Guru Gembul Soroti Mitos, Makam, dan Industri Kebodohan

Guru Gembul Soroti Mitos, Makam, dan Industri Kebodohan: Pentingnya Pendekatan Rasional dalam Memahami Misteri
WARTA BATAVIA – JAKARTA — Guru Gembul dalam video yang diunggah melalui kanal YouTube Guru Gembul pada 26 Agustus 2026 membahas fenomena mitos, mistisisme, makam yang dianggap keramat, hingga cara masyarakat memahami berbagai peristiwa yang dinilai misterius.
Dalam penjelasannya, Guru Gembul mengawali pembahasan dengan menyoroti kerusuhan terkait penataan kawasan Pelabuhan Koja, Jakarta, yang menurutnya berkaitan dengan keberadaan makam yang dianggap sakral oleh sebagian masyarakat.
Ia kemudian membandingkan fenomena tersebut dengan kisah makam keluarga Thomas Chase di Barbados yang dikenal karena cerita mengenai peti mati yang berpindah atau berubah posisi. Menurut Guru Gembul, perbedaan utama dari kedua cerita tersebut terletak pada cara masyarakat memperlakukan informasi dan melakukan penyelidikan terhadap fenomena yang dianggap misterius.
Guru Gembul menekankan pentingnya penelitian, pengujian, verifikasi, serta penggunaan penjelasan yang realistis sebelum suatu peristiwa disebut sebagai misteri.
Guru Gembul Membahas Kerusuhan Terkait Penataan Pelabuhan Koja
Dalam video tersebut, Guru Gembul mengangkat kembali peristiwa pada awal 2010 ketika pemerintah dan PT Pelindo melakukan penataan kawasan Pelabuhan Koja, Jakarta.
Menurut penjelasan yang disampaikannya, penataan dilakukan dengan sejumlah tujuan, antara lain meningkatkan aktivitas ekonomi, memperlancar distribusi barang, memperbaiki transportasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, proses penataan tersebut berhadapan dengan keberadaan sebuah makam yang oleh sebagian masyarakat dianggap sakral.
Guru Gembul menyebut makam tersebut sebagai makam Mbah Priok. Ia menjelaskan bahwa keberadaan makam tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang memicu penolakan terhadap rencana penataan kawasan.
“Masyarakat tidak mau harus ada penataan yang nyenggol makam itu.”
Menurut dia, penolakan tersebut berkembang menjadi demonstrasi dan mobilisasi massa oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan.
Ketegangan kemudian berkembang menjadi bentrokan antara massa dan aparat. Guru Gembul menyebut peristiwa tersebut mengakibatkan korban jiwa, ratusan orang terluka, serta kerugian ekonomi yang besar.
Ia menyebut tiga anggota Satpol PP meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Selain itu, sekitar 200 hingga 300 orang disebut mengalami luka-luka.
Guru Gembul juga menyampaikan perkiraan kerugian negara sekitar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar akibat terganggunya aktivitas bongkar muat serta lalu lintas perdagangan dan industri.
Makam Disebut Telah Dipindahkan
Salah satu bagian utama penjelasan Guru Gembul adalah klaim mengenai kondisi makam yang menjadi pusat persoalan tersebut.
Ia menyampaikan bahwa makam Mbah Priok telah dipindahkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1927 ke TPU Semper.
Dengan demikian, menurut narasi yang disampaikan Guru Gembul, lokasi makam yang berada di kawasan penataan tersebut tidak lagi berisi jenazah.
Ia kemudian mempertanyakan keberadaan makam yang tetap dipandang sakral meskipun, menurut penjelasan yang ia sampaikan, jenazah telah dipindahkan.
Guru Gembul mengatakan bahwa persoalan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah informasi yang dipercaya masyarakat dapat berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi yang besar.
Guru Gembul Singgung Hasil Penyelidikan MUI
Dalam videonya, Guru Gembul juga menyebut bahwa Majelis Ulama Indonesia atau MUI melakukan penyelidikan terkait makam tersebut.
