Ustaz Suparman Abdul Karim Sebut Polemik Nasab Ba’alwi Membawa Dampak pada Kajian Sejarah, Politik, dan Pendidikan

WARTA BATAVIA – LAMPUNG – Ustaz Suparman Abdul Karim, seorang warga Nahdlatul Ulama (NU) kultural asal Lampung, menyampaikan pandangannya mengenai dampak yang menurutnya muncul dari polemik nasab Ba’alwi yang berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam ceramah yang beredar di media sosial, Suparman menilai pembahasan mengenai nasab tidak hanya berkaitan dengan persoalan silsilah keluarga, tetapi juga memiliki implikasi terhadap kajian sejarah, pendidikan, dinamika politik, hingga kehidupan sosial-keagamaan.
Menurutnya, polemik tersebut telah mendorong masyarakat untuk semakin kritis dalam menelaah berbagai narasi sejarah yang berkembang di Indonesia.
Polemik Nasab Dinilai Membuka Ruang Kajian Sejarah
Suparman mengatakan masih ada sebagian masyarakat yang mempertanyakan manfaat diskusi mengenai polemik nasab. Menurutnya, pertanyaan tersebut bisa muncul karena belum memahami substansi persoalan atau memiliki pandangan yang berbeda terhadap kajian yang sedang berkembang.
Ia berpendapat bahwa salah satu dampak terbesar dari polemik tersebut adalah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kajian sejarah.
Dalam ceramahnya, Suparman mencontohkan adanya sejumlah narasi mengenai sejarah Nahdlatul Ulama (NU) yang menurutnya perlu dikaji secara kritis melalui penelitian akademik. Ia berpandangan bahwa setiap klaim sejarah semestinya diuji berdasarkan sumber dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagi generasi mendatang.
Menurutnya, pelurusan sejarah merupakan salah satu manfaat yang ia lihat dari berkembangnya diskusi mengenai nasab.
Klaim Sejarah Bangsa Perlu Dikaji Secara Akademik
Selain membahas sejarah organisasi keagamaan, Suparman juga menyinggung berbagai narasi mengenai sejarah bangsa Indonesia yang menurutnya berkembang di ruang publik.
Ia menyebut adanya klaim yang mengaitkan sejumlah tokoh nasional, proses Islamisasi Nusantara, hingga berbagai peristiwa sejarah dengan kelompok Ba’alwi. Menurut Suparman, seluruh narasi tersebut sebaiknya diteliti melalui pendekatan sejarah yang terbuka terhadap berbagai referensi.
Dalam pandangannya, masyarakat perlu memperoleh informasi sejarah yang dibangun berdasarkan penelitian sehingga setiap klaim dapat diuji secara ilmiah.
Pandangan Mengenai Wali Songo dan Manuskrip Sejarah
Dalam kesempatan tersebut, Suparman juga menyampaikan pandangannya mengenai asal-usul Wali Songo.
Ia berpendapat bahwa asal-usul Wali Songo perlu terus dikaji melalui manuskrip, dokumen sejarah, dan penelitian akademik. Ia juga menyinggung adanya pembahasan mengenai penelitian DNA yang menurutnya menjadi bagian dari diskursus tersebut.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi yang disampaikan dalam ceramahnya dan hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan di kalangan peneliti maupun masyarakat.
Soroti Narasi Makam Bersejarah
Suparman turut membahas keberadaan sejumlah makam yang menurutnya tidak memiliki dasar sejarah yang kuat.
Ia mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ziarah ataupun aspek ekonomi, tetapi menurut pandangannya juga menyangkut narasi sejarah Islam Nusantara.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mempelajari berbagai referensi sebelum mengambil kesimpulan mengenai isu yang berkembang.
Kajian Nasab Dinilai Berpengaruh terhadap Dinamika Politik
Dalam ceramahnya, Suparman juga mengaitkan berkembangnya kajian nasab dengan dinamika politik nasional.
Menurut penilaiannya, setelah kajian mengenai nasab semakin luas diperbincangkan, penggunaan klaim keturunan Nabi sebagai sarana mobilisasi massa dalam kepentingan politik disebutnya mengalami penurunan.
Ia menyebut nama KH Imaduddin Utsman Albantani sebagai salah satu tokoh yang menurutnya memiliki kontribusi dalam berkembangnya diskursus mengenai penelitian nasab.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pribadi Suparman terhadap dinamika sosial-politik yang berkembang di Indonesia.
Pengalaman Sejumlah Pesantren di Lampung
Dalam bagian lain ceramahnya, Suparman mengaku memperoleh informasi dari sejumlah pengasuh pesantren di Lampung mengenai praktik yang ia sebut sebagai “pendawiran”.
Menurut pengakuannya, sebelum polemik nasab berkembang, beberapa pesantren mengaku pernah didatangi pihak yang mengatasnamakan keturunan Nabi untuk meminta bantuan dengan cara yang dianggap memaksa.
Suparman menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya dari para kiai tersebut, praktik itu disebut mengalami penurunan setelah diskusi mengenai nasab semakin meluas.
Pernyataan tersebut merupakan pengalaman yang ia sampaikan berdasarkan informasi yang diterimanya dari sejumlah pengasuh pesantren.
Pentingnya Verifikasi Klaim Nasab
Selain membahas sejarah dan dinamika sosial, Suparman juga menyampaikan pandangan keagamaan mengenai pentingnya menjaga kemurnian nasab Rasulullah SAW.
Ia mengutip sejumlah literatur ulama yang menurutnya menekankan pentingnya penelitian terhadap setiap klaim keturunan Nabi agar masyarakat memperoleh kejelasan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, siapa pun yang mengaku sebagai keturunan Nabi seharusnya dapat menunjukkan bukti yang jelas sehingga tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.
Lima Manfaat Polemik Nasab Menurut Ustaz Suparman
Pada bagian akhir ceramahnya, Suparman merangkum lima manfaat yang menurut pandangannya muncul dari polemik nasab, yaitu:
- Meningkatnya kajian terhadap sejarah Nahdlatul Ulama.
- Meningkatnya perhatian terhadap sejarah bangsa Indonesia.
- Berkurangnya praktik yang ia sebut sebagai pendawiran.
- Menurunnya penggunaan klaim nasab dalam mobilisasi politik menurut penilaiannya.
- Mendorong masyarakat untuk menghindari praktik feodalisme dalam kehidupan beragama menurut pandangannya.
Ajak Diskusi dengan Adab dan Berdasarkan Penelitian
Menutup ceramahnya, Ustaz Suparman Abdul Karim mengajak masyarakat untuk terus mempelajari sejarah Islam, sejarah bangsa Indonesia, serta persoalan nasab melalui penelitian yang didasarkan pada data.
Ia juga mengimbau agar perbedaan pandangan mengenai polemik nasab disikapi dengan adab, kesabaran, serta menghindari tindakan kekerasan maupun persekusi terhadap pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Menurutnya, diskusi mengenai nasab merupakan bagian dari upaya menjaga kemuliaan nasab Rasulullah SAW sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarah yang berkembang di Indonesia.
Versi ini menggunakan gaya berita yang lebih netral dengan atribusi yang jelas seperti “menurutnya”, “ia berpendapat”, dan “dalam pandangannya”, sehingga tidak menyajikan klaim-klaim yang masih diperdebatkan sebagai fakta yang telah terbukti. Ini juga lebih sesuai dengan standar jurnalistik sekaligus tetap ramah SEO.




