul Bait dengan zuriah atau keturunan.
Ia menggunakan contoh Nabi Ibrahim AS.
Menurut penjelasan Rhoma, keluarga yang berada dalam rumah Nabi Ibrahim merupakan Ahlul Bait, sedangkan keturunan generasi berikutnya merupakan zuriah Nabi Ibrahim.
Ia menyebut Nabi Yaqub dan anak-anaknya sebagai keturunan Nabi Ibrahim, tetapi bukan Ahlul Bait Nabi Ibrahim dalam pengertian orang-orang yang berada dalam satu rumah.
Dari sana, Rhoma menyimpulkan bahwa istilah Ahlul Bait dan zuriah memiliki pengertian berbeda.
Ia mengatakan bahwa zuriah merupakan keturunan yang memiliki hubungan nasab.
Rhoma kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan DNA sebagai salah satu cara yang menurutnya dapat digunakan untuk melihat hubungan biologis.
Rhoma Bahas Surah Asy-Syura Ayat 23
Rhoma juga membahas Surah Asy-Syura ayat 23 yang memuat frasa mengenai kasih sayang dalam al-qurba atau kekerabatan.
Ia menjelaskan beberapa istilah dalam bahasa Arab yang menurutnya berkaitan dengan keluarga dan kerabat, antara lain usrah, ailah, dan aqarib.
Menurut Rhoma, usrah berkaitan dengan keluarga inti, sedangkan aqarib memiliki cakupan kekerabatan yang lebih luas.
Ia kemudian menyampaikan pandangannya mengenai asbabun nuzul Surah Asy-Syura ayat 23.
Dalam cerita yang ia sampaikan, ayat tersebut berkaitan dengan masyarakat Madinah, khususnya Bani Aus dan Bani Khazraj, yang sebelumnya mengalami permusuhan kemudian menjadi Muslim dan bersaudara setelah menerima dakwah Rasulullah.
Rhoma menjelaskan bahwa setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, kedua kelompok tersebut berusaha memberikan harta dan berbagai bantuan kepada Nabi sebagai bentuk balas budi.
Menurut penjelasan Rhoma, ayat tersebut kemudian turun untuk mengarahkan agar kasih sayang dan hubungan kekerabatan dijalin dalam pengertian yang lebih luas.
Ia menolak pemaknaan bahwa ayat tersebut semata-mata merupakan permintaan untuk mencintai keluarga Nabi dalam konteks yang ia persoalkan.
Rhoma juga menghubungkan penjelasan tersebut dengan bagian khutbah Jumat yang berisi perintah untuk berlaku adil, berbuat baik, dan menjaga hubungan dengan kerabat.
Rhoma Ingatkan agar Al-Qur’an Tidak Ditafsirkan untuk Kepentingan Kelompok
Dalam bagian akhir, Rhoma kembali mengingatkan mengenai bahaya menggunakan penafsiran agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Ia mengulang pembahasan mengenai tiga kelompok orang yang menerima warisan kitab, dengan salah satunya disebut sebagai kelompok yang menzalimi dirinya sendiri.
Menurut Rhoma, salah satu bentuknya adalah memahami Al-Qur’an tetapi kemudian memutarbalikkan tafsir untuk kepentingan tertentu.
Ia juga mengutip sebuah hadis yang dalam transkrip ia sampaikan sebagai peringatan terhadap orang yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan kepentingannya sendiri.
Dari sini, Rhoma mengajak pendengar untuk saling mengingatkan tentang kebenaran, tetapi tidak dengan kebencian.
Ia menegaskan bahwa penyampaian kebenaran seharusnya tidak berubah menjadi kebencian kepada orang lain.
Rhoma kemudian mengutip prinsip yang ia sampaikan sebagai “katakan yang benar walaupun pahit”, termasuk ketika kebenaran tersebut berpotensi berhadapan dengan kepentingan diri sendiri.