Menurut Guru Gembul, hasil penyelidikan yang ia rujuk menyatakan bahwa lokasi tersebut bukan makam keramat karena tidak terdapat jenazah di dalamnya.
Ia kemudian menyoroti fakta bahwa proyek penataan kawasan tetap dibatalkan meskipun menurut narasinya terdapat hasil penyelidikan yang menyatakan tidak ada jenazah di lokasi tersebut.
Guru Gembul juga menyebut bahwa makam tersebut hingga kini masih berdiri dan bahkan dijadikan sebagai cagar budaya.
Ia mengatakan bahwa keberadaan lokasi tersebut tetap menarik masyarakat untuk berziarah.
Guru Gembul Soroti Ekonomi di Balik Aktivitas Ziarah
Setelah membahas kasus makam Mbah Priok, Guru Gembul mengaitkannya dengan aktivitas ziarah makam di Indonesia.
Ia menyebut bahwa industri ziarah makam di Indonesia menurut penjelasan yang pernah ia sampaikan sebelumnya mencapai sekitar Rp15 triliun per tahun.
Menurut Guru Gembul, aktivitas ziarah dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan perjalanan ke berbagai makam yang dianggap memiliki nilai sejarah atau keagamaan.
Ia mencontohkan kegiatan pengajian atau rombongan masyarakat yang melakukan perjalanan dengan mengunjungi sejumlah makam.
Selain aktivitas ziarah, Guru Gembul juga menyinggung tradisi haul yang menurutnya dapat menghimpun banyak orang di sekitar makam tokoh tertentu.
Menurutnya, aktivitas tersebut membentuk sebuah kegiatan ekonomi yang besar.
Namun, dalam video tersebut, Guru Gembul menyampaikan hal tersebut sebagai salah satu kemungkinan yang perlu dilihat ketika membahas mengapa sebuah lokasi makam tetap dipertahankan.
Ia menghubungkan aktivitas ekonomi tersebut dengan pertanyaan mengenai kepentingan yang mungkin berada di balik pemeliharaan suatu lokasi yang dianggap keramat.
Kisah Makam Thomas Chase di Barbados
Guru Gembul kemudian beralih kepada kisah lain, yakni makam keluarga Thomas Chase di Barbados.
Ia menceritakan Thomas Chase sebagai seorang pengusaha gula kaya dari Barbados yang membeli kompleks pemakaman bawah tanah untuk dirinya dan keluarganya.
Menurut cerita yang disampaikan, putri Thomas Chase yang berusia sekitar dua tahun meninggal dunia beberapa bulan setelah kompleks pemakaman tersebut dibeli.
Jenazah anak tersebut kemudian ditempatkan di dalam peti mati dan dimasukkan ke kompleks pemakaman.
Sekitar empat tahun kemudian, anak Thomas Chase lainnya meninggal dan juga dimakamkan di tempat yang sama.
Tidak lama kemudian, pada 9 Agustus 1812, Thomas Chase meninggal dunia dan jenazahnya dimasukkan ke dalam kompleks pemakaman tersebut.
Menurut cerita yang dipaparkan Guru Gembul, pada saat itulah kondisi makam mulai menimbulkan pertanyaan.
Peti Mati Ditemukan Berubah Posisi
Guru Gembul menyampaikan bahwa ketika Thomas Chase dimakamkan, peti mati dua anaknya yang telah lebih dahulu berada di dalam kompleks tersebut ditemukan telah bergeser.
Peti-peti tersebut disebut berada dalam posisi yang tidak beraturan.
Hal tersebut menjadi pertanyaan karena kompleks pemakaman berada di bawah tanah dan hanya memiliki satu akses berupa pintu yang digembok serta disegel.
Menurut cerita yang disampaikan, kondisi pintu tersebut tetap utuh.
Setelah peti-peti tersebut dikembalikan ke posisi semula, kejadian serupa kembali terjadi beberapa tahun kemudian ketika anggota keluarga lainnya meninggal dan dimasukkan ke kompleks makam.
Guru Gembul menyebut peti mati ditemukan berserakan. Bahkan, terdapat peti mati yang terbuka dan ada pula yang berada dalam posisi berdiri.
Berbagai Dugaan Muncul
Menurut Guru Gembul, kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai dugaan.
Sejumlah pihak menduga pergeseran peti mati dapat disebabkan oleh faktor alam seperti banjir atau gempa bumi.
Namun, cerita mengenai makam tersebut tetap berkembang sebagai sebuah misteri karena belum ditemukan penjelasan yang dianggap mampu menjelaskan seluruh kondisi yang dilaporkan.
Untuk mencari petunjuk, menurut cerita Guru Gembul, lantai kompleks makam kemudian ditaburi pasir.
Tujuannya untuk mengetahui apakah terdapat jejak apabila ada manusia, hewan, atau makhluk lain yang masuk ke dalam kompleks makam.
Setelah kompleks tersebut kembali ditutup, kejadian serupa disebut kembali terjadi.
Guru Gembul mengatakan bahwa pasir yang telah ditaburkan tidak menunjukkan jejak yang dapat menjelaskan perubahan posisi peti mati.
Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu contoh yang digunakan Guru Gembul untuk membandingkan cara masyarakat memahami fenomena misterius.
Perbedaan Cara Memahami Misteri
Menurut Guru Gembul, perbedaan penting antara cerita makam di Indonesia dan kisah Thomas Chase adalah proses penelitian terhadap fenomena yang terjadi.
Ia berpendapat bahwa fenomena yang dianggap misterius semestinya terlebih dahulu diperiksa dan diuji.
Dalam kasus Barbados yang ia ceritakan, Guru Gembul menyebut terdapat pernyataan dari ahli serta tokoh yang memiliki otoritas di wilayah tersebut.
Ia juga mengatakan bahwa kejadian tersebut tetap belum memiliki penjelasan yang sepenuhnya memadai dalam cerita yang dibahasnya.
Karena itu, menurut Guru Gembul, sebuah fenomena dapat disebut misteri setelah berbagai upaya untuk menjelaskannya dilakukan.
Ia menekankan pentingnya membedakan antara sesuatu yang belum dijelaskan dengan sesuatu yang sejak awal tidak pernah diteliti.
Guru Gembul Kritik Fenomena “Konon Katanya”
Salah satu istilah yang berulang kali digunakan Guru Gembul dalam video tersebut adalah “konon katanya”.
Menurut dia, banyak cerita mistik di Indonesia berkembang dari informasi yang tidak melalui proses verifikasi.
Cerita dari mulut ke mulut kemudian dapat berkembang menjadi kepercayaan masyarakat.
Guru Gembul menilai bahwa suatu cerita semestinya diperiksa terlebih dahulu sebelum diterima sebagai fakta.
Ia mencontohkan cerita rumah yang disebut sebagai Rumah Kentang.
Menurut penjelasan Guru Gembul, cerita tersebut berkembang dari kabar mengenai bau kentang yang disebut dapat tercium pada waktu tertentu.
Cerita tersebut kemudian dikaitkan dengan kisah seorang anak yang disebut meninggal karena masuk ke dalam kuali berisi minyak panas.
Namun, Guru Gembul mempertanyakan penelitian yang menjadi dasar cerita tersebut.
Ia menyebut bahwa cerita tersebut kemudian dapat berkembang menjadi film dan bahkan menjadi bagian dari aktivitas komersial.
Makam di Tengah Jalan Solo
Contoh lain yang dibahas adalah keberadaan sejumlah makam di lokasi yang dianggap tidak lazim di Solo.
Guru Gembul menyebut adanya makam di trotoar, pertigaan, bundaran, hingga lokasi yang berada di tengah jalan.
Menurut penjelasannya, terdapat pula makam yang berada di pinggir jalan dan tetap didatangi peziarah.
Identitas makam tersebut, menurut Guru Gembul, tidak selalu diketahui secara jelas.
Ia kemudian menyebut adanya cerita bahwa makam tertentu tidak boleh dipindahkan karena akan mendatangkan kutukan.
Cerita tersebut, menurutnya, berkembang berdasarkan kabar yang tidak disertai penelitian.