Pesan Penutup Rhoma Irama
Menjelang akhir penjelasannya, Rhoma kembali kepada tema keagamaan mengenai tujuan kehidupan manusia.
Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Setelah menyampaikan sejumlah pengalaman pribadi, tanggapan terhadap tuduhan, serta pandangannya mengenai nasab dan Ahlul Bait, Rhoma menutup penjelasannya dengan doa.
Ia menyerahkan hasil dan petunjuk kepada Allah SWT serta mengakhiri video dengan ucapan salam.
Pokok-Pokok Pernyataan Rhoma Irama
Jika dirangkum berdasarkan isi penjelasannya, terdapat sejumlah pokok yang menjadi perhatian Rhoma Irama dalam video tersebut.
1. Pengalaman pribadi di Hong Kong
Rhoma menceritakan pengalamannya ketika mengalami sesak napas di sebuah hotel di Hong Kong saat terjadi badai taifun. Ia mengatakan mendapat bantuan dari seorang perempuan yang memijatnya menggunakan minyak hangat hingga kondisi pernapasannya membaik.
2. Pentingnya melihat isi perkataan
Dari pengalaman tersebut, Rhoma menyampaikan pesan agar seseorang tidak hanya menilai perkataan berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Menurutnya, perkataan yang benar tetap dapat berasal dari orang dengan latar belakang apa pun.
3. Penolakan terhadap label “PKI gaya baru”
Rhoma membahas tuduhan yang menurutnya diarahkan kepada dirinya dan sejumlah ulama. Ia kemudian menceritakan pengalaman ketika menjadi anggota KAPI pada masa 1965.
4. Kritik terhadap penggunaan label “Dajjal”
Rhoma mengatakan seseorang harus diperiksa berdasarkan kriteria tertentu sebelum diberikan label Dajjal. Ia mengaitkan hal tersebut dengan peringatan agar masyarakat tidak sembarangan memberikan tuduhan.
5. Perdebatan mengenai nasab Ba’Alawi
Rhoma membahas penelitian dan tesis mengenai nasab Ba’Alawi serta menyatakan bahwa menurut pandangannya, klaim sejarah perlu diuji berdasarkan data.
6. Penjajahan dan perbudakan
Rhoma mengembangkan pembahasan mengenai penjajahan, termasuk penjajahan militer dan ekonomi, kemudian menghubungkannya dengan konsep perbudakan.
7. Persaudaraan sesama Muslim
Meskipun menyampaikan kritik keras terhadap sejumlah pandangan, Rhoma juga mengatakan bahwa dirinya mendoakan pihak yang berbeda pandangan agar memperoleh husnul khatimah.
8. Ahlul Bait dan zuriah
Rhoma membedakan Ahlul Bait dengan zuriah. Dalam penjelasannya, Ahlul Bait dikaitkan dengan keluarga rumah tangga, sementara zuriah dipahami sebagai keturunan.
9. Larangan menyalahgunakan tafsir
Pada bagian akhir, Rhoma mengingatkan agar Al-Qur’an tidak ditafsirkan semata-mata untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ia juga mengajak umat untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.
FAQ
Apa yang disampaikan Rhoma Irama pada 29 Agustus 2025?
Rhoma Irama dalam kanal Rhoma Irama Official pada 29 Agustus 2025 menyampaikan sejumlah pengalaman dan pandangan, mulai dari pengalaman mengalami gangguan kesehatan ketika berada di Hong Kong, tuduhan yang dikaitkan dengan PKI dan Dajjal, polemik nasab Alawi, konsep penjajahan, hingga pembahasan Ahlul Bait dan zuriah.
Apa pengalaman Rhoma Irama di Hong Kong?
Rhoma menceritakan bahwa ia mengalami sesak napas ketika berada di sebuah hotel di Hong Kong pada malam hari saat badai taifun. Ia mengaku meminta bantuan hotel dan kemudian mendapat bantuan dari seorang perempuan yang memijatnya dengan minyak hangat. Menurut ceritanya, setelah dipijat, pernapasannya berangsur membaik.