Ia mempertanyakan apakah pernah dilakukan penyelidikan untuk memastikan kebenaran cerita tersebut.
Candi Bojong Menje dan Cerita Mistis
Guru Gembul juga menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi Candi Bojong Menje.
Menurut penjelasannya, ketika menemukan lokasi tersebut, ia melihat warga lokal membagikan atau menjual kertas yang berisi kesaksian mengenai berbagai kejadian mistik.
Cerita tersebut antara lain berkaitan dengan kereta kuda dan fenomena lain yang dianggap misterius.
Guru Gembul kemudian mempertanyakan apakah kesaksian tersebut pernah diverifikasi.
Ia mencontohkan perlunya pemeriksaan terhadap sumber cerita, konfirmasi terhadap saksi, serta pemeriksaan untuk mengetahui apakah suatu kesaksian benar-benar akurat.
Menurutnya, tanpa proses tersebut, cerita akan tetap berada pada tingkat kesaksian yang belum terverifikasi.
Kisah Bus yang Disebut Mengalami Teleportasi
Dalam video tersebut, Guru Gembul juga mengangkat cerita mengenai sebuah bus yang tersesat.
Menurut penjelasan yang disampaikannya, bus tersebut awalnya mencoba memotong jalur kemudian masuk ke jalan yang lebih kecil.
Bus akhirnya memasuki kawasan hutan.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi cerita bahwa bus mengalami teleportasi dari jalan tol ke kawasan hutan.
Guru Gembul mengatakan bahwa polisi kemudian memberikan penjelasan berbeda.
Menurut penjelasan yang ia sampaikan, pengemudi sebenarnya tersesat dan memasuki jalan sempit di kawasan permukiman.
Karena takut mendapatkan kemarahan massa, pengemudi disebut membuat cerita bahwa bus tersebut dipindahkan.
Guru Gembul menyatakan bahwa penjelasan polisi tersebut tetap tidak serta-merta menghilangkan mitos mengenai bus yang disebut melakukan teleportasi.
Guru Gembul Bahas Peran Nalar dalam Memahami Misteri
Dalam bagian berikutnya, Guru Gembul menyatakan bahwa kecenderungan mempercayai cerita mistik bukan hanya terjadi di Indonesia.
Menurutnya, fenomena tersebut juga ditemukan di berbagai negara.
Ia menggunakan istilah masyarakat yang “gagal nalar” untuk menjelaskan kecenderungan menerima penjelasan yang tidak rasional tanpa pemeriksaan yang memadai.
Guru Gembul kemudian menyoroti bagaimana masyarakat dapat memilih penjelasan mistis ketika menghadapi persoalan yang sebenarnya memiliki kemungkinan penjelasan rasional.
Ia memberikan contoh orang yang mengalami tekanan dan kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan hal gaib.
Menurutnya, dalam kondisi tertentu masyarakat dapat lebih memilih mendatangi dukun atau melakukan ritual daripada mencari bantuan dari pihak yang memiliki kompetensi sesuai dengan persoalan.
Fenomena Mistis dan Pilihan Penyelesaian Masalah
Guru Gembul juga menggunakan contoh seseorang yang ingin memiliki kemampuan kebal terhadap senjata api.
Menurutnya, orang tersebut lebih mungkin mencari ritual tertentu daripada menggunakan solusi yang berkaitan dengan perlindungan fisik seperti rompi antipeluru.
Contoh tersebut digunakan untuk menjelaskan perbedaan antara pendekatan berbasis keyakinan mistis dan pendekatan berbasis solusi teknis.
Dalam video tersebut, Guru Gembul menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi.
Ia menyebut sejumlah bidang seperti mobil listrik, mobil hidrogen, pembangkit listrik, komputer kuantum, hingga rekayasa genetika.
Menurut Guru Gembul, kemampuan tersebut seharusnya dapat dikembangkan melalui pendekatan ilmiah dan rasional.
“Industri Kebodohan” yang Disoroti Guru Gembul
Guru Gembul kemudian menggunakan istilah “industri kebodohan” untuk menggambarkan kondisi ketika kepercayaan masyarakat terhadap mistisisme dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi.
Ia memberikan contoh industri film horor.
Menurutnya, cerita horor dapat menjadi materi film yang menarik perhatian masyarakat tanpa memerlukan biaya produksi sebesar sejumlah genre lainnya.
Selain film, Guru Gembul juga menyinggung aktivitas ekonomi di sekitar makam dan lokasi yang dianggap memiliki kekuatan mistis.
Ia menyebut Gunung Kawi dan Gunung Kemukus sebagai contoh lokasi yang pernah dibahas dalam konteks tersebut.
Klaim Kesaktian dan Simbol Keagamaan
Dalam penjelasannya, Guru Gembul juga menyebut fenomena orang yang mengklaim sebagai wali.
Ia menggambarkan bagaimana simbol tertentu seperti sorban, tasbih, tongkat, dan gamis dapat memberikan kesan tertentu di tengah masyarakat.
Menurut Guru Gembul, kondisi tersebut dapat membuat seseorang mendapatkan sedekah atau dukungan masyarakat meskipun kompetensi yang dimilikinya belum tentu sesuai dengan klaim tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Guru Gembul sebagai bagian dari kritiknya terhadap kecenderungan masyarakat memberikan kepercayaan berdasarkan simbol dan label mistisisme.
Guru Gembul Singgung Politik dan Simbol Mistisisme
Dalam video yang sama, Guru Gembul juga memberikan contoh penggunaan figur atau kelompok yang diasosiasikan dengan mistisisme dalam konteks politik.
Ia menyebut bahwa dalam situasi tertentu, kandidat politik dapat mencari dukungan dari kelompok yang mempunyai pengaruh sosial.
Contoh tersebut digunakan untuk memperkuat argumennya bahwa label dan kepercayaan masyarakat dapat mempunyai nilai politik dan ekonomi.
Guru Gembul tidak hanya membahas makam dan cerita horor, tetapi menghubungkan fenomena tersebut dengan cara masyarakat mengambil keputusan.
Pentingnya Pendekatan Pisau Ockham
Pada bagian akhir video, Guru Gembul mengajak penonton menggunakan pendekatan yang ia sebut sebagai “pisau Ockam”.
Dalam konteks penjelasan tersebut, ia mendorong masyarakat mencari penjelasan yang realistis dan masuk akal ketika menghadapi suatu persoalan.
Menurutnya, ketika seseorang tidak memahami suatu peristiwa, langkah yang dapat dilakukan adalah mencari jawaban yang paling realistis terlebih dahulu.
Pendekatan tersebut digunakan Guru Gembul untuk mengajak masyarakat tidak langsung mengubah sebuah kejadian yang belum dipahami menjadi cerita misteri.
Misteri Tidak Sama dengan Cerita yang Belum Diteliti
Guru Gembul membedakan antara fenomena yang memang belum dapat dijelaskan setelah melalui penelitian dengan cerita yang tidak pernah melalui proses penelitian.
Dalam pandangannya, sebuah fenomena menjadi lebih layak disebut misteri apabila telah dilakukan berbagai upaya untuk menguji dan menjelaskannya.
Sebaliknya, cerita yang hanya didasarkan pada desas-desus dan “konon katanya” masih membutuhkan verifikasi.
Ia kemudian mengajak masyarakat untuk membiasakan diri menggunakan pendekatan realistis ketika menghadapi informasi yang membingungkan.
Pesan Guru Gembul tentang Rasionalitas
Dalam penutup videonya, Guru Gembul kembali menekankan pentingnya berpikir realistis dan rasional.
Ia mengatakan bahwa masyarakat tidak selalu mencari jalan termudah untuk memahami persoalan.
Menurutnya, terdapat kecenderungan untuk menjadikan sesuatu yang sebenarnya mungkin memiliki penjelasan masuk akal sebagai sebuah misteri.
Guru Gembul kemudian mengajak penonton untuk membiasakan diri mencari penjelasan yang paling realistis dan masuk akal.
Ia menyampaikan bahwa tujuan pembahasan tersebut bukan semata-mata membahas makam, cerita horor, atau fenomena mistik, melainkan mengajak penonton melihat bagaimana cara manusia memahami dunia.
FAQ
Apa yang dibahas Guru Gembul dalam video 26 Agustus 2026?
Guru Gembul membahas mitos, mistisisme, makam yang dianggap keramat, cerita misteri, serta pentingnya penelitian dan pendekatan rasional dalam memahami suatu fenomena.
Mengapa Guru Gembul membahas makam Mbah Priok?
Makam Mbah Priok digunakan sebagai salah satu contoh untuk membahas bagaimana kepercayaan terhadap suatu makam dapat berhubungan dengan konflik sosial dan penataan kawasan.
Apa yang dikatakan Guru Gembul mengenai pemindahan makam?
Dalam video tersebut, Guru Gembul menyampaikan bahwa makam yang menjadi pusat pembahasan telah dipindahkan ke TPU Semper oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1927. Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi yang disampaikan dalam video.
Apa kisah Thomas Chase yang dibahas Guru Gembul?
Thomas Chase diceritakan sebagai pengusaha gula di Barbados yang memiliki kompleks pemakaman keluarga. Setelah sejumlah anggota keluarganya dimakamkan, peti mati di dalam kompleks tersebut dilaporkan mengalami perubahan posisi yang kemudian berkembang menjadi sebuah misteri.
Mengapa Guru Gembul membandingkan dua kisah makam?
Perbandingan tersebut digunakan untuk membahas perbedaan cara masyarakat menghadapi fenomena misterius, terutama mengenai penelitian, penyelidikan, pengujian, dan verifikasi.
Apa yang dimaksud Guru Gembul dengan “konon katanya”?
Istilah tersebut digunakan Guru Gembul untuk menggambarkan cerita yang beredar dari masyarakat tanpa disertai proses verifikasi atau penelitian yang memadai.
Apa contoh cerita mistis lain yang dibahas?
Guru Gembul membahas cerita Rumah Kentang, sejumlah makam di lokasi jalan di Solo, kisah mistis di sekitar Candi Bojong Menje, serta cerita bus yang disebut mengalami teleportasi.
Apa yang dimaksud dengan “industri kebodohan” dalam video?
Istilah tersebut digunakan Guru Gembul untuk menggambarkan kondisi ketika kepercayaan terhadap mistisisme atau informasi yang tidak terverifikasi dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan ekonomi.
Apa pendekatan yang disarankan Guru Gembul?
Guru Gembul mengajak masyarakat mencari penjelasan yang realistis dan masuk akal serta tidak terburu-buru menerima sebuah cerita sebagai fakta sebelum dilakukan pemeriksaan.
Penutup
Pembahasan Guru Gembul dalam video yang diunggah pada 26 Agustus 2026 mencakup sejumlah contoh mengenai makam, cerita mistis, fenomena horor, serta kepercayaan masyarakat terhadap sesuatu yang dianggap misterius.
Ia menggunakan kisah makam Mbah Priok dan cerita kompleks makam Thomas Chase di Barbados sebagai dua contoh pembuka. Selanjutnya, pembahasan berkembang ke cerita Rumah Kentang, makam di sejumlah lokasi di Solo, Candi Bojong Menje, hingga kisah bus yang disebut mengalami teleportasi.
Benang merah penjelasan Guru Gembul adalah pentingnya membedakan antara cerita yang belum diverifikasi dengan fenomena yang telah diteliti tetapi belum mendapatkan penjelasan.
Ia juga mengajak masyarakat menggunakan pendekatan rasional dan realistis ketika menghadapi informasi yang belum jelas.
Menurut Guru Gembul, pertanyaan mengenai misteri pada akhirnya bukan hanya menyangkut apakah suatu cerita benar atau tidak, tetapi juga bagaimana masyarakat memproses informasi, memeriksa sumber, melakukan verifikasi, serta menentukan dasar kepercayaan terhadap suatu klaim.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan penjelasan Guru Gembul dalam video pada 26 Agustus 2026.