Mengapa Rhoma Irama membahas tuduhan PKI?
Rhoma membahas tuduhan tersebut karena menurut penjelasannya terdapat pihak yang menyebut dirinya dan sejumlah ulama sebagai “PKI gaya baru”. Untuk menjelaskan sikapnya, Rhoma menceritakan bahwa dirinya pernah bergabung dengan KAPI ketika masih menjadi pelajar pada 1965 dan ikut dalam kegiatan yang ia sebut sebagai upaya mencari anggota PKI serta menyerahkan barang yang ditemukan kepada Koramil.
Apa yang dimaksud Rhoma dengan tuduhan “Dajjal”?
Dalam video tersebut, Rhoma membahas istilah Dajjal berdasarkan pemahamannya terhadap hadis. Ia menyebut Dajjal sebagai sosok yang berkaitan dengan kebohongan, fitnah, dan penyesatan. Karena itu, ia meminta agar seseorang tidak sembarangan diberi label tersebut tanpa memeriksa apakah kriteria yang digunakan benar-benar terpenuhi.
Apa yang dibahas Rhoma tentang nasab Alawi?
Rhoma membahas tesis dan penelitian yang mempertanyakan sejarah nasab Alawi. Ia menyatakan bahwa menurut pihak yang melakukan kajian, pembahasan tersebut didasarkan pada data sejarah dan kajian ilmiah. Klaim mengenai asal-usul dan sejarah nasab yang disampaikan Rhoma dalam video tersebut tidak diverifikasi secara independen dalam transkrip sumber.
Apa perbedaan Ahlul Bait dan zuriah menurut Rhoma?
Dalam penjelasannya, Rhoma membedakan Ahlul Bait dengan zuriah. Ia menjelaskan Ahlul Bait sebagai keluarga atau orang-orang yang berada dalam satu rumah, sementara zuriah dipahami sebagai keturunan. Ia menggunakan contoh keluarga Nabi Ibrahim untuk menjelaskan perbedaan tersebut.
Apa pesan Rhoma mengenai perbedaan pendapat?
Rhoma menekankan pentingnya memeriksa kebenaran sebelum menuduh seseorang. Ia juga mengajak sesama Muslim untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran serta tidak membangun hubungan berdasarkan kebencian.
Penutup
Penjelasan Rhoma Irama di kanal Rhoma Irama Official pada 29 Agustus 2025 memuat sejumlah tema yang saling berkaitan, mulai dari pengalaman pribadi hingga persoalan sosial dan keagamaan.
Cerita mengenai pengalaman di Hong Kong menjadi pembuka bagi Rhoma untuk menyampaikan gagasan bahwa sebuah kebenaran perlu dilihat dari isi perkataannya, bukan semata-mata dari identitas orang yang mengucapkannya.
Setelah itu, Rhoma membahas tuduhan “PKI gaya baru” dan “Dajjal” yang menurutnya diarahkan kepada dirinya serta sejumlah tokoh. Ia kemudian menjelaskan pengalaman masa mudanya sebagai anggota KAPI pada 1965 untuk menjawab tuduhan yang ia anggap tidak sesuai dengan latar belakangnya.
Pembahasan berlanjut pada polemik nasab Alawi, klaim mengenai sejarah, pengertian Ahlul Bait dan zuriah, serta penggunaan ayat dan hadis dalam perdebatan keagamaan.
Di tengah pembahasan tersebut, Rhoma berulang kali menekankan perlunya memeriksa informasi sebelum memberikan label atau tuduhan. Ia juga menyampaikan bahwa perbedaan pandangan seharusnya tidak menghilangkan persaudaraan dan mendorong umat untuk saling mengingatkan dalam kebenaran serta kesabaran.
Sumber berita:








